Selain Fungsi Perikanan, Pelabuhan Tanjung Adikarto Didorong Jadi Objek Wisata

Pelabuhan Tanjung Adikarto. - Harian Jogja/ Hafit Yudi Suprobo
16 Maret 2021 03:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulonprogo mendorong agar pelabuhan Tanjung Adikarto tidak hanya fokus dimanfaatkan untuk sektor perikanan. Akan tetapi, sektor lainnya seperti pariwisata juga mampu diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo.

Ketua DPRD Kulonprogo, Akhid Nuryati, mengatakan rencana pemerintah pusat untuk melakukan pengkajian ulang kepada pelabuhan Tanjung Adikarto yang nantinya akan bermuara kepada upaya revitalisasi diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi warga sekitar pelabuhan.

"Terus yang paling utama adalah pemanfaatan pelabuhan Tanjung Adikarto untuk penumbuhan ekonomi dan sektor perikanan, tapi tidak menutup kemungkinan ini [pelabuhan Tanjung Adikarto] juga dalam rangka untuk mendukung sektor pariwisata," ujar Akhid pada Senin (15/3/2021).

Baca juga: Ikut Tradisi Labuhan, Warga Geger Temukan Kerangka Manusia di Lereng Merapi

Lebih lanjut, pemanfaatan pelabuhan Tanjung Adikarto sebagai objek wisata juga bukan tanpa alasan. Lokasi pelabuhan Tanjung Adikarto yang berdekatan dengan objek wisata pantai Glagah dan bandara YIA menjadi poin penting untuk mendongkrak wisatawan datang ke pelabuhan yang sudah mangkrak sejak 2003 lalu.

"Memang kita sangat menunggu-nunggu beroperasinya pelabuhan Tanjung Adikarto. Kalau kemarin kan alasannya soal kewenangan, ya kita monggo dari daerah menyerahkan ke provinsi maupun pusat agar bisa direnovasi atau direkonstruksi. Agar segera bisa dimanfaatkan," terang Akhid.

Rencana pemerintah pusat untuk melakukan kajian sebelum upaya revitalisasi dilakukan juga menjadi sorotan dewan Kulonprogo. Dewan mengharapkan agar upaya pengkajian juga melihat sisi kebatinan warga di sekitar pelabuhan dan juga memperhatikan soal karakteristik gelombang laut selatan.

Baca juga: Pemkot Jogja Klaim PPKM Mikro Efektif Turunkan Kasus Covid-19

"Kalau sekarang ini tingkat kesulitannya pada kondisi alam ataupun laut selatan yang memang berbeda ya. Artinya apakah itu blackwater atau sedimentasi. Tapi, kalau saya, siapapun yang mengkaji harus hati-hati dan mengerti betul gelombang laut selatan. Saya penduduk sini, jadi saya tahu persis bagaimana kebatinan dari masyarakat, maupun jenis gelombang di laut selatan," kata Akhid.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulonprogo, Joko Mursito, mengatakan ketika konsep Among Tani Dagang Layar dimaknai pengembangan pertanian, perdagangan, ekonomi kreatif (Ekraf) dan budaya maritim, maka keterpaduan tersebut akan menumbuhkan kekuatan dalam mendorong pemulihan perekonomian.

Pariwisata, lanjut Joko, dalam konteks tersebut tentunya menjadi bagian penting dalam rangka pemanfaatan ruang yang ada. Terutama, bagaimana membangun pola pikir laut selatan sebagai muka atau wajahnya DIY.

"Pariwisata berbasis budaya maritim sangat sesuai dikaitkan dengan Pelabuhan Tanjung Adikarto ke depan, baik dalam hal konstruksi bangunannya maupun tata kelolanya. Dinas Pariwisata siap berkolaborasi dengan berbagai pihak," kata Joko.

"Kami punya program Sambang Gisik dan Romansa Pansela yang menggambarkan semangat membangun wilayah pantai sebagai salah satu unggulan yang kami masukkan sebagai kawasan strategis pariwisata daerah (KSPD) dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPARDA yakni KSPD Pantai Selatan (Pansela)," tutup Joko.