Kolaborasi Riset Perguruan Tinggi Dibutuhkan untuk Memperkuat Pertahanan

Pelaksanaan webinar yang digelar AAU, Rabu (2/12/2020). - Ist/AAU.
04 Desember 2020 10:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Akademi Angkatan Udara menggelar webinar Nasional Senastindo 2020 yang bertajuk Peran Riset dan Inovasi dalam mendukung Teknologi dan Industri Pertahanan Nasional pada Era Revolusi Industri 4.0, Rabu (2/12/2020). Seminar ini bertujuan untuk mencari solusi melalui  kolaborasi riset antara AAU dengan beberapa perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kemampuan dan kemandirian industri pertahanan. 

Gubernur AAU Marsda TNI Nanang Santoso menjelaskan TNI Angkatan Udara sebagai komponen utama alat pertahanan negara di udara menitikberatkan perkembangan teknologi kedirgantaraan dalam memperkuat alat utama sistem senjata (Alutsista), khususnya teknologi pertahanan dalam konteks perang modern. Di mana lebih mengandalkan sistem otomatisasi dan teknologi informasi, menuntut suatu negara  tak terkecuali Indonesia untuk mengembangkan teknologi berbasis digital. Pihaknya mengakomodasi berbagai pemikiran strategis dalam mengembangkan riset dan inovasi dalam mendukung teknologi pertahanan nasional pada era revolusi industri 4.0.  

Baca juga: Peneliti: Antibodi Virus Corona Bertahan 6 Bulan

"Perpaduan antara sistem otomatisasi dan teknologi informasi merupakan bagian dari revolusi industri 4.0, yang berdampak besar terhadap sistem dan strategi pertahanan," katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com Kamis (3/12/2020).

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan ekosistem industri pertahanan nasional agar tanggap terhadap perubahan lingkungan strategis. Oleh karena itu mulai sekarang sebaiknya berinvestasi untuk mengembangkan teknologi pertahanan yang mumpuni. "Agar kita menjadi bangsa mandiri dan berdikari," ucapnya.

Rektor Universitas Gajah Mada Profesor Panut Mulyono dalam kesempatan itu memaparkan pemikirannya tentang inovasi merupakan produk dari riset melalui proses kolaborasi. Perguruan tinggi sebagai basis riset tidak bisa berdiri sendiri, namun harus melibatkan berbagai pihak lain. 

"Baik itu pemerintah maupun sektor industri untuk bersinergi dan berkolaborasi  agar terwujud hasil-hasil inovasi yang sarat dengan teknologi," ujarnya.

Baca juga: Ketua DPR Puan Maharani Minta Pemerintah Evaluasi Strategi Penanganan Covid-19

Rektor Universitas Sebelas Maret Profesor Jamal Wiwoho menilai pandangan tentang inovasi teknologi industri pertahanan untuk menghadapi perubahan karakter perang. Kecerdasan militer adalah keniscayaan, oleh karena itu inovasi teknologi industri pertahanan dan profesionalisme TNI menjadi sebuah kebutuhan mutlak untuk mewujudkan soliditas pertahanan masa depan Indonesia agar menjadi bangsa yang mandiri.