Majalah Matajendela, TBY Suguhkan Yogya Kota Sinema

Seseorang sedang memegang Majalah Matajendela edisi Ke-2 berjudul Yogya Kota Sinema, beberapa waktu lalu.- IST - TBY
12 Juli 2021 05:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

JOGJA–Majalah Matajendela edisi ke-2 tahun 2021 terbitan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pembahasan fokus pada geliat dunia perfilman di Jogja. Terbit pada Juli dengan judul Yogya Kota Sinema, kita akan membaca hubungan Jogja dan film dari berbagai sudut pandang. Ada bahasan film Jogja dengan dampak pandemi, festival-festival film, Jogja yang sering menjadi latar film sampai peran Dana Keistimewaan (danais) dalam perkembangan film di Jogja.
Menurut Redaktur Majalah Matajendela, Latief S. Nugraha, meski pandemi berpengaruh besar pada kegiatan sosial masyarakat, produksi dan distribusi film di Jogja mampu menyesuaikan dan tetap hidup. Dengan surutnya penonton di bioskop, kini distribusi film merambah ke dunia digital, termasuk media sosial dan Youtube.
Salah satu film pendek produksi Jogja yang tayang di Youtube dan sempat viral adalah Tilik karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo. Viralnya film pendek Tilik ternyata menyeret penonton untuk melihat film pendek lain. Sehingga film pendek yang sebelumnya terkesan biasa saja geliatnya menjadi cukup populer. “Disusul oleh perhatian khayalak film. Dari Tilik memicu minat untuk melihat film pendek lain di Youtube, terutama karya sineas Jogja,” kata Latief saat dihubungi secara daring, Kamis (8/7).
Dinamika film di Jogja juga terdampak dari dukungan danais. Salah satu bentuk dukungannya, secara berkala danais membuat kompetisi dengan hadiah pembiayaan produksi film. Tilik salah satu film yang mendapat pendanaan dari Danais tahun 2018.
Selain itu, dunia film Jogja juga besar dari prestasi para sineas dan juga aktor-aktrisnya. Sebut saja Muhammad Khan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2019, melalui film Kucumbu Tubuh Indahku. Adapula Gunawan Maryanto sebagai Aktor Terbaik Piala Citra tahun 2020 dengan film Hiruk Pikuk si Al-Kisah (The Science of Fictions).
Jogja dengan banyaknya sanggar dan sekolah juga memiliki keuntungan tersendiri. Kondisi ini memungkinkan bertemu dan berkolaborasinya orang dari berbagai daerah untuk memproduksi film. Bahkan kru ataupun aktor-aktis yang terlibat dalam produksi film juga tidak selalu memiliki latar belakang pendidikan formal perfilman. Tidak jarang sineas ini lahir dari komunitas-komunitas film yang ada di Jogja.
Dari banyaknya komunitas sampai industri film di Jogja, di salah satu tulisan majalah Matajendela ada usulan pembentukan Komisi Film Daerah. Komisi ini harapannya menjadi forum atau wadah sineas film untuk saling bertemu.
“Sumber daya manusia di Jogja memang agak lain dari kota besar yang ada di Indonesia, terutama pasca reformasi. Di Jogja banyak sanggar, kampus, dan sekolah, sehingga Jogja memungkinkan bersatunya orang-orang dari seluruh Indonesia. Menjadi potensi di bidang kesenian, terutama di bidang film,” kata Latief.
Banyak pula film yang menjadikan Jogja sebagai latarnya. Hal ini terutama dilakukan sineas luar Jogja. Ada kemungkinan, latar Jogja yang merupakan kolaborasi tradisional dan modern menjadi kekuatan melankolis luar biasa.
Keadaan ini semakin lengkap dengan banyaknya festival film di Jogja, baik yang tingkatnya daerah, nasional, maupun internasional. Beberapa festival film di Jogja yaitu Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Festival Film Dokumenter (FFD) dan Festival Film Pelajar. Selain sebagai ruang apresiasi film, festival juag tidak jarang menjadi ruang bertemu dan berkolaborasi antar sineas.
Melalui festival-festival, sineas Jogja juga bisa melawan arus pasar film di Indonesia. banyak film dengan cerita, konten, atau distribusi yang berbeda dari pasar umum. “Jogja memungkinkan [sineas film] melawan arus pasar perfilman di Indonesia,” kata Latief.
“Jogja yang kemudian dilabeli Kota Sinema menjadi paket lengkap. Ada festivalnya, ada sineman, dan ada film maker-nya. Mungkin tidak berlebihan dan semoga tidak salah bahwa Jogja menjadi salah satu kota yang dunia perfilmannya tumbuh. Apalagi di masa pandemi banyak karya yang bermunculan.”
Dengan majalah ini, Latief berharap masyarakat bisa memiliki sebuah catatan, bahwa pada suatu masa di saat pandemi, ada ‘ledakan’ yang mengangkat dunia perfilman di Jogja. Tidak hanya tentang film, catatan-catatan sejarah ini juga terdapat di edisi-edisi lain majalah Matajendela yang terbit sejak 2008. Seperti edisi pertama di 2021 misalnya, ada pembahasan tentang kreativitas seniman di masa pendemi.
Di masa pandemi ini, segala sesuatunya susah diprediksi. Seperti saat ini, ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Menurut Kepala TBY, Diah Tutuko Suryandaru, untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan kasus Covid-19, TBY menunda semua aktivitas yang sebelumnya sudah terjadwal.
“Selama PPKM Darurat, di TBY aktivitas event sementara ditunda sampai 20 Juli sambil nanti kami informasikan selanjutnya. Intinya semua aktivitas seni di TBY tidak ada saat ini,” kata Kepala TBY, Diah.

Dengan adanya majalah yang bisa tetap terbit tanpa kendala berarti dari pendemi, harapannya TBY tetap bisa menyapa masyarakat dengan produk-produknya.