Duh, Pembagian Makanan Buka Puasa di Masjid Jogokariyan Bikin Desak-Desakan

Panitia Kampung Ramadhan membagikan makanan buka puasa untuk masyarakat di Masjid Jogokariyan, Selasa (13/4/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
13 April 2021 22:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pembagian makanan buka puasa di Masjid Jogokariyan pada hari pertama puasa Ramadan, Selasa (13/4/2021) sore menimbulkan desak-desakan. Warga berebut untuk mendapatkan nasi bungkus untuk berbuka puasa.

Padahal, panitia sedianya sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat guna menegah penularan Virus Covid-19. Panitia Kampung Ramadan menyediakan tujuh titik hand sanitizer dan empat titik wastafel. Apabila nantinya dirasa kurang, akan ada penambahan. Selain itu, pada 18.30 WIB akan ada penyemprotan disinfektan di sekitar pasar sore.

Pasar Sore Ramadan tahun ini digelar kembali setelah tahun lalu secara resmi tidak diadakan. Pada Ramadhan 2020, panitia Kampung Ramadhan Masjid Jogokariyan tidak selenggarakan pasar sore. Namun kebiasaan adanya pasar sore di Jogokariyan tetap terpatri pada masyarakat. Akhirnya muncul lapak-lapak “liar”.

Baca juga: Pemkab Sleman Terbitkan Aturan Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19, Ini Isinya

Tidak hanya itu, ada pihak ketiga yang kemudian meminta biaya lapak. Padahal sejak pasar sore ada pada 2004, panitia tidak pernah mematok tarif untuk lapak. Mereka hanya mengedarkan kotak infak dan pedagang mengisi seikhlasnya.

“Kami panitia tidak bisa mengatur. Kalau kami adakan [resmi] seperti ini, kami ada hak untuk mengatur,” kata Ketua Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan Tahun 2021, Muhammad Syafiq, Selasa.

Tahun ini Kampung Ramadan Jogokariyan mengusung tema Bangkitkan Iman Melawan Covid-19. Membangkitkan iman ini salah satunya dengan cara bangkitkan sektor ekonomi.

Baca juga: Belasan Peserta UTBK di UGM Kedapatan Tak Bawa Surat Kesehatan, Ini Tindakan Satgas

Ada 179 lapak pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan Jogokariyan. Jumlah ini lebih sedikit dari kondisi sebelum pandemi Covid-19 dengan jumlah lapak sekitar 200-230 unit. Jarak satu lapak dengan lainnya sekitar 2 sampai 2,5 meter.

“Dulu bisa bersandingan [satu lapak dengan lainnya]. Kami untuk aturannya, selain harus menerapkan prokes, juga menutup aurat [bagi pedagang],” kata Syafiq.

Untuk jarak antar lapak, panitia Kampung Ramadan tetap menggunakan standar mereka. Sementara untuk sistem drive thru, panitia belum bisa melaksanakan. “Belum bisa, satu sisi pedagangnya beraneka ragam. Ini juga jalanan umum, jadi belum bisa menerapkan seperti [sistem drive thru] itu,” kata Syafiq.