Seniman Apresiasi Perhatian TBY

17 Maret 2021 07:07 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Seniman berharap pemerintah daerah lebih sering memfasilitasi seniman untuk pentas dan memberi stimulan. Pemberian kesempatan manggung diperlukan demi keberlangsungan hidup para seniman di tengah pagebluk.

Pendamping Cah Jatilan Jogja, Dede Herlambang mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dengan menggelar sejumlah atraksi seni tradisi selama empat hari pada akhir Maret ini. Gelaran atraksi seni tradisi sepanjang 2021 tersebut ia anggap sebagai wujud perhatian TBY kepada para pelaku seni di Bumi Mataram agar tetap berkreasi dan berekspresi di tengah pandemi Covid-19.

Kelompok jatilan asal Tamanan, Banguntapan, Bantul, ini mengaku selama pandemi Covid-19 hampir tidak bisa manggung. Akhirnya para seniman pun masing-masing mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarga.

Padahal sebelum adanya pandemi Covid-19, kelompok jatilan yang berjumlah 50 orang ini dalam sebulan bisa pentas tiga sampai empat kali. Namun pandemi membuat arena untuk pentas nihil, sehingga berdampak pada kesejahteraan para seniman. “Adanya fasilitasi manggung dari TBY saya apresiasi sebesar-besarnya karena seniman bisa kembali tampil,” kata Dede, Selasa (16/3).

Pria yang akrab disapa Dede Iwak Wader ini mengaku tidak mempersoalkan meski yang tampil dibatasi hanya 20 orang. Ia mengaku bisa menyeleksi pemain inti terutama untuk penarinya. “Biasanya kami tiga babak kami ringkas menjadi satu babak, dan krunya juga kami batasi,” ucap Dede.

Terlepas dari adanya pembatasan dan tidak adanya penonton dalam pentas tersebut, kesempatan untuk tampil tersebut menjadi angin segar bagi para seniman, terutama seniman jatilan. 

Protokol Kesehatan

Kepala Pengelola TBY Diah Tutuko Suryandaru mengatakan gelaran atraksi seni tradisi sepanjang 2021 diawali empat hari mulai dari 28-31 Maret. Terdapat 16 grup seni tradisi yang akan tampil dan dibagi empat grup pertunjukan seni setiap harinya, seperti seni kerakyatan, ketoprak, dan wayang.

Berbeda dengan pertunjukan seni tradisi sebelumnya yang digelar di panggung terbuka dan bisa disaksikan masyarakat umum, pertunjukan seni tradisi kali ini dilaksanakan di Concert Hall TBY dengan konsep tanpa penonton karena masih masa pandemi. Pertunjukan digelar dengan harapan masyarakat seni masih bisa berkarya dengan selalu mengedepankan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Sesuai tema Semangat Karya Putus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 yang maksudnya dalam kondisi seperti ini masyarakat seni tetap harus bersemangat berkarya. Dalam karya itu pun tidak lalai protokol kesehatan. Keduanya penting dilaksanakan dalam situasi dan kondisi pandemi ini,” kata Diah dalam rapat teknis kegiatan gelar seni sepanjang 2021 di ruang Seminar TBY, Selasa

Meski tanpa penonton, kata Diah, pertunjukan seni tradisi tersebut dapat disaksikan melalui berbagai platform media TBY.

Sebelumnya TBY juga sudah menggelar berbagai kegiatan seni dan budaya tanpa audiens di tempat pertunjukan, salah satunya Bincang-Bincang Sastra. Diah berharap para pelaku seni terus berkreasi meski ada pandemi Covid-19. “Jangan sampai kegiatan seni tradisi berhenti walau pun di tengah pandemi,” ujar Diah.

Diah juga meminta para pelaku seni yang akan tampil bisa menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan supaya tidak menimbulkan klaster baru penyebran virus Corona. Saat masuk gedung harus menggunakan masker dan cuci tangan yang sudah disediakan, wajib diukur suhu, harus menjaga jarak sesama pelaku seni, masuk Concert Hall melalui pintu selatan dan keluar melalui pintu utara, properti yang dibawa wajib disterilkan terlebih dahulu sebelum dibawa masuk Concert Hall, dan pelaku seni dilarang bertukar kostum.

Pelaku seni yang sudah menggunakan properti wajib mensterilkannya, dan waktu pementasan dibatasi maksimal satu jam. Untuk mengurangi kerumunan, kelompok yang sudah pentas harus segera meninggalkan area TBY 

Waktu Dibatasi

Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY Suroyo menambahkan dari 16 grup seni tradisi yang akan pentas masing-masing dibatasi maksimal 20 menit dan jika terpaksa menambah waktu diberi toleransi hingga 30 menit. Ini misalnya pada pertunjukan wayang agar pesan bisa tersampaikan dengan utuh.

Adapun untuk sanak famili yang akan menonton dipersilakan untuk hadir dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat dan mengikuti ketentuan yang sudah dibuat. TBY tidak ingin ada klaster baru penularan Covid-19 di tempat tersebut.

TBY memfasilitasi panggung berukuran 15 x 18 meter persegi. Seniman yang tampil di atas panggung maksimal 20 orang.  “Kalau lebih dikurangi. Misalnya tarian usahakan bagaimana kondisinya tetap bagus tapi terbatas,” ucap Suroyo.