Muncul Titik Api Diam, Kapan Merapi Erupsi? Ini Penjelasan BPPTKG

Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DIY, Rabu (18/11/2020). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
05 Januari 2021 16:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Otoritas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan lava pijar disertai munculnya titik api diam sebagai pertanda dekatnya erupsi Gunung Merapi sudah terlihat.

Perekayasa Ahli Madya BPPTKG Yogyakarta, Dewi Sri Suyadi mengatakan jika fenomena titik api diam yang mulai teramati di Gunung Merapi merupakan pertanda awal terkait dengan erupsi. Titik api diam menjadi parameter yang signifikan selain guguran yang selama ini terjadi di Gunung Merapi.

"Mudah-mudahan ini menjadi pertanda awal ya, tidak hanya sekedar guguran menuju ke aarah erupsi. Waktunya kapan kita belum tahu, apakah erupsinya ada di situ [sisi barat daya bekas lava 1997] belum tentu," jelasnya, Selasa (5/1/2021).

BACA JUGA: Kampus di Jogja Masih Kuliah Daring, Nasib SMA/SMK Bakal Sama

Terkait dengan lava pijar, Lurah Glagaharjo Suroto mengatakan, lava pijar itu menjadi acuan bagi pemerintah desa untuk meminta agar warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, untuk turun mengungsi, utamanya di malam hari.

"Saya lihat perkembangan dari malam memang sudah banyak yang turun, yang tinggal di atas itu anak muda dan warga produktif yang sehat kan gitu. Per tadi malam Senin (4/1/2021) malam yang mengungsi di barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, 324, itu sudah tambah banyak, sebelumnya rata-rata itu kan di angka 220 naik turun," ungkap Suroto.

Penambahan angka pengungsi di barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, juga tidak lain atas aktivitas guguran di Gunung Merapi yang dirasakan oleh warga. "Ya, karena tiga hari yang lalu sempat ada guguran besar, maka kita ambil keputusan jika aktivitas Gunung Merapi semakin tajam, ya kita arahkan untuk warga untuk turun ke barak pengungsian," jelasnya.