Awan Panas Meluncur Puluhan Kali, Hujan Abu Belum Mengguyur Sleman

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
27 Januari 2021 19:07 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Hujan abu erupsi Merapi dilaporkan belum mengguyur wilayah Sleman meski awan panas berkali-kali meluncur pada Rabu (27/1/2021).

Komandan TRC Sleman Sugiyanto menuturkan, sejauh ini sebaran abu belum sampai di wilayah Sleman terutama di kawasan Kalitengah Lor dan Kidul yang jaraknya tak jauh dari Merapi.

Ia menerangkan warga Kalitengah Lor sebelumnya sempat berkumpul sebagai upaya waspada ketika Merapi terjadi erupsi. Tetapi saat ini warga setempat sudah kembali ke kediamannya masing-masing.

"Untuk warga, mereka sebatas siap di titik kumpul dan di pinggir jalan, untuk pergerakan ke barak belum ada sampai saat ini," ujarnya, Rabu (27/1/2021).

"Kalitengah Kidul maupun Lor tidak ada hujan abu. Gerakan angin ke arah timur cukup kencang. Sampai saat ini mandali," tambah Sugiyanto.

Ia menambahkan, saat ini semua lembaga dan komunitas selalu memantau dan mendampingi ke warga.
Baik pemerintah kalurahan dan komunitas yang ada.

"Mulai dari PRB dusun, KSM Glagaharjo , TRC BPBD sleman serta unitlak Kalurahan Glagaharjo," ungkapnya.

Untuk wilayah Turi dan Cangkringan untuk sementara waktu masih dinyatakan aman. Kecuali Padukuhan Turgo, Purwobinangun, Pakem.

Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Sleman Yulianto menuturkan, saat ini mulai berlangsung proses evakuasi warga ke barak pengungsian Purwobinangun Pakem, Sleman dari Padukuhan Turgo, Purwobinangun.

"Data masih dalam update tim," terangnya.

Sementara, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida mengungkapkan, sejak pukul 00.00-14.00 WIB, total Gunung Merapi telah meluncurkan 36 kali awan panas guguran dengan jarak luncur antara 500-3000 m ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak dan Boyong.

Awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo antara 15-60 mm dan durasi 83-197 detik.

Akibat dari kejadian awan panas guguran tersebut, sejumlah lokasi melaporkan hujan abu dengan intensitas tipis hingga tebal, seperti di Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali dan beberapa lokasi di Kabupaten Klaten.

“Hujan abu dapat terjadi sebagai akibat dari kejadian awan panas guguran. Untuk itu masyarakat diharapkan untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik seperti dengan menggunakan masker, kacamata, dan menutup sumber air”, ungkap dia.

Hanik menambahkan, jarak luncur awan panas masih dalam radius bahaya yang direkomendasikan oleh BPPTKG–PVMBG-Badan Geologi, yaitu sejauh 5 km dari Puncak Gunung Merapi pada alur Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di daerah yang di rekomendasikan tersebut.

Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan, di puncak Gunung Merapi.

“Potensi bahaya erupsi Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, yaitu meliputi Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih dengan jarak maksimal 5 km dari puncak. Sedangkan erupsi eksplosif masih berpeluang terjadi dengan lontaran material vulkanik diperkirakan menjangkau radius 3 km dari puncak," tutupnya, dalam keterangan tertulis.

Sumber : Suara.com