Sekolah Film Kulonprogo Sukses Produksi 4 Film Pendek, Ini Inti Ceritanya

Jumpa pers peluncuran empat film pendek karya Siswa Sekolah Film Kulonprogo di Taman Budaya Kulonprogo, Pengasih, Jumat (23/10/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
24 Oktober 2020 05:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Selama empat bulan mengikuti pelatihan, siswa Sekolah Film Kulonprogo binaan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulonprogo berhasil memproduksi empat film pendek. Film tersebut akan dijadikan sebagai media promosi daerah.

"Setelah kurang lebih empat bulan menjalani pelatihan dengan mentor yang berpengalaman di bidang perfilman, akhirnya para siswa Sekolah Film Kulonprogo edisi kedua 2020 berhasil memproduksi empat buah film pendek masing-masing berjudul Juang, Manah, Gumun dan Teguh,” kata Kasi Seni dan Film Kundha Kabudayan Kulonprogo, Gunawan Edi Nugroho, saat peluncuran film di Taman Budaya Kulonprogo, Pengasih, Jumat (23/10/2020).

Keempat film yang produksinya didanai Dana Keistimewaan DIY berdurasi sekitar 25 menit. Seluruhnya mengangkat potensi yang ada di Kulonprogo, mulai dari pariwisata, budaya, olahraga, hingga kesenian yang dibalut dengan kearifan lokal serta problematika daerah.

Dalam film berjudul Juang, penonton disuguhi bagaimana perjuangan seorang pelajar bernama Juang dalam menemukan arti kedamaian. Juang digambarkan sebagai pentolan pelajar yang gemar tawuran. Namun di akhir cerita, Juang akhirnya sadar bahwa tidak ada yang lebih baik dari kedamaian.

Film berjudul Manah menggambarkan olahraga panahan yang dipadukan dengan kegiatan jemparingan. Jemparingan sendiri merupakan olahraga panahan khas Kerajaan Mataram. Olahraga ini berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau dikenal juga dengan jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta.

Untuk film Gumun mengisahkan tentang warga desa yang terlalu kagum dengan megahnya Yogyakarta International Airport (YIA). Namun kekaguman yang berlebihan itu justru tidak baik bagi masyarakat. "Dalam film ditekankan agar masyarakat jangan hanya kagum, tetapi juga bisa terlibat langsung dalam peningkatan ekonomi seiring hadirnya YIA," ujar Gunawan. Adapun film Teguh bercerita tentang drama keluarga perdesaan. Film ini memiliki tokoh utama bernama Teguh yang selalu teguh dalam menghadapi setiap cobaan.

Salah satu mentor Sekolah Film Kulonprogo, Agoes Kencrot, menambahkan pada edisi kedua tahun ini materi yang diberikan kepada 65 siswa jauh lebih banyak daripada edisi 2019. Selain memberikan pelatihan soal tata cara produksi film, siswa juga diajak untuk mengenal bagaimana caranya membuat production house (PH). Setelah itu mengajukan PH ke Disbud Kulonprogo, untuk mendapatkan SK resmi.

"Setelah dapat SK setiap kelompok yang berjumlah empat tim masuk ke sesi praproduksi meliputi pembuatan konsep, naskah, skenario, kemudian dilanjutkan tahap produksi, editing dan penayangan. Nah, nanti setelah itu juga diajarkan tentang bagaimana caranya mendistribusikan film yang sudah jadi ini," jelas Agoes.

Salah satu siswa sekolah film yang menjadi sutradara film Gumun, Bambang Jati Asmoro, mengatakan banyak ilmu tentang dunia perfilman yang ia peroleh. "Semoga bisa benar-benar diterapkan," ujar pria asal Kapanewon Pengasih itu.