Pembatasan Aktivitas Masyarakat di Jogja Berpotensi Dilonggarkan

Suasana Malioboro yang ditutup untuk kendaraan bermotor setelah pukul 19.00 WIB pada masa PTKM, Sabtu (23/1/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
30 Maret 2021 20:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO – Beberapa lapisan masyarakat meminta pelonggaran Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Jogja. Hal ini disampaikan oleh Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi. Namun permintaan itu belum bisa Heroe akomodasi lantaran PTKM merupakan kebijakan pemerintah pusat.

Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mencoba agar Jogja bisa mendapat kelonggaran PTKM. Hal ini lantaran 94,5 persen kawasan Rukun Tetangga (RT) di Jogja berzona hijau.

BACA JUGA : Begini Gambaran Pembatasan Aktivitas Masyarakat di Jogja

“Memang berharap ada pelonggaran. Namun konsekuensinya harus menjadikan yang di wilayah [lebih taat prokes],” kata Heroe saat ditemui di sela-sela acara di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia, Umbulharjo, Jogja, Selasa (30/3/2021).

Saat ini, Jogja sedang menerapkan PTKM dari 23 Maret sampai 5 April 2021. Menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, Pemkot Jogja menunggu aturan dari pusat terkait penerapan PTKM, apakah ada modifikasi atau tetap. Namun hal yang menjadi kewenangan Pemkot Jogja yaitu mengatur mobilitas orang yang berada di wilayahnya, termasuk saat liburan bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Akan ada antisipasi apabila sanak saudara ada yang pulang kampung ke Jogja.

“Kedatangan tamu agar lebih siap mengantisipasinya. Memastikan kesehatan yang bersangkutan,” katanya.

Sejak adanya vaksinasi massal, belum terlihat adanya perubahan pola perilaku masyarakat. Hal ini bisa jadi lantaran vaksinasi massal baru menyasar tenaga kesehatan (nakes) dan pelayanan publik. Sementara nakes dan pelayanan publik, menurut Heroe, mayoritas orang yang taat prokes. Sementara untuk masyarakat umum belum mendapat vaksinasi.

BACA JUGA : Gunungkidul Bersiap Batasi Aktivitas Masyarakat

Saat ini, vaksinasi massal sedang menyasar tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para pejabat tingkat kalurahan (ketua RT, Rukun Warga, dan lainnya). “Belum bisa dilihat sebagai seluruhnya. Yang sudah divaksin [merupakan] kelompok [yang] menjalankan prokes,” kata Heroe.

Menurut Lurah Suryatmajan Weda Satriya Negara, kondisi masyarakatnya pada PTKM kali ini masih terkendali. Secara jumlah kasus positif, terlihat adanya penurunan. Saat ini hanya ada satu orang yang suspek. “Lebih terkendali sekarang. Dulu paling banyak itu empat orang [dari] dua keluarga,” katanya.

Saat ini, setiap RT, RW dan Kampung di Suryatmajan memiliki personil yang tergabung dalam satuan tugas Covid-19 tingkat kalurahan. Dalam penanganan, Kampung Tangguh Bencana (KTB) berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, salah satunya terkait penyemprotan disinfektan rutin di setiap kampung.

Kalurahan Suryatmajan yang dekat dengan kawasan wisata Malioboro juga telah memberikan pemahaman pada hotel dan pedagang terkait pelaksanaan prokes. Sejauh ini, mayoritas pedagang Malioboro dan sekitarnya telah mendapatkan vaksin dari pemerintah.

BACA JUGA : PTKM DIY Diperpanjang Lagi dengan Aturan Lebih Longgar

Pekerjaan rumah yang masih perlu Weda antisipasi terkait penanganan masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. “Itu yang agak susah mengendalikan, apalagi nantinya pasti banyak juga wisatawan yang datang ke Jogja, dan di Suryatmajan itu pusat kota, di Malioboro juga,” kata Weda.

Pencegahan agar masyarakat tetap taat prokes Weda lakukan dengan cara mengingatkan. Dia juga menggandeng tokoh masyarakat serta menggunakan WhatsApp Grup dan sosial media untuk imbauan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas).