PPKM Level Empat Diperpanjang, Pelaku UMKM Menjerit Omzet Turun

Bambang Suryanto, 40, Kepala Pemasaran De Cends Aloe Vera, saat mengupas kulit lidah buaya sebelum diubah menjadi sejumlah produk olahan di gerainya yang berada di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo, pada Rabu. (4/8/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
05 Agustus 2021 03:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor terdampak pandemi Covid-19. Kebijakan Pemerintah Pusat yang tetap melanjutkan PPKM level empat hingga 9 Agustus 2021 semakin memperburuk kondisi karena omzet terus merosot.

Salah satu pelaku UMKM di Kulonprogo yang terdampak oleh pandemi Covid-19 adalah Christiyaningsih, 41, warga Kapanewon Pengasih, Kulonprogo mengatakan omzetnya selama pandemi Covid-19 dan ditambah lagi dengan diperpanjangnya PPKM level 4 menjadi momok bagi dirinya.

"Pendapatan saya menurun. Bahkan, hingga mencapai 30 persen. Pandemi Covid-19 memang menjadi biang keladinya. Apalagi, diterapkannya PPKM level empat ya. Dampaknya juga kami rasakan," kata Christiyaningsih pada Rabu (4/8/2021).

Omzetnya dari menjual produk olahan lidah buaya atau yang bernama latin Aloe Vera tersebut awalnya bisa mencapai Rp6 juta per bulannya. Akan tetapi, sejak adanya pandemi Covid-19 terlebih diterapkannya PPKM level empat di wilayah kabupaten Kulonprogo pendapatan Christiyaningsih menurun drastis.

"Omzet itu menurun hingga 30 persen. Omzet yang tadinya Rp6 juta, setelah pandemi Covid-19 terlebih diberlakukannya PPKM level empat pendapatan kami hanya mencapai Rp1,8 juta," kata Christiyaningsih.

Baca juga: Hingga Akhir Agustus, Pengelolaan RS Darurat Covid-19 Respati Sleman Dibiayai Pemkab

Produk olahan lidah buaya yang dibuat oleh Christiyaningsih beserta dua karyawan dan suaminya tersebut memang sudah cukup terkenal di wilayah kabupaten Kulonprogo. Produk olahan lidah buaya besutan Christiyaningsih sudah menghiasi sejumlah toko oleh-oleh di wilayah Jogja dan sekitarnya.

"Kami olah Aloe Vera menjadi cendol Aloe Vera, dodol Aloe Vera, minuman serbuk Aloe Vera, dan kemudian yang lebih awet lagi ada camilan Aloe Vera. Kami mulai usaha itu dari September 2019. Produk olahan lidah buaya kami semua di bawah merek De Cends Aloe Vera," ujar Christiyaningsih.

Sementara itu, Bambang Suryanto, 40, Kepala Pemasaran De Cends Aloe Vera mengatakan demia bertahan di tengah pandemi Covid-19, dirinya terus melakukan promosi produknya baik melalui offline maupun online. De Cends Aloe Vera sendiri mempunyai gerai yang berada di di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo.

"Kami sadar betul promosi produk itu lebih signifikan hasilnya jika dilakukan secara online atau daring. Baik melalui Instagram kami yakni @decends_official. Serta, update status di WhatsApp ya," kata Bambang.

Lebih lanjut, Aloe Vera yang digunakan oleh de cends Aloe Vera khusus menggunakan jenis Sinensis. Sedangkan, Aloe Vera yang khusus digunakan untuk kosmetik sendiri berjenis barbadensis.

"Limbah Aloe Vera juga masih bisa dimanfaatkan untuk dibuat sejumlah produk. Seperti kulit Aloe Vera yang bisa dijadikan sebagai teh. Prosesnya mudah ya. Dikeringkan dulu, setelah itu dioven. Setelah matang, kemudian ditumbuk hingga menjadi serbuk dan siap disajikan," kata Bambang.