Sering Longsor, Talut Jalan di Ngelosari Dibangun dengan Program Padat Karya

Warga RT5 Ngelosari, Srimulyo, Piyungan mulai menggarap talut jalan melalui program padat karya anggaran BKK DIY pada Sabtu (7/8/2021). - Ist/dok
09 Agustus 2021 06:17 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Program padat karya yang menyasar berbagai pembangunan infrastruktur pedesaan mulai bergulir. Tidak hanya meningkatkan infrastruktur desa, padat karya juga ikut memberdayakan warga terdampak pandemi.

Di wilayah Ngelosari, Srimulyo, Piyungan, program padat karya anggaran BKK DIY digelontorkan untuk pembangunan talut jalan. Ketua Kelompok Padat Karya, Ngelosari RT 5, Winarno menuturkan sebelumnya kondisi talut hanya berupa susunan batu kosong yang belum permanen. "Dulu kondisinya belum ada pasangan batu secara permanen. Baru batu kosongan," terangnya pada Minggu (8/8/2021).

Sebagai jalan alternatif warga beberapa padukuhan, intensitas pemakai jalan di kawasan tersebut cukup tinggi. Sayangnya, hampir setiap musim hujan jalan tersebut sering longsor. "Terus sering kalau musim hujan itu longsor. Ini jalannya kan boleh dibilang jalan pokok kalau di RT kami. Karena jalur alternatif, jalan tembus sampai dusun yang lain jadi banyak yang lewat sini," ungkapnya.

Baca juga: Mobilitas Warga di DIY Diklaim Turun 30%

"Boleh dibilang sering longsor. Pertama itu karena masih batu kosongan. Kedua sebenarnya jalannya sudah di cor dua jalur, ada yang sudah full juga, tapi kalau tidak diimbangi bangket jalan yang kuat kan jalannya cepat rusak juga. Pecah-pecah karena tanahnya jadi labil, enggak mapan gitu," tandasnya.

Dampaknya ketika longsor terjadi, arus mobilitas warga disebutkan Winarno jadi kurang lancar kendati masih bisa dilewati. "Ya masih bisa dilewati, cuma badan jalannya yang tergerus. Jadi ya memang harus hati-hati, pelan-pelan apalagi kalau berpapasan," tambahnya.

Mengingat beberapa kondisi di atas dan pentingnya pembangunan talut jalan, Winarno bersyukur program padat karya anggaran BKK DIY dapat mendanai perbaikan talut jalan yang ada. "Butuh penguatan jalan ini. Akhirnya kita mengajukan itu. Jalan Ngelosari ini bisa tembus ke dusun Payak Tengah, bisa juga ke Kabregan, bisa tembus ke Ngijo Jombor. Jadi ini bisa jadi jalan alternatif, jalan tembus," ujarnya.

Baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Datang ke Sleman untuk Pantau Pelaksanaan Covid-19, Ini yang Dilakukan

Secara teknis, Winarno menerangkan talut jalan sepanjang 73,69 meter bakal dipugar menggunakan campuran semen, pasir dan batu putih. "Batu kosongannya kami bongkar, kemudian kami gali agak lebih dalam lagi biar kuat. Supaya lebih kuat fondasinya sesuai gambarnya. Kemudian baru kami pasang baru putih terus di semen," jelasnya.

Adanya program padat karya disambut baik oleh warga Ngelosari. Tidak hanya membuat talut jalan yang representatif, padat karya juga dinilai Winarno dapat memberdayakan warga terdampak.

"Alhamdulilah luar biasa ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Di samping nanti ada jalan yang baik, ini juga bisa dapat menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat yang kita kerjakan di situ. Rata-rata kalau di sini pada buruh tani. Jadi ini juga lumayan membantu lah," ungkapnya.

Winarno berharap dengan diperbaikinya talut jalan di Ngelosari, akses penduduk bisa lancar tanpa harus was-was saat longsor. "Harapannya ini nanti bisa bermanfaat terutama untuk penduduk sini. Kemudian nanti bisa berlanjut," tuturnya.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menyampaikan setidaknya ada dua manfaat dari pelaksanaan proyek padat karya. "Pertama tersedianya infrastruktur pedesaan yang memadai. Kedua, tersedianya kesempatan kerja bagi kelompok kerja yang beranggotakan masyarakat Bantul," ujarnya.

"Program padat karya memberikan kesempatan bekerja pada proyek padat karya ini. Apalagi di tengah pandemi kita membutuhkan banyak proyek yang bisa menyerap tenaga kerja untuk peningkatan kesejahteraan," tandasnya.

Program padat karya secara serentak mulai dikerjakan di 60 lokasi di Kabupaten Bantul. Program bersumber dari anggaran Bantuan Keuangan Khusus (BKK) DIY ini akan digulirkan selama 18 hari kerja mulai 4-26 Agustus 2021 dengan total 3.120 tenaga kerja diberdayakan.

Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul, Aris Suharyanta menerangkan program padat karya memiliki beberapa tujuan di antaranya menekan angka pengangguran, setengah penganggur dan masyarakat miskin. Selain itu, adanya program padat karya menurut Aris akan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pusat pelayanan sosial dasar mulai dari kesehatan, pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian. (ADV)