Sleman Belum Putuskan Sekolah Tatap Muka, Vaksin Anak Jadi Alasan Utama

Ilustrasi. - Freepik
02 Maret 2021 10:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Meski guru dan para tenaga pendidik masuk dalam program vaksinasi Covid-19 tahap kedua, namun Pemkab belum memutuskan waktu pelaksanaan sekolah tatap muka di Sleman.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana mengatakan Pemkab belum memutuskan pelaksanaan sekolah tatap muka. Meskipun secara sarana dan prasarana sekolah dinilai sudah siap membuka tatap muka, namun Pemkab tetap akan menunggu kebijakan dari pusat dan provinsi.

"Kami masih menunggu kebijakan pusat dan melihat perkembangan kasus Covid-19. Meskipun secara sarana prasarana, semua sekolah sudah siap untuk memulai kegiatan-belajar tatap muka," katanya, Senin (1/3/2021).

BACA JUGA : Vaksin Sinovac Aman untuk Orang dengan Komorbid 

Saar ini, lanjut Ery, guru dan tenaga pendidik sudah terdata dalam program vaksinasi. Mereka juga menyatakan siap untuk divaksin. Ia berharap, selain guru para siswa juga dapat diberi vaksin. Alasannya untuk meminimalisir resiko penyebaran Covid-19.

"Anak-anak kan juga rentan tertular penyakit. Harapan kami mereka juga menjadi sasaran vaksinasi. Kami optimis anak-anak nantinya akan mendapat vaksin Covid-19 meski belum tahu kapan," katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan belum ada vaksin Covid-19 untuk orang usia di bawah 18 tahun. Secara pribadi dia berpendapat jika pemberian vaksin bagi anak-anak memang perlu sebelum kegiatan belajar tatap muka dibuka kembali.

"Masalahnya, selain belum ada vaksin Covid-19 untuk anak saat ini pemberian vaksin masih terbatas untuk usia 18 tahun ke atas. Jadi belum ada yang cocok untuk anak-anak," katanya.

BACA JUGA : Sultan Berharap Tak Ada Warga Jogja yang Menolak Vaksin 

Joko tidak mempermasalahkan jika sekolah tetap menggelar tatap muka namun tetap menerapkan protokol kesehatan, meskipun siswa belum divaksin Covid. Sebab untuk tahap kedua ini, katanya, guru dan tenaga pendidik menjadi salah satu sasaran program vaksinasi.

"Ya [sekolah tatap muka] tetap dengan protokol kesehatan. Misalnya dengan menerapkan sistem shift untuk membatasi jumlah peserta didik dalam satu kelas. Cara lainnya memperpendek waktu istirahat supaya siswa tidak terlalu banyak aktivitas di luar ruang kelas," jelas Joko.