44.000 Dosis Vaksin Covid-19 Tahap Kedua Tiba di DIY

Diskusi bertajuk "Vaksin Aman Asalkan Tetap Jalankan Prokes"/Harian Jogja
25 Januari 2021 19:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sebanyak 44.000 Dosis Vaksin Covid-19 Sinovac tahap kedua untuk SDM Kesehatan sudah tiba di DIY. Distribusi vaksin ini diprioritaskan untuk Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan berdasarkan informasi yang dia terim Pemerintah Pusat kembali mendistribusikan vaksin Covid-19 ke Dinkes DIY pada Minggu (24/1) malam. "Vaksin yang diterima Dinkes DIY tadi (kemarin) malam sejumlah 44.000 dosis. Prioritas untuk tiga kabupaten yang kemarin pelaksanaan vaksinasi ditunda," katanya usai menjadi narasumber dalam Diskusi Online kerjasama Harian Jogja dengan Satgas Covid-19 Sleman, Senin (25/1/2021).

Joko menyebutkan, untuk proses vaksinasi SDM Kesehatan di Sleman sejak Januari hingga 25 Januari ini capaiannya sudah menyentuh sekitar 48%. Dari 10.000 dosis vaksin yang diterima pada tahap pertama, jumlah SDM Kesehatan yang divaksin mencapai 4.300 orang. "Sebenarnya 12.342 orang SDM Kesehatan yang menjadi sasaran tahap pertama ini. Hanya saja, kami menerima 10.000 dosis. Untuk tahap kedua stok vaksin untuk Sleman kemungkinan baru dikirim pada Rabu (27/1/2021)," ujar Joko.

BACA JUGA: Bolehkah Pasien Covid-19 Minum Obat Herbal? Begini Penjelasan Dokter

Joko mengakui, awalnya proses vaksinasi di Sleman ditargetkan selesai dalam waktu lima hari sejak kick off pada 14 Januari lalu. Namun akibat ada kendala teknis pendistribusian SDM Kesehatan ke lokasi fasilitas kesehatan yang melayani vaksinasi, Dinkes pun melakukan perubahan strategi. Yakni, dengan memfokuskan pemberian vaksinasi bagi SDM Kesehatan di mana mereka bekerja.

"Sebelumnya kan SDM Kesehatan diberi vaksin sesuai yang terdaftar di Faskes tersebut. Kami lihat ini tidak berjalan optimal sehingga vaksin yang tersisa di 25 puskesmas dan rumah-rumah sakit kami tarik dengan memfokuskan pemberian vaksin di rumah sakit besar," katanya.

Perubahan strategi tersebut pun dinilai efektif karena jumlah SDM Kesehatan yang divaksin bertambah banyak. Bahkan di RSUP Sardjito, katanya membuka lima unit layanan vaksinasi dan mampu melayani 200 SDM Kesehatan dalam waktu sehari. "Dengan perubahan strategi ini, kami targetkan 10.000 SDM Kesehatan sudah divaksin dalam sampai akhir pekan ini. Setelah itu, diberikan kepada yang belum divaksin,"katanya.

Dalam Diskusi Online bertajuk "Vaksin Aman Asalkan Tetap Jalankan Protokol Kesehatan yang dipandu oleh Redaktur Harian Jogja Sugeng Pranyoto itu, Bupati Sleman Sri Purnomo bercerita awal mula terpapar Covid-19. Sampai saat ini pun, Sri belum mengetahui kapan dan dimana ia bisa terpapar Covid-19. Alasannya, sebelum dinyatakan positif Covid-19 Sri mengikuti banyak kegiatan.

Padahal selama ini, Sri disiplin menerapkan protokol kesehatan. Ia mengaku jika saat pertemuan banyak yang meminta untuk selfie dan "memaksa"untuk membuka masker. "Nah ini mungkin keteledoran saya sehingga terpapar Covid-19. Tapi di mana dan dengan siapa, saya pun tidak tahu. Ini menjadi pelajaran bagi saya, kalau kita lengah maka kita dapat mudah terpapar oleh virus itu," ujarnya.

Meski terkonfirmasi Covid-19 setelah divaksin namun Sri menegaskan jika penyebabnya bukan akibat vaksin. Berdasarkan hasil diskusi dengan para pakar pun, Sri mengaku tetap ingin divaksin yang kedua. Baginya, program vaksinasi Covid-19 bisa menjadi solusi untuk keluar dari pandemi Covid-19. "Pemberian vaksin pertama memang belum terbentuk antibodi, jadi tetap dibutuhkan vaksin kedua,"katanya.

Memang ada aturan dari Kemenkes jika penyintas Covid-19 tidak perlu diberi vaksin. Namun demikian, kata Sri berdasarkan diskusi dengan para pakar ia tetap dibolehkan untuk diberi vaksin kedua. Agar pembentukan antibodinya untuk menahan virus Corona bisa lebih kuat. "Ya ada aturan dari Kemenkes seperti itu. Saya pribadi tetap akan meminta vaksin kedua, meskipun nanti bayar tidak masalah," ujar Sri.

Sri mengakui sampai saat ini masih ada kelompok yang menolak atau menyangsikan vaksin Covid-19. Munculnya pro dan kontra soal pemberian vaksin tersebut dinilai wajar. Meskipun begitu, Sri menenmkankan jika pemberian vaksin tersebut menjadi solusi agar masyarakat bisa keluar dari pandemi Covid-19. Ke depan, kata Sri, sebelum program vaksinasi menyentuh masyarakat maka ia akan memassiifkan kampanye vaksinasi.

"Sasaran pertama yang dilakukan tentu saja, adalah kelompok yang tidak menolak. Kami akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk program vaksinasi ini. Namun setelah divaksin protokol kesehatan tetap diterapkan," ujar Sri.

Sementara Jubir Gugus Tugas Covid-19 Sleman, Shavitri Nurmala Dewi menambahkan Pemkab Sleman siap menyukseskan program vaksinasi. Dia berharap agar masyarakat bisa lebih cerdas dan selektif dalam menerima informasi apapun agar terhindar dari hoax. "Masyarakat harus cerdas dalam menerima informasi dan kami menyediakan banyak kanal informasi bagi masyarakat yang membutuhkan," katanya.