Sampah di Laut Gunungkidul Rusak Jaring Nelayan

Supardi (kiri) dan Sunarto nelayan di Pantai Gesing sedang melakukan pemeriksaan terhadap jala yang digunakan untuk menangkap ikan di laut, Rabu (24/2/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan
24 Februari 2021 16:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Nelayan di Pesisir Selatan mengeluhkan banyaknya sampah di lautan. Sampah-sampah ini merusak jaring nelayan.

Salah satu keluhan disuarakan oleh Sunarto, nelayan di Pantai Gesing, Kalurahan Girikarto, Panggang. Menurut dia, sekarang sedang musim ikan sehingga nelayan bersemangat untuk melaut. Namun, banyak sampah yang bisa merusak jaring ikan.

BACA JUGA: Muncul Klaster BKAD, Dinkes Bantul Gandeng BBTKLP untuk Percepat Tracing

“Biasa kalau musim hujan banyak sampah di laut karena menjadi muara dari berbagai aliran sungai,” kata Sunarto kepada Harianjogja.com, Rabu (24/2/2021).

Agar tidak rusak, jaring ditarik lebih cepat dari biasanya. Jaring biasanya dibentangkan selama 1-1,5 jam, namun saat ini maksimal 30 menit untuk kemudian ditarik. “Kalau lama-lama dipasang akan banyak sampah yang masuk dan membuat jaring bisa jebol. Jadi, setiap 30 menit kami tarik untuk kemudian dipasang lagi,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Supardi, nelayan lain di Pantai Gesing. Menurut dia, sampah membuat nelayan harus bekerja ekstra karena harus sering memasang dan menarik jaring lebih cepat dari keadaan normal. “Ini bagian antisipasi agar jaring tidak rusak. Sebab, jika rusak kami harus keluar biaya untuk membuat lagi,” katanya.

Menurut dia, saat sekarang ini sedang panen bawal laut. Sekali melaut nelayan bisa memperoleh hasil tangkapan 15-50 kilogram. Harga bawal laut agak berbeda karena tergantung dengan berat per ekornya. Semakin besar ukuran dan berat ikan, semakin mahal harganya. Sebagai contoh, bawal ukuran 2-3 ons dihargai Rp200.000 per kilogram. Bawal seberat 5-7 ons dihargai Rp300.000.