Tiga Pemuda Ngawi Ditahan dalam Kasus Kekerasan Seksual Anak
Polres Ngawi menahan tiga tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap dua anak di bawah umur. Polisi menegaskan perlindungan korban menjadi prioritas.
GKR Mangkubumi bersama kerabat keraton membuat kue apem dalam upacara Ngapem di Bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Keputren, Keraton Ngayogyakarta, Jogja, Sabtu (14/04/2018)./ Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA--Peringatan Tingalan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Takhta) Sri Sultan HB X di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini berbeda dari biasanya, karena menyesuaikan pandemi Covid-19. Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, meski berbeda dalam prosesi, namun tidak mengubah esensi dan filosofinya.
“Tahun lalu, pandemi sudah ada saat Tingalan Jumenengan Dalem. Pada saat itu, pelaksanaan Labuhan Lawu yang biasanya dilaksanakan sampai Hargo Dalem, disesuaikan hanya sampai di Cemoro Kandang. Meski demikian, uba rampe yang disiapkan beserta prosesinya tetaplah sama,” kata GKR Mangkubumi dalam rilis pada Minggu (7/3/2021).
Adapun rangkaian upacara yang wajib ada dalam Tingalan Jumenengan Dalem yaitu Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan di tiga tempat. Rencananya semua tetap digelar dengan pembatasan-pembatasan, termasuk siapa saja yang akan terlibat atau bertanggungjawab.
Selain itu, acara di luar Hajad Dalem seperti pameran dan simposium tetap berjalan dengan beberapa penyesuaian. Pada tanggal 7 Maret 2021 ini, kenaikan takhta Sri Sultan HB X menginjak usia ke-32 tahun. Menurut GKR Mangkubumi, usia panjang ini bukan hanya penanda periode kekuasaan, namun juga zaman yang telah berubah.
Pada kepemimpinan Sri Sultan HB X, Kraton berupaya untuk relevan dengan perkembangan zaman. Kraton menggunakan perkembangan teknologi untuk syiar budaya yang lebih luas. “Kekayaan budaya Kraton baik benda maupun tak benda didokumentasikan agar masyarakat bisa mengenal, mempelajari, kemudian ikut menjaga. Hal-hal ini tentu membutuhkan dukungan dari tenaga Abdi Dalem yang memiliki keahlian namun tetap menjunjung tinggi adat dan budi pekerti,” kata GKR Mangkubumi.
Geliat maju dari dalam Kraton harapannya bisa menjadi semangat untuk membangun DIY yang semakin sejahtera namun tetap berbudaya. GKR Mangkubumi berharap Ngarsa Dalem (Sri Sultan HB X) selalu sehat sehingga dapat menjadi sosok yang Hamengku (melindungi), Hamangku (mengutamakan kepentingan rakyat, lebih banyak memberi daripada menerima), dan Hamengkoni (menguatkan).
“Di samping itu, semoga beliau selalu diberikan tambahan berkah dalam memimpin Kraton, keluarga, dan masyarakat Jogja dengan segala dinamikanya,” kata GKR Mangkubumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Ngawi menahan tiga tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap dua anak di bawah umur. Polisi menegaskan perlindungan korban menjadi prioritas.
Akademisi UMY menilai fenomena bangku kosong SPMB 2026 dipicu faktor demografi dan mutu pendidikan, bukan sekadar popularitas sekolah.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku Anakku Terhebat di Sleman untuk membekali orang tua menghadapi tantangan pola asuh di era digital.
Kejagung menjelaskan alasan Febrie Adriansyah tidak mengenakan rompi tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan TPPU.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Sabtu 25 Juli 2026 digelar di di Kantor Kecamatan Rongkop untuk pagi hari dan Parkir Pasar Argosari, Wonosari di malam harinya.
BMKG memprakirakan cuaca DIY pada Sabtu 25 Juli 2026 didominasi cerah. Kulon Progo berawan dengan suhu udara 20-30 derajat Celsius.