Menkes Sebut Kapasitas Tempat Tidur Covid di DIY & DKI Jakarta Paling Gawat

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, Minggu (4/7/2021). - Antara/Hendra Nurdiyansyah
14 Juli 2021 14:07 WIB Mia Chitra Dinisari Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan tempat tidur rumah rakit yang menjadi perhatian utama adalah di DKI Jakarta dan di DIY.

Pasalnya, katanya, dua wilayah itu kini ketersediaan tempat tidur kian menipis sedangkan kasus terus naik. Dia mengatakan jika kasus positif harian dalam satu hingga dua pekan ini terus mengalami tren kenaikan sebesar 2-3 persen sehingga dua wilayah itu akan kekurangan tempat tidur pasien Covid-19 dan juga ICU.

BACA JUGA: DPR Dukung Perpanjangan PPKM Darurat, dengan Catatan...

Dia sudah menyiapkan sejumlah strategi jika kasus mengalami perburukan sebesar 30 persen bahkan 60 persen dari ketersediaan tempat tidur.

"Strategi untuk Jakarta dan Yogya [DIY] berbeda. Saat ini, Yogya yang sudah terisi sebanyak 2.000-an tempat tidur dengan BOR [bed occupancy rate atau tingkat keterisian tempat tidur] 91 persen paling tinggi. Tapi, tempat tidur secara keseluruhan ada 8.200. Khusus isolasi ada 2.500, dan yang terisi 2.400 Jika kasus bertambah, maka tempat tidur bisa mengkonversi dari tempat tidur umum sekitar 2.000an. Sehingga jadi 4.000 tempat tidur, dan membuat tekanan BOR turun dari 90 persen ke 60 persen," paparnya dikutip dari akun Youtube DPR saat rapat kerja DPR dengan Kemenkes dan BPOM.

Sementara itu, katanya, untuk Jakarta saat ini tempat tidur yang sudah terkonversi yakni sebanyak 50 persen jadi butuh strategi berbeda, dengan mengubah satu RS besar menjadi RS khusus Covid.

Langkah ini, menurutnya bisa juga diterapkan di RS wilayah lain jika BOR-nya sudah naik dan tempat tidur sudah 60%.

"Yang paling bagus memanfaatkan yang sudah ada, seperti yang ada tempat tidur dan kamar mandi. Di Jakarta kita pakai RS wisma Haji dari 900 kamar bisa dipakai 700an, plus satu gedung juga bisa dipakai ICU sebanyak 100 tempat tidur," paparnya.

Budi memaparkan sejak awal Kemenkes sudah menetapkan jika alokasi tempat tidur di RS untuk pasien Covid-19 sebesar 30% dialokasikan untuk pasien covid-19.

Adaun total tmpat tidur di seluruh Indonesia sekitar 400.000. Dengan alokasi 30 persen untuk pasien covid jadi sekitar 120.000.

Saat sebelum lebaran, keterisian tempat tidur hanya 23.000, tapi, 6-7 minggu sampai sekarang sudah naik jadi 90.0000 tempa tidur yang terpakai untuk pasien Covid-19.

"Secara gradual meningkat terus. Sekarang 107.000 yang terisi dan bisa naik menjadi 120.000 tapi sulit naik di atas angka itu lagi karena kapasitasnya cuma bisa 30 persen," tegasnya.

Budi juga menegaskan kasus sekarang terus naik bukan hanya terkonsentrasi di pulau Jawa saja, tapi juga menyebar ke Lampung, Kaltim, Sumsel, Papua Barat, Kepulauan Riau.

"Penyebaran dan peningkatannya ini ciri-ciri varian mutasi Delta," tutupnya.

Sumber : JIBI/Bisnis.com