Gunungkidul Kampanye Tanam Bambu untuk Atasi Lahan Kritis

Foto Ilustrasi penanaman bambu di Hutan Wanagama, Desa Banaran, Kecamatan Playen. - Harian Jogja/David Kurniawan
03 Desember 2020 14:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, SEMIN–Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berkomitmen melestarikan tanaman bambu. Pelestarian ini tidak hanya untuk menjaga ketersediaan bahan baku kerajinan, tapi juga berfungsi untuk mencegah lahan kritis di masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, upaya penanaman dilakukan dengan gerakan menanam 1.000 bambu wuluh di Dusun Ngepoh, Kalurahan Semin pada Rabu (2/12). Gerakan penanaman ini dilakukan bersama-sama dengan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup DIY serta kelompok masyarakat di Kalurahan Semin.

Menurut dia, penanaman ini sangat bermanfaat. Di satu sisi keberadaan bambu ini bertujuan menjaga ketersediaan bahan baku kerajinan berbahan bambu. Namun, di sisi lain tanaman ini memiliki fungsi untuk normalisasi lahan kritis.

BACA JUGA : Lahan Kritis di Gunungkidul Capai 1.544 Hektare

Oleh karenanya, sambung Raharjo penanaman dipilih di lokasi-lokasi yang kritis, salah satunya di bantaran sungai yang ada di Dusun Ngepoh. “Jadi tanaman bambu memiliki banyak fungsi karena bisa juga menjadi sarana konservasi air serta untuk menanggulangi longsor,” kata Raharjo, Kamis (3/12/2020).

Lurah Semin, Tri Sunarto mengatakan, Dusun Ngepoh memiliki potensi kerajinan berbahan bambu yang sangat potensial. Hasil dari kerajinan masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan aneka kerajinan di wilayah DIY, namun juga sudah menyasar ke pasar nasional hingga mancanegara. “Negara-negara eropa menjadi salah satu tujuan pemasaran kerajinan asal wilayah Semin. Salah satunya dipasok dari Dusun Ngepoh,” katanya.

Meski demikian, Tri Sunarto mengakui para perajin masih sering kesulitan mendapatkan bahan baku. Hal ini dikarenakan, tanaman bambu yang ditanam masyarakat hanya mampu memenuhi kebutuhuan sebesar 30%. Sedangkan sisanya yang 70% masih banyak didatangkan bambu dari luar daerah seperti Boyolali, Klaten hingga wilayah Jawa Timur. “Satu truk penuh dengan muatan bambu nilainya bisa mencapai Rp20 juta,” ujarnya.

BACA JUGA : Tak Hanya Ekonomis, Bambu Bisa Atasi Lahan Kritis

Ia berharap dengan gerakan menanam bambu ini bisa mencukupi kebutuhan bahan baku kerajinan di wilayahnya. “Sudah disiapkan lahan seluas 30 hektare. Untuk tahap awal, lahan yang ditanami bambu wuluh sebanyak 1.000 batang seluas lima hektare,” katanya.