Blackout Karimun Belum Pulih, Warga Sewa Hotel demi Bekerja
Pemadaman listrik di Karimun belum sepenuhnya pulih. Warga menyewa hotel demi bekerja, sementara PLN mempercepat pemulihan sistem.
Panitia Kampung Ramadhan membagikan makanan buka puasa untuk masyarakat di Masjid Jogokariyan, Selasa (13/4/2021)./Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA-- Pembagian makanan buka puasa di Masjid Jogokariyan pada hari pertama puasa Ramadan, Selasa (13/4/2021) sore menimbulkan desak-desakan. Warga berebut untuk mendapatkan nasi bungkus untuk berbuka puasa.
Padahal, panitia sedianya sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat guna menegah penularan Virus Covid-19. Panitia Kampung Ramadan menyediakan tujuh titik hand sanitizer dan empat titik wastafel. Apabila nantinya dirasa kurang, akan ada penambahan. Selain itu, pada 18.30 WIB akan ada penyemprotan disinfektan di sekitar pasar sore.
Pasar Sore Ramadan tahun ini digelar kembali setelah tahun lalu secara resmi tidak diadakan. Pada Ramadhan 2020, panitia Kampung Ramadhan Masjid Jogokariyan tidak selenggarakan pasar sore. Namun kebiasaan adanya pasar sore di Jogokariyan tetap terpatri pada masyarakat. Akhirnya muncul lapak-lapak “liar”.
Baca juga: Pemkab Sleman Terbitkan Aturan Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19, Ini Isinya
Tidak hanya itu, ada pihak ketiga yang kemudian meminta biaya lapak. Padahal sejak pasar sore ada pada 2004, panitia tidak pernah mematok tarif untuk lapak. Mereka hanya mengedarkan kotak infak dan pedagang mengisi seikhlasnya.
“Kami panitia tidak bisa mengatur. Kalau kami adakan [resmi] seperti ini, kami ada hak untuk mengatur,” kata Ketua Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan Tahun 2021, Muhammad Syafiq, Selasa.
Tahun ini Kampung Ramadan Jogokariyan mengusung tema Bangkitkan Iman Melawan Covid-19. Membangkitkan iman ini salah satunya dengan cara bangkitkan sektor ekonomi.
Baca juga: Belasan Peserta UTBK di UGM Kedapatan Tak Bawa Surat Kesehatan, Ini Tindakan Satgas
Ada 179 lapak pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan Jogokariyan. Jumlah ini lebih sedikit dari kondisi sebelum pandemi Covid-19 dengan jumlah lapak sekitar 200-230 unit. Jarak satu lapak dengan lainnya sekitar 2 sampai 2,5 meter.
“Dulu bisa bersandingan [satu lapak dengan lainnya]. Kami untuk aturannya, selain harus menerapkan prokes, juga menutup aurat [bagi pedagang],” kata Syafiq.
Untuk jarak antar lapak, panitia Kampung Ramadan tetap menggunakan standar mereka. Sementara untuk sistem drive thru, panitia belum bisa melaksanakan. “Belum bisa, satu sisi pedagangnya beraneka ragam. Ini juga jalanan umum, jadi belum bisa menerapkan seperti [sistem drive thru] itu,” kata Syafiq.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemadaman listrik di Karimun belum sepenuhnya pulih. Warga menyewa hotel demi bekerja, sementara PLN mempercepat pemulihan sistem.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.