Strategi Diplomasi Budaya di Kota Yogyakarta

Bincang Budaya : Nglaras (Ngobrol Santai Memadukan Citra Karsa dan Rasa). - istimewa
27 Februari 2021 12:42 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah situasi pandemi yang melanda, dimana posisi Kota Yogyakarta diantara kota-kota dunia? Strategi diplomasi budaya seperti apa yang seharusnya dijalankan oleh masyarakat Kota Yogyakarta di tengah keterbukaan informasi? 

Bahas tuntas tentang strategi budaya Kota Yogyakarta dikemas oleh Pemerintah kota Yogyakarta dalam agenda Bincang Budaya : Nglaras (Ngobrol Santai Memadukan Citra Karsa dan Rasa). Bincang budaya ini merupakan program persembahan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk menyampaikan isu-isu kebudayaan di Kota Yogyakarta yang dikemas lebih kreatif, inovatif dan pastinya adaptif terhadap situasi pandemic.

Tema strategi budaya ini merupakan edisi kedua talkshow yang diproduksi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan disiarkan melalui kanal youtube-nya pada Jumat 26 Februari 2020 pukul 20.00 WIB.

Tamu Nglaras edisi ini adalah Hangga Fathana akademisi di Universitas Islam Indonesia dan Fauzie Helmy seorang fotografer ternama di Yogyakarta. Dipandu oleh Host Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti.

Pandemi telah membawa perubahan besar, konsekuensinya semua kota dan warganya harus beradaptasi dengan keadaan. Modal budaya yang luar biasa menjadi salah satu strategi untuk mengatasinya. Begitu juga diplomasi budaya dapat digunakan menjadi alat untuk memaksimalkan hubungan antar negara.

Sebagaimana kita tahu bahwa di tengah perkembangan dunia yang semakin global, niscaya kita harus menghadapi dengan sikap dan pikiran terbuka, namun tidak lupa dengan budaya sendiri yang kita miliki. Diplomasi budaya adalah suatu keharusan untuk mempertahankan jatidiri.

Sebuah kota, tidak saja dilihat dari langgam artistic arsitekturnya saja, tetapi juga dari karakteristik warganya. Hasil survey ilmiah menempatkan Jogja sebagai kota yang warganya mudah bahagia. Hal ini didukung oleh warisan budaya yang melekat di berbagai aspek, seperti: bahasa, tata krama, nilai-nilai tradisi yang penuh filosofi dan identitas jatidiri masyarakat. Ini menjadi modal bagi Kota Yogyakarta dapat memiliki posisi terpandang di kancah internasional.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk mempromosikan budaya kita,  melakukan internalisasi agar kita tidak tergerus dengan pengaruh budaya luar. (ADV)