Epidemiolog UGM Sebut PPKM Tak Efektif Kendalikan Covid-19, Ini Sebabnya

Ilustrasi - Pixabay
29 Januari 2021 16:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tingginya kasus aktif Covid-19 menunjukkan virus Corona di Indonesia belum bisa dikendalikan. Pemberlakuan Pembatasan kegiaatan Masyarakat (PPKM) yang telah berjalan dua pekan dinilai belum berjalan maksimal dalam mengerem penambahan kasus covid-19.

Pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad, menjelaskan total kasus positif di Indonesia yang melebihi 1 juta perlu direspons pemerintah dengan kebijakan yang lebih serius.

BACA JUGA: Merapi Berpotensi Erupsi Eksplosif, Ini Pernyataan BPPTKG

Saat ini kata dia, kurva pandemi di Indonesia sedang menanjak tinggi. Kurva ini sempat melandai, tetapi ketika mobilitas penduduk mulai dilonggarkan, tingkat penularan pun terus meningkat hingga kini kapasitas rumah sakit tidak lagi mampu menampung semua pasien.

Dalam kondisi seperti ini, pengendalian pandemi memerlukan kebijakan yang tegas terutama dalam pembatasan mobilitas. Ketika penularan sudah begitu masif, penerapan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tidak lagi cukup.

Pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan hingga pukul 19.00 WIB menurutnya tidak bermanfaat jika jumlah orang yang mengunjungi tempat tersebut tidak berkurang secara signifikan. “Yang lebih penting bukan durasinya diperpendek sedikit, tapi lebih pada seberapa banyak orang per satuan waktu yang ada di tempat tersebut,” katanya.

Jumlah kasus yang justru meningkat selama penerapan PPKM menunjukkan kebijakan ini tidak efektif. Kebijakan yang tidak dilakukan secara maksimal bahkan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat.

BACA JUGA: 2 Tahun Menanti, Ratusan PPPK Bantul Akhirnya Dapat SK & Hak Seperti PNS

Guna memperoleh hasil yang diharapkan, diperlukan kebijakan yang mampu menurunkan mobilitas secara masif, setidaknya hingga mencapai 70%. Saat sebagian besar populasi tidak melakukan pergerakan di luar rumah selama dua pekan, maka mereka yang telah tertular dapat sembuh di tempat tinggalnya sendirinya dan tidak sempat menularkan virus kepada orang lain.

“Mereka yang tinggal serumah mungkin bisa tertular, tapi penularannya akan berhenti di rumah tersebut. Baru setelah itu digencarkan lagi test and treat untuk mencari mereka yang masih memiliki kemungkinan menularkan setelah dua pekan,” ujar dia.

Keseriusan pemerintah harus ditunjukkan tidak hanya dalam merancang kebijakan tetapi juga dalam implementasinya. Meski kebijakan seperti PSBB atau PPKM terus diperpanjang tapi tanpa keseriusan dalam implementasinya, maka tujuan pengendalian tidak dapat tercapai.

“Mungkin akan menuai respon negatif dari masyarakat. Namun langkah ini sudah dilakukan di sejumlah negara dan terbukti membuat negara-negara tersebut mampu melewati gelombang pertama pandemi,” katanya.