Belajar Sejarah Jogja & Objek Wisata dalam Usapan di Ponsel

Salah satu pengembang gim Sutasoma, Rizky, menunjukkan set gim Sutasoma, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
02 Juni 2021 06:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sebangku Games mengembangkan gim edukatif bernama Sutasoma untuk menyiasati metode pembelajaran sejarah yang kerap membosankan. Melalui gim yang menggabungkan kartu dan aplikasi ponsel ini, Sutasoma menjadi media untuk belajar sejarah sekaligus promosi wisata yang seru. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lugas Subarkah.

Kedua tangan Rizky memegang ponsel sekaligus sejumlah kartu berilustrasi tokoh sejarah kerajaan Jawa. Dosen Amikom Jogja yang juga salah satu anggota tim Sebangku Games ini menunjukkan bagaimana cara memainkan gim edukatif yang ia sebut Sutasoma: The Temple of Yogyakarta.

“Kebetulan saya suka sejarah waktu kecil, tetapi teman-teman saya itu bilang kalau pelajaran sejarah adalah kaset lawas yang diputar lagi. Nah ini pasti ada sesuatu yang aneh. Salah satu kemungkinannya adalah medianya yang kurang pas,” kata Rizky, menjelaskan latar belakang munculnya gagasan membuat Sutasoma beberapa waktu lalu.

Menurutnya, selama ini media pembelajaran sejarah hanya dari buku. Ditambah penjelasan guru sejarah yang cenderung monoton, pelajaran sejarah sulit menarik perhatian anak-anak.

“Kalau dalam bentuk ini kami pakai dunia anak, jadi mereka main gim, di situ mereka sambil belajar. Karena mereka sudah pakai handphone terus, kita harus adaptasi dengan teknologi tadi AR [augmented reality] dan VR [virtual reality],” ujarnya.

Sebagai media pembelajaran sejarah, gim ini ditujukan sebatas untuk memotivasi anak-anak. Melalui gim, diharapkan anak-anak akan termotivasi untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah melalui buku-buku yang menyajikan materi sejarah yang lebih komprehensif.

Sutasoma mengambil materi sejarah dari tiga candi di sekitar Jogja, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko. Pengembangan Sutasoma sudah mulai dikerjakan sejak 2019. Karena pandemi Covid-19 pada 2020, timnya baru membuat soft launching pada 2021.

Timnya awalnya hendak memberi nama gim ini Arkeologi. Namun menurutnya nama ini tidak mudah diucapkan. Timnya menyadari terdapat dua entitas penting yang diangkat dalam gim ini, yakni Hindu dan Budha. Maka muncul kata Sutasoma, yang mengakomodasi dua entitas ini.

“Kebetulan saat saya baca Sutasoma, dua-duanya masuk, jadi ya sudah, namanya Sutasoma saja. Dalam Sutasoma sendiri juga ada bineka tunggal ika, jadi ini sesuatu yang sangat bagus untuk Indonesia. Kami angkat kebudayaan lokal tapi dikemas dengan model internasional,” ungkapnya.

Dalam pengembangan Sutasoma, ada tiga fase yang dilalui. Pertama, membuat main game. Fase kedua validasi konten, yang bahkan dikerjakan sampai ke Balai Arkeologi, ke Taman Wisata Candi (TWC). Lalu fase ketiga pembuatan ilustrasi. “Ilustrasinya dibuat dengan model seperti manga [komik khas Jepang], agar anak-anak tertarik. kalau gambar jadul, nanti anak-anak tidak senang,” katanya.

Meski belum diproduksi masal, Sutasoma sudah disertakan dan menang dalam lomba di tingkat nasional maupun internasional. “Kami sudah menang di Hanover, Jerman, di event German-Indonesia yang diadakan beberapa bulan yang lalu. Itu acaranya Kementerian Perindustrian,” kata Rizky.

Sutasoma pada dasarnya termasuk dalam jenis permainan papan atau board game, seperti yang kita kenal dalam monopoli, ular tangga, dan lainnya. Bedanya, Sutasoma menggunakan fitur AR. Jika kartunya dipindai dengan aplikasi, akan muncul penjelasan gambar dalam kartu tersebut.

“Misalnya Rama itu siapa. Selain itu juga ada virtual reality-nya. Jadi kalau orang belum pernah ke Prambanan atau Borobudur, nanti bisa langsung tahu. Dia bisa dimainkan dua sampai enam orang. Pakai dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Untuk keperluan wisata, memang ditujukan untuk wisatawan yang datang ke Jogja,” ungkapnya.

Karena permainan ini ditujukan pada dua segmen yakni anak-anak dan wisatawan yang diasumsikan sedang berada di bandara, stasiun dan sebagainya, durasi permainan ini dirancang cukup singkat, yakni sekitar 15 menit. Aplikasi Sutasoma bisa diunduh gratis di Google Playstore. Para pemain hanya perlu membeli satu set kartu dan buku Sutasoma.

Gim ini diproyeksikan bisa menjadi media promosi destinasi wisata di seluruh Indonesia. Meski saat ini masih terbatas pada beberapa situs sejarah di Jogja, Sutasoma akan dikembangkan agar dapat mencakup ratusan destinasi wisata di Indonesia.

“Kami sudah ngobrol dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.Indonesia punya sekitar 50-100 destinasi wisata utama. Jadi kalau kami ada 40 kartu berarti 40 wisata itu bisa masuk dalam bentuk kartu ini. Jadi kalau ada turis datang, nanti dapat kartu dan tinggal di-scan. Di situ langsung nyambung ke Google Maps, ada jaraknya, dan informasi lainnya,” kata dia.

Rizky menargetkan Sutasoma dapat diluncurkan pada akhir tahun ini, sekaligus memulai produksi masal jika sudah mendapatkan investor. “Akhir tahun mudah-mudahan sudah bisa launching yang besar, sekalian untuk produksi massal dan kami sudah mulai siap untuk Sutasoma kedua,” ujarnya.