Kendaraan Besar Sulit Manuver, Simpang Tegalturi Perlu Dinormalisasi

Lampu lali lintas. - Solopos/M. Ferri Setiawan
02 Oktober 2020 06:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Rencana pengembangan Taman Pintar II di wilayah selatan Kota Jogja juga turut mempertimbangkan akses jalan. Tingginya potensi lalu lalang kendaraan besar seperti bus pariwisata, membuat Dishub Kota Jogja berencana lakukan normalisasi simpang Jl. Tegalturi, Giwangan.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Jogja, Windarto sudah mengajukan permohonan pengadaan lahan ke Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Jogja untuk normalisasi simpang Jl. Tegalturi. Permintaan normalisasi itu bukan tanpa dalih.

Baca juga: Jalur Wisata Mangunan Minim Penerangan

Windarto menyebutkan normalisasi dibutuhkan karena adanya potensi masuknya kendaraan besar saat Taman Pintar II dibuka. "Karena kebutuhannya adalah memang untuk Taman Pintar II pasti ada kendaraan besar yang akan masuk Jl. Tegalturi," terangnya pada Rabu (1/9/2020).

Dijelaskan Windarto simpang Tegalturi sulit untuk manuver kendaraan besar dari arah selatan menuju ke barat. "Kita tahu manuver kendaraan besar agak susah ya dari selatan ke barat, makanya disitu perlu radius tikung yang cukup sehingga dibutuhkan normalisasi di sana," jelasnya.

Windarto melanjutkan, untuk membuat radius tikung yang bagus diperlukan penambahan lahan. "Nah satu-satunya lahan yang di sana itu rumah yang pojok itu, untuk progresnya kita menyarankan seperti itu, tapi progres yang lain lain itu ada di PU," ujarnya.

Baca juga: PNS Sleman Tertipu: Uang Rp300 Juta Ditaburi Bunga, Malah Berubah Jadi Kertas

Sebenarnya radius tikung sisi selatan maupun utara simpang Tegalturi tidak begitu bagus. Pasalnya menurut Windarto saat menikung le arah Jln. Tegalturi jarak pandang pengendara terbatas karena tertutup bangunan. "Dengan radius tikung yang kurang bagus semua, tapi yang prioritas yang selatan, menyongsong Taman Pintar II," terangnya.

Lebih lanjut Windarto menerangkan jika kendaraan dari arah utara dimungkinkan belok ke barat. Menurutnya kendaraan dari arah utara yakni lalu lintas kiri sehingga manuver masih dimungkinkan belok karena masih ada ruangan.

"Tapi kalau dari selatan sudah mepet jalan, kita cari yang paling minimalis, lahan harus dinormalisasi karena sudut pandangnya hampir enggak ada karena ada bangunan yang sudutnya hampir 90 derajat semua," ungkapnya.

Normalisasi simpang turi diharapkan dapat memungkinkan bus yang melintas ke arah simpang Tegalturi. "Kalau bus gede dari selatan ke barat itu sekarang itu manuvernya menghabiskan jalan karena radiusnya kurang, sehingga perlu perbaikan simpang di sana," ujarnya

Meski direncanakan normalisasi, hal itu tidak akan mengubah arus kendaraan. "Kalau amdal lalinnya tidak [ada perubahan], di situ bisa parkir beberapa bus, nanti bisa pinjam di Pasar Ikan, support area parkir di sana, jadi sementara prioritas normalisasi tersebut," paparnya.

Pihaknya hanya merekomendasikan arah bis dari Jl Pramuka dan Jl. Imogiri supaya tidak terlalu banyak pengorbanan. "Nanti alurnya Menuju kesana dari Jl. Pramuka dan Jl. Imogiri," tanda.

Sebelumnya Kepala Bidang Pertanahan, Dinas Pertanahan dan tata Ruang Kota Jogja, Sarmin menyampaikan ada delapan proyek pengadaan lahan di Kota Jogja yang akan dilangsungkan di tahun 2020, salah satunya normalisasi simpang Tegalturi. Dijelaskan Sarmin, PAGU dari delapan proyek pengadaan lahan tersebut mencapai Rp20,1 miliar.

Dijelaskan Sarmin saat proses pengadaan lahan masih dalam tahap pra-verifikasi data. Pihaknya telah mengundang masing-masing pemilik lahan untuk dilakukan proses pencermatan awal. Dia menambahkan jika pencermatan awal dilakukan untuk menekan potensi gagal pengadaan lahan sehingga setelahnya dapat doaku apprasial.