Di Tengah Lonjakan Pasien Covid-19, 280 Karyawan Kesehatan di 3 RS DIY Positif Corona

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
28 Juni 2021 15:07 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Ratusan karyawan di sejumlah rumah sakit di Jogja terinfeksi Covid-19 ditengah situasi lonjakan pasien Corona belakangan ini.

Sebanyak 280 pegawai yang ada di tiga rumah sakit rujukan Covid-19 dinyatakan terpapar virus corona. Ketiga rumah sakit tersebut yaitu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS Panti Rapih, dan RSUP Dr Sardjito.

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengungkapkan, ada 204 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Jumlah tersebut merupakan akumulasi selama Juni ini.

"Dari jumlah itu, sebanyak 185 orang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing, 15 orang yang menjalani isolasi mandiri di Sardjito. Ada empat orang yang dirawat inap karena kondisinya berat," ujar Rukmono dalam jumpa pers via Zoom, Senin (28/6/2021).

Menurutnya, dari 204 itu sebagian besar adalah nontenaga kesehatan (Nakes). Kemudian ada dokter spesialis dan perawat yang berjumlah 44 orang positif Covid-19.

BACA JUGA: Kritis, Jane Shalimar Sempat Kesulitan Cari Rumah Sakit karena Penuh

"Yang terbesar adalah tenaga selain perawat dan nakes," terangnya.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Muhammad Komarudin menyampaikan, jumlah pekerja yang terpapar mencapai 45 orang. Dari jumlah tersebut meliputi perawat, dokter, tenaga penunjang laboratorium, dan fisioterapi.

"Sampai Sabtu (26/6/2021) kemarin ada 45 orang yang tertular Covid-19," katanya.

Pada pagi ini, ia menerima laporan bahwa dokter jaga di IGD serta nakes dikabarkan positif Covid-19, sehingga pihaknya melakukan tes usap terhadap mereka yang bekerja di IGD. Menurutnya, hal ini berdampak terhadap pelayanan rumah sakit kepada pasien.

Direktur Utama RS Panti Rapih V Triputro Nugroho menyebutkan, di Panti Rapih ada 31 orang yang positif Covid-19. Adapun yang terpapar Covid-19 terdiri dari 6 dokter, petugas administrasi, dan perawat.

"Mereka sedang menjalani isolasi di sini karena kami menyediakan tempat untuk mereka. Artinya yang gejalanya tidak terlalu berat, sebagian ada yang isolasi mandiri di rumah," jelasnya.

Dari hasil penelusuran yang dilakukan, rata-rata mereka tertular dari anggota keluarga.

"Intinya dari klaster keluarga, entah tertular dari suami atau eyangnya. Setelah isolasi mandiri selesai mereka akan bekerja kembali," katanya.

Jawatannya berusaha supaya klaster keluarga ini dapat dipotong. Untuk bisa mewujudkan hal itu butuh kerjasama masyarakat.

"Kalau perlu lockdown, lockdown deh agar klaster keluarga ini bisa disetop," katanya.

Sumber : Suara.com