Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi. /JIBI-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan anggaran sekitar Rp700 juta untuk mengatasi krisis air pada saat musim kemarau. Diperkirakan wilayah Gunungkidul memasuki kemarau mulai akhir Mei mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemarau akan masuk wilayah Gunungkidul pada akhir Mei mendatang. Rencananya bersamaan dengan memasuki musim kering ini, BPBD akan berkoordinasi dengan panewu untuk memetakan daerah rawan kekeringan serta pendataan terhadap jiwa terdampak.
“Masih bulan depan koordinasinya karena sekarang masih masuk masa peralihan dari musim hujan ke kemarau,” kata Edy, Selasa (20/4/2021).
Dia menjelaskan, sesuai dengan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau memberikan dampak ke sejumlah wilayah akan mengalami krisis air bersih. Oleh karenanya, untuk mengantisipasi, pemkab telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp700 juta yang dipergunakan dalam program droping air.
“Jumlahnya hampir sama dengan alokasi di tahun sebelumnya. Tapi, di 2020 serapannya hanya mencapai Rp400 juta dan sisanya dikembalikan ke kas daerah,” katanya.
Baca juga: Organda DIY Ingatkan Kemunculan Angkutan Mudik Ilegal Saat Libur Lebaran
Meski belum memasuki musim kemarau, Edy berharap masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana, khususnya angin kencang di masa pancaroba. Menurut dia, seiring adanya pergantian musim, intensitas hujan mulai menurun pada saat masa pancaroba. Namun, hujan deras tetap bisa turun dengan durasi waktu yang singkat. “Ini yang harus diwaspadai. Sebab, meski intensitasnya tidak lama, tapi tetap bisa menyebabkan terjadinya bencana,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S berharap pemkab tidak hanya mengandalkan droping air untuk mengatasi krisis air saat kemarau. Menurut dia, wilayah Gunungkidul memiliki potensi sumber dari sungai bawah tanah yang melimpah.
Ery berharap potensi ini bisa dimaksimalkan sehingga tidak ada lagi warga yang kesulitan air pada saat kemarau tiba. “Selama ini belum dimanfaatkan dengan baik. Jadi, droping bukan solusi karena upaya pasti untuk mengatasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan sungai-sungai bawah tanah yang dimiliki,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.