Sinar Kemerahan Terlihat di Puncak Merapi, Ini Penjelasan BPPTKG

Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DIY, Rabu (18/11/2020). - Antara/Andreas Fitri Atmoko
03 Januari 2021 14:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas Gunung Merapi terus meningkat. Pada Minggu (3/1/2021), Merapi memuntahkan guguran material dengan jarak luncur 1,5 kilometer.

Selain ke Kali Lamat, Magelang, Jawa Tengah, guguran material Merapi juga terlihat meluncur di Kali Senowo Magelang. Sama halnya dengan Kali Lamat, jarak luncur guguran material ke Kali Senowo juga 1,5 km.

BACA JUGA: Guguran Merapi Minggu Pagi Mengarah ke Kali Lamat

Berdasarakan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), guguran material Merapi terekam dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan pada pukul 05.54 WIB, Minggu pagi. Sementara guguran ke Kali Senowo terjadi pada Minggu siang.

Hingga Minggu siang, BPPTKG mencatat Merapi mengalami 35 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-61 mm dan durasi 16-151 detik, 41 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-8 mm dengan durasi 11-16 detik. Terjadi pula 189 gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3-20 mm dengan durasi 5-9 detik, serta 43 gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 40-75 mm selama 13-32 detik.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan sepanjang Sabtu (2/1/2020) terdengar guguran sebanyak 10 kali dari PGM Babadan dengan intensitas lemah hingga sedang. Pihaknya juga mencatat 92 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-56 mm dan lama gempa 8-137 detik. Total tercatat 119 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-23 mm, dan lama gempa 6-60 detik. Adapun gempa hybrid/fase banyak tercatat 467 kali dengan amplitudo 2-26 mm, S-P 0.3-0.5 detik dan lama gempa 4-12 detik serta 100 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 35-75 mm, dan lama gempa 9-47 detik.

"Untuk laju rata-rata deformasi Merapi saat ini sebesar 21 cm per hari (dalam tiga hari)," katanya melalui keterangan resminya, Minggu (3/1/2021).

BACA JUGA: BPJS Kesehatan Buka Lowongan 11 Posisi, Syaratnya D-3 hingga S1

Dalam tiga hari terakhir, aktivitas Merapi mengalami kenaikan. Hal ini terlihat dari laporan akvititas kegempaan Merapi pada Kamis (31/12/2020) ketika terjadi 55 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-68 mm dan lama gempa 11-141.3 detik, 95 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3-28 mm, dan lama gempa 9.4-29 detik, dan 2 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 6 mm, dan lama gempa 13.8 detik. Merapi juga mengalami 400 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3-32 mm, S-P 0.3-0.5 detik dan lama gempa 5-11 detik, 120 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 30-75 mm, dan lama gempa 8-52 detik serta sekali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 4 mm.

Sehari setelahnya, Jumat (1/1/2021) Merapi mengalami 108 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-65 mm dan lama gempa 8-137 detik, 115 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-19 mm, dan lama gempa 7-60 detik dan sekali gempa Low Frequency dengan amplitudo 5 mm, dan lama gempa 10 detik. Adapun gempa hybrid/fase banyak tercatat 378 kali dengan amplitudo 2-30 mm, S-P 0.3-0.5 detik dan lama gempa 4-11 detik. Sementara terjadi sebanyak 126 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 36-75 mm, dan lama gempa 9-51 detik.

BACA JUGA: Setelah Menghina Satgas Covid-19, 3 Pemuda Ini Minta Maaf Sambil Nangis Sesenggukan

Hanik juga menepis panilaian warga yang sudah melihat adanya titik api diam di Merapi. Menurut Hanik, warna kemerahan yang terlihat di puncak gunung tersebut merupakan suhu asap yang mengalami peningkatan. "Sinar yang terlihat menunjukkan adanya peningkatan suhu asap yang keluar di sekitar Lava1997. Hal ini terjadi seiring dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir,"katanya.

BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak. Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan. BPPTKG meminta pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

"Saat ini potensi bahayanya masih sama, yaitu berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awanpanas sejauh maksimal 5 km," ujarnya.