Museum Intro, Panduan Menjelajahi Kotagede Secara Lengkap

Penampakan Museum Intro Living Kotagede sedang dalam tahap pengembangan beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Sirojul Khafid
06 Agustus 2021 06:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY tengah mengembangkan Museum Intro sebagai penunjang Living Museum Kotagede. Di Meseum Intro ini, nantinya pengunjung akan mendapat gambaran potensi-potensi kekayaan Kotagede dengan lebih komprehensif.

Secara garis besar, Living Museum Kotagede merupakan tempat untuk melihat dan memahami warisan budaya langsung dari masyarakatnya, yang sampai saat ini masih melestarikannya. Konsep yang telah dikembangkan sejak tajun 1990-an dianggap mampu melibatkan peran serta masyarakat Kotagede dengan lebih nyata, terutama dalam hal pelestarian dan pemanfaatan peninggalan budaya yang bersifat tangible maupun intangible.

Menurut Kepala Seksi Permuseuman Disbud DIY, Wisamarini, Museum Intro ini bisa memudahkan masyarakat dalam menjelajahi Kotagede.

"Museum Intro ini menjadi pintu masuk. Ada informasi berupa video, poster, dan visual lainnya terkait empat klaster Living Museum Kotagede ini," kata Wisamarini, Kamis (5/8/2021).

"Dengan gambaran ini, masyarakat bisa memiliki gambaran utuh potensi di Kotagede dan bisa memilih ingin mengunjungi klaster yang mana."

Hal ini bisa memudahkan masyarakat dalam memilih jalur sesuai keinginan atau kebutuhan. Serta kemungkinan terlewatnya informasi potensi budaya oleh pengunjung bisa diminimalisir. Bahkan tidak menutup kemungkinan, masyarakat yang belum punya niatan ke Kotagede, dengan melihat informasi di Museum Intro menjadi tergugah untuk berkunjung.

Adapun rencana pembukaan Museum Intro secara terbatas akan dilaksanakan akhir 2021 ini. Ke depannya, tidak menutup kemungkinan museum akan menambahkan beberapa barang koleksi sebagai pendukung informasi.

"Sebenarnya dulu dari masyarakat Kotagede sudah membuat meseum, benda-bendanya juga milik masyarakat sekitar. Namun gempa 2006 meruntuhkan bangunan museum tersebut. Dampaknya, banda-benda di museum tersebar," kata Wisamarini.

"Baru diusulkan lagi sekitar tahun 2019."

Empat Klaster

Adapun empat klaster Living Museum Kotagede yaitu situs arkeologi dan lanskap sejarah; kemahiran (teknologi) tradisional; sastra, seni pertunjukan, adat tradisi, dan kehidupan keseharian; serta pergerakan sosial kemasyarakatan.

Dalam klaster arkeologi dan sejarah misalnya, pengunjung bisa melihat peninggalan berupa artefak, bangunan, cagar budaya, dan lainnya. Untuk klaster kemahiran tradisional memuat informasi peninggalan arsitektur dan kriya perak.

"Klaster sastra, seni pertunjukan, adat tradisi melingkupi kemampuan kreasi seni serta kuliner khas Kotagede seperti Kipo dan Waru. Sementara klaster pergerakan sosial terkait dengan perjalanan sejarah terkait muncul dan berkembangnya organisasi sosial dan kemasyarakatan kotagede. Termasuk perannya dalam kemerdekaan Indonesia," kata Wisamarini.

Dengan adanya Living Museum Kotagede, harapannya ada angin segar untuk masyarakat menikmati budaya. Tidak hanya pulang dengan tangan hampa, namun banyak nilai dari interaksi masyarakat sekitarnya.

Sementara adanya Museum Intro ini, Wisamarini berharap terjadi hubungan yang saling menguntungkan, terutama untuk masyarakat sekitar. Semoga nilai-nilai yang ada di Kotagede semakin terangkat dan bisa berdampak baik juga pada perekonomian masyarakat sekitar.

"Setelah museum dibuka, masyarakat bisa mendapatkan informasi terkait Kotagede. Masyarakat sekitar juga bisa semakin sadar akan potensi yang mereka miliki," kata Wisamarini.