Indeks Pembangunan Manusia DIY 2020 Menurun

Ilustrasi - Sputnik
04 Januari 2021 17:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY 2020 menurun sebesar 0,02 persen. Penurunan ini merupakan yang pertama dalam satu dekade belakang. Saat ini IPM DIY berada pada poin 79,97 dan masih dalam kategori sangat tinggi.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik DIY Heru Margono, penghitungan IPM menggunakan tiga dimensi dasar seperti angka harapan hidup saat lahir, pengetahuan atau rata-rata orang bersekolah, dan standar hidup layak dari pengeluaran perkapita. “Untuk IPM tahun 2020 mengalami penurunan yang disebabkan oleh Covid-19. DIY selalu mengalami pertumbuhan positif dari sejak 2010 kecuali untuk satu tahun terakhir,” kata Heru dalam pernyataan secara daring pada Senin (4/1/2020).

Untuk ukuran perdimensi IPM DIY 2020, usia harapan hidup berada pada angka 74,99 tahun. Rata-rata lama sekolah 9,55 tahun dengan harapan lama sekolah 15,59 tahun. Sementara, pengeluaran per kapita per tahun sebanyak Rp14,02 juta. Dari beberapa dimensi tersebut, satu-satunya yang mengalami penurunan di tahun 2020 yaitu pengeluaran per kapita masyarakat sebesar -2,63 persen.

Untuk perkabupaten atau kota, IPM Jogja berada pada poin 86,61 (kategori sangat tinggi), Sleman 83,84 (sangat tinggi), Bantul 80,01 (sangat tinggi), Kulonprogo 74,46 (tinggi), dan Gunungkidul 69,98 (sedang). “IPM merupakan indikator jangka panjang, sehingga perlu hati-hati dan cermat dalam memaknainya,” kata Heru.

Dalam laporannya, Heru juga memaparkan Nilai Tukar Petani (NTP) DIY pada bulan Desember yang mengalami penurunan -0,53 persen dari bulan sebelumnya. NTP turun dari 100,24 persen menjadi 99,71 persen.

Peningkatan terjadi pada Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP). “Walaupun tidak besar, dari 100,14 di November 2020 menjadi 100,15 pada Demsember di tahun yang sama,” kata Heru.

Untuk NTP secara nasional dengan 34 provinsi, sebanyak 26 provinsi mengalami kenaikan. Adapun kenaikan terbesar di Riau dengan angka 2,37 persen. “Delapan provinsi lainnya, NTP mengalami penurunan. Paling besar penurunannya di Aceh sebesar -1,12 persen,” kata Heru.

Terkait harga gabah di DIY, harga tertinggi tercatat di Moyudan, Sleman dengan harga Rp5.800/kilogram dengan kualitas GKG Virietas Cianjur. Untuk harga terendah yaitu Rp4.250/kilogram di Sewon, Bantul dengan jenis gabah luar kualitas vaietas IR 64.

Selain IPM dan NTP, Heru juga memaparkan data Pariwisata dan Transportasi Udara di DIY bulan November 2020. Untuk lama menginap pada November 2020 rata-rata 1,64 hari. Angka ini naik 0,02 hari dari bulan sebelumnya. Rata-rata lama menginap tertinggi terdapat pada hotel bintang lima dengan angka 1,90 hari. “Sementara hotel bintang dua di angka 1,48 hari atau paling rendah di antara hotel berbintang di DIY,” kata Heru.

Berbeda dengan durasi lama menginap, tingkat penggunaan kamar hotel pada November mengalami penurunan 0,53 persen. Jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang sebanyak 256.017 orang, turun 0,17 persen dari Oktober 2020. “[Penginap] didominasi tamu Indonesia dengan 254.113 orang, sementara tamu asing di DIY pada November 2020 tecatat 1.904 orang,” kata Heru.

Untuk transportasi udara, Bandara Adisudjipto pada November 2020 menerima kedatangan sebanyak 5.775 penumpang. Jumlah itu berasal dari 160 penerbangan domsetik. Sementara untuk kedatangan penumpang di Yogyakarta International Airport (YIA), ada 79.392 penumpang dari 923 penerbangan domestik dan satu penerbangan internasional. Secara total, kedatanagn penumpang menggunakan transportasi udara mengalami kenaikan 24,40 persen dengan total 85.167 penumpma dari bulan sebelumnya.

Untuk keberangkatan, di Bandara Adisudjipto berjumlah 6.134 penumpang dari 159 penerbangan domestik. Sementara di Bandara YIA memberangkatkan 81.160 penumpang dari 925 penerbangan domestik dan satu internasional.

“Keberangkatan penumpang naik [dari Oktober] 56.534 penumpang menjadi 87.294 [pada November],” kata Heru.