Pemkot Yogyakarta Selaraskan Pemulihan Kesehatan dan Ekonomi

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti & Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi.
07 Juni 2021 07:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Memberikan perhatian besar pada kesehatan di masa pandemi Covid-19 tidak selalu mengabaikan perekonomian. Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, keduanya merupakan hal yang selaras bahkan saling menguatkan satu sama lain.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan sebagai kota pariwisata dan pendidikan, Kota Yogyakarta tidak bisa lepas dari banyaknya orang yang datang. Daya tarik Kota Yogyakarta dengan segala ceritanya membuat masyarakat dari berbagai penjuru ingin datang ke Yogyakarta.

Dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat, perekonomian Kota Yogyakarta yang banyak ditopang sektor pariwisata dan pendidikan bisa tetap bergerak dan mencoba bangkit. Dengan adanya prokes ini pula, masyarakat Yogyakarta maupun pengunjung luar kota akan merasa semakin aman berada di kota ini.

Penyerahan penghargaan Raihan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani melalui Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN) Yogyakarta, Istu Wahyudi, diterima oleh Wali Kota Yogyakarta,
Haryadi Suyuti di Graha Pandawa Balai Kota.

“Di masa pandemi ini, prokes ketat merupakan sebuah keharusan, bahkan menjadi bentuk pertahanan terbaik. Saat ini semua prokes menjadi nilai lebih di berbagai sektor, termasuk pariwisata,” kata Haryadi, Jumat (4/6).

Sejak pandemi Covid-19 menyebar pada awal 2020, kondisi sosial masyarakat tidak lagi sama. Ada sebuah standar baru yang kemudian perlu diterapkan, utamanya dalam menjamin kesehatan. Penanganan Covid-19 seperti mendayung di dua pulau, selain perlu menjaga kesehatan masyarakat, pemulihan ekonomi juga tidak boleh dikesampingkan. Keduanya perlu seimbang.

“Untuk kebangkitan ekonomi syaratnya prokes. Di dalam upaya menangani Covid-19, prokes bagian dari kebangkitan ekonomi, bukan dipertentangkan. Kalau ingin bangkit, prokes dijalankan,” kata Haryadi.

Meski mudah diucapkan, upaya ini perlu kerja keras dalam pelaksanaan.

Salah satu upaya Pemkot Yogyakarta adalah realokasi dan refocusing anggaran. Menurut Sekretaris Daerah Pemkot Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, hal ini perlu dilakukan guna meningkatkan anggaran penanganan Covid-19 dari sisi kesehatan. Di sisi lain, program-program untuk masyarakat tidak boleh berhenti.

Berdasarkan hal itu, realokasi dan refocusing anggaran diambil dari anggaran yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Menggunakan anggaran yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat, tapi dimabil dari pos lain yang bisa ditunda pelaksanaannya. Kehidupan masyarakat tetap bisa berjalan, penanganan Covid-19 juga berjalan,” kata Aman.

“Tahun sebelumnya, cara ini cukup berhasil dan dampak pandemi relatif terkendali. Hal ini akan kami coba lanjutkan.”

Salah satu bentuk keberhasilan sebuah program adalah keterlibatan semua elemen untuk bergerak bersama. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) perlu sejalan dan saling mendukung. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri atau sektor per sektor.

“Kami menempatkan fokusnya, nanti dari fokus itu apa yang bisa OPD kontribusikan. Ini kata kuncinya. Misal sektor pariwisata dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi, mereka berkontribusi dengan menjamin semua sektor pariwisata jalankan prokes. Jika nantinya mereka butuh anggaran lain, itu masuk pembahasan berikutnya,” kata Aman.

Gotong Royong Warga

Selain sinergitas antar-OPD, masyarakat juga perlu terlibat dalam penanganan pandemi. Dengan kultur masyarakat Yogyakarta yang masih utamakan gotong royong, hal ini bisa menjadi kekuatan yang besar. Program seperti dapur balita dan lansia misalnya, muncul untuk mengatasi kurangnya gizi keluarga saat pendapatan menurut semasa pandemi. Bagi masyarakat yang isolasi mandiri, adapula dapur umum yang Pemkot Yogyakarta sokong untuk membantu dari sisi konsumsi dan lainnya.

Seluruh upaya ini ternyata cukup berhasil bahkan mendapat penghargaan. Tahun 2020, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) berikan penghargaan atas Inovasi Gotong Royong Ketahanan Masyarakat Menghadapi Wabah Covid-19 (Gogrok Covid-19) yang diusung oleh Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta. Penghargaan ini masuk dalam Top 21 Inovasi Pelayanan Publik Penanganan Covid-19.

Dengan semangat gerakan Gandeng Gendong yang dicanangkan Pemkot Yogyakarta, warga Purbayan berhasil melibatkan berbagai unsur dalam menghadapi pandemi Covid-19. Warga merespons kondisi Covid-19 dengan pola Ngluwihi lan Mbagehi yang melibatkan pemerintah kota, korporasi, kampung, komunitas, dan kampus.

Perkuat dengan Vaksin

Setelah upaya menangani dampak pandemi beserta kasus seberannya, langkah berikutnya yaitu perkuat masyarakat dengan vaksin. Menurut Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, vaksin bukanlah penangkal Covid-19. Artinya orang yang telah mendapat vaksin masih memungkinkan untuk positif Covid-19. “Namun dampak atau gejala Covid-19 bagi yang telah vaksin tidak parah,” kata Heroe. “Meskipun sudah mendapat vaksin, bukan berarti masyarakat bisa abai dengan prokes, tetap harus terapkan prokes dengan ketat.”

Per 4 Juni 2021, capaian vaksinasi di Yogyakarta untuk dosis pertama sebanyak 115.267 dan dosis kedua sebanyak 97.091. Vaksinasi ini untuk beberapa kalangan prioritas seperti tenaga kesehatan, pelayan publik, pegawai sektor pariwisata, dan lansia. Di beberapa kalangan, pendaftar vaksin melebihi target dari Pemerintah Pusat. Pendaftar vaksin dari kalangan warga lansia berumur 60 tahun ke atas misalnya, dari target Pemerintah Pusat sekitar 46.000 orang, yang mendaftar sekitar 60.000. Mulai Juni 2021, target vaksinasi diperluas untuk kalangan pra lansia dan tokoh masyarakat. "Capaian vaksinasi warga lansia Kota Yogyakarta termasuk sepuluh besar nasional, karena sudah lebih dari 50 persen dari target Pemerintah Pusat," kata Heroe.

Di masa seperti ini, Heroe melihat pandemi Covid-19 seperti kepompong bagi calon kupu-kupu. Ada masa sulit dan menantang dari proses di dalam kepompong hingga nantinya menjadi kupu-kupu. Begitupun dengan Kota Yogyakarta, segala penanganan dan persiapan dilakukan untuk bisa melewati fase kepompong.

“Hingga tiba saatnya nanti, kupu-kupu itu bisa keluar dari kepompong dan terbang dengan segala keindahannya, sehingga membuat banyak orang terpesona. Ketika waktunya tiba, bisa terbang dan orang terkagum-kagum. Melihat bahwa Kota Yogyakarta siap memasuki era baru,” kata Heroe.

Tahun ini, Pemerintah Kota Yogyakarta memasuki usia ke-74 tahun. Dengan tema Bersinergi Melanjutkan Penanganan Covid-19 untuk Pemulihan Ekonomi, Pemkot Yogyakarta terus berusaha yang terbaik untuk memulihkan sektor kesehatan dan juga ekonomi. (ADV)