Pandemi, Taman Budaya Yogyakarta Tetap Bergeliat

Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru-Harian Jogja - Sirojul Khafid
10 Februari 2021 21:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Tidak hanya rapat atau pertemuan, pentas seni virtual juga menjadi pilihan saat pandemi Covid-19. Hal ini pula lah yang terjadi di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Apabila sebelumnya sering ramai oleh para pegiat budaya dan seni yang beraktivitas di seputaran TBY, kini keadaan sekitar gedung tampak sepi.

Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru mengatakan banyak acara, khususnya dari masyarakat umum yang batal terselenggara. Sejak pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020, acara budaya dan seni di TBY langsung turun drastis. Tujuan utamanya tentu menghindari kerumunan guna menghindari penyebaran Covid-19.

Namun kegiatan seni, terutama agenda dari internal TBY tetap berjalan. “Aktivitas di TBY tidak seperti biasanya,” kata Diah saat ditemui beberapa waktu lalu di kantornya. “Kalau kegiatan event kami tetap mengacu pada sistem virtual. Tanpa penonton [langsung di area pertunjukan]. Nanti akan diunggah di media sosial, cetak maupun eletronik di youtube.”

Misalpun acara budaya dan seni tetap berlangsung secara normal, jumlah peserta dan penonton di area pertunjukan sangat terbatas. Hanya undangan tertentu yang masuk dengan protokol kesehatan yang ketat. Akan ada pula penyesuaian dalam penyelenggaraan acara misalnya pameran.

Akan ada durasi maksimal pengunjung berada di area pameran. Sehari bisa juga terdiri dari beberapa sesi untuk menghindari kerumunan.

Selain pandemi sebagai faktor eksternal, menurunnya acara di TBY juga terkait dengan kesiapan penyelanggara. “Kami lihat dulu proposal atau surat izinnya ada enggak, prokesnya juga harus baik. Penitia juga harus bisa memahami tentang keadaan di masa pendemi ini. Kami juga akan pantau [pelaksanaan acaranya],” kata Diah.

Bukan Tanpa tantangan

Dalam sebulan, TBY memiliki agenda internal untuk pementasan setidaknya empat kali. Ada dua kali pentas seni kerakyatan, gelar seni selama dua hari pentas, dan pembinaan seni untuk anak. Semua terlaksana secara daring.

Lantaran bisa disaksikan langsung oleh masyarakat, semua persiapan matang menjadi hal utama. Apabila sinyal terganggu sedikit saja, maka bisa merusak acara. “Kalau terhambat masalah sinyal dan kemudian drop mundur, orang akan berpindah [tayangan yang lain]. Lebih baik tapping saja, akan lebih aman,” kata Diah.

Durasi pertunjukan yang kebanyakan lama juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua penonton mau bertahan sampai akhir pertunjukan. Kecuali untuk orang yang memang memiliki konsen tersendiri terhadap seni, dia akan menonton secara penuh.

Terlepas dari jumlah penonton di media online TBY, poin yang paling utama adalah merespon produk dari para seniman. “Pelaku seni pertunjukan, kalau tidak pentas, terus mau ngapain dia. Mau tidak mau harus kami gelar. Sekarang tidak usah lihat berapa yang lihat [di youtube dan medsos], pentas saja, kasian juga kalau tidak pentas,” kata Diah.

Adanya pementasan seni rutin bulanan juga agar para seniman tetap berkarya. Apabila seniman berhenti berkarya, maka tingkat imajinasi mereka bisa terganggu. Terlebih belum jelas pandemi akan berhenti kapan.

“Terus bergarak sedikit atau banyak. Tetap harus berkarya, jangan tidur, kalau tidur repot. Main saja, tidak usah lihat ada yang nonton atau tidak. Harus diolah terus, jangan sampai berhenti,” kata Diah.

Untuk merespon kondisi ini, Diah sedang mengadakan rapat-rapat dengan para pelaku seni. Ini sebagai upaya menyiapkan agenda tahun 2021. Walaupun penyajiannya mungkin berbeda dari biasanya, tapi kegiatan budaya dan seni tetap perlu berlangsung.

Turun Drastis

Apabila sebelum pandemi, setiap hari selalu saja ada acara di TBY. Entah yang berada di ruang galeri, gedung pertunjukan Societet, atau panggung outdoor. Namun pandemi menurunkan jumlah acara di TBY. “Tahun 2021 ini, sampai sekarang belum ada surat [permohonan izin pertunjukan] yang masuk,” kata Diah.

Selain acara resmi di berbagai ruang pertunjukan, TBY yang memiliki gedung luas tidak jarang menjadi tempat berumpul para seniman. Mereka terbiasanya berlatih atau hanya sekadar diskusi. Diah sering melihat para seniman di teras-teras atau ruang terbuka lain di TBY.

“Mungkin menyadari kondisi seperti ini. Sehingga tidak banyak pertemuan di sini, biasanya ada beberapa yang diskusi. Saya melihat TBY sepi, biasanya tidak pernah sepi seperti ini. Aneh, saya beberapa bulan merasakan,” kata Diah.

Walaupun tidak ada acara, Diah tetap meminta petugas untuk beberapa hari sekali menyalakan sound sistem, genset, dan fasilitas lainnya. “Jangan dibiarin mangkrak terlalu lama. Lampu tetap dinyalain,” katanya.

Diah berharap keadaan bisa membaik, pandemi berakhir, dan bisa berkegiatan secara normal lagi.