Pemkab Bantul Jamin Stok Kedelai Aman Sampai 2 Bulan

Kedelai di rumah produksi tahu dan tempe milik Mamik Sudiyanto di Kapanewon Temon, Kulonprogo, Senin (4/1/2021). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
07 Januari 2021 14:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Pemerintah Kabupaten Bantul memastikan stok kedelai masih aman sampai dua bulan ke depan meski ada kenaikan harga di pasaran.

Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta mengatakan, dari hasil monitoring di sejumlah distributor kedelai di Bantul stok kedelai masih melimpah, salah satunya di distributor Pundong masih tersedia 40 ton kedelai impor dan kedelai lokal.

BACA JUGA : Pemkab Bantul Klaim Stok kedelai Cukup, Tapi Aneh Harga

Kemudian dua distributor di Jalan Bantul juga masih tersedia 5-6 ton kedelai impor, "Jadi sebenarnya ketersediaan kedelai masih aman sampai dua bulan ke depan," kata Sukrisna, saat dihubungi Kamis (7/1/2020).

Pihaknya belum mengetahui pasti penyebab kenaikan ke delai terutama kedelai impor. Namun dia menduga kenaikan kedelai impor di pengaruhi pasar global seperti kedelai dari Amerika yang diborong Cina sehingga berimbas terhadap kenaikan harga kedelai di Indonesia termasuk di Bantul khususnya.  Dari hasil monitoring di pasar kedelai impor terdapat kenaikan dari Rp7.500 menjadi Rp9.000 per kilogram.

Kenaikan kedelai tersebut, diakui Sukrisna juga tidak memengaruhi stok tahu dan tempe di pasaran.  Dia melihat stok tahu dan tempe masih banyak di sejumlah pasar, atau tidak mengalami kelangkaan.  Hanya ukurannya yang dikurangi.

"Misalnya tempe industri rumahan yang harganya Rp3.000 tetap ada,  ukurannya diperkecil dari yang biasanya tiga ons menjadi 2,5 ons," kata Sukrisna.

Lebih lanjut Sukrisna tidak bisa berbuat banyak soal kenaikan harga kedelai karena kedelai impor kebijakannya ada di tingkat Pemerintah Pusat dan Pemda DIY.  Namun demikian pihaknya juga bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Pangan,  Kelautan,  dan Perikanan (DP2KP) untuk menggalakkan penanaman kedelai.

BACA JUGA : Harga Kedelai Naik, Bagaimana Nasib Tahu dan Tempe

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DP2KP Bantul, Imawan Ekohandriyanto mengatakan saat ini sudah tidak ada tanaman kedelai di Bantul.  Sebanyak 491 hektare tanaman kedelai ada 2020 sudah selesai dipanen ada Juni dan Agustus lalu. Tanaman kedelai tersebut merupakan bantuan dari pemerintah.

Rencananya tahun ini akan ada bantuan penanaman kedelai sebanyak 700 hektare dengan target hasil panen sekitar 1.000 ton wose atau biji kering.  Namun belum ada kepastian dari Pemerintah Pusat terkait petunjuk teknisnya. Menurut Imawan tanaman kedelai di Bantul selama ini hanya mengandalkan bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah, "Hampir tidak ada petani yang menanam kedelai inisiatif sendiri," kata Dia.

Alasan yang mendasar petani enggan menanam kedelai mandiri karena harga murah.  Sementara pemrosesan pascapanennya dianggap rumit sehingga petani memilih menanam padi yang lebih mudah.  Sejumlah petani yang menanam kedelai mandiri hanya kedelai edamame atau kedelai jepang yang langsung dikonsumsi atau tidak bisa digunakan sebagai bahan tempe dan tahu, "Itu juga jumlahnya sedikit,"

Dia menegaskan faktor utama petani belum tertarik menanam kedelai karena harga yang hanya dibawah Rp8.000 per kilogram, "Mungkin kalau harganya di atas Rp8.000 per kilogram saya kira banyak yang tertarik," ungkap Imawan.