Disbud DIY Libatkan Mahasiswa dalam Upaya Membumikan Nilai Budaya

Diskusi Yogyakarta Menuju Kota Warisan Budaya Dunia yang disiarkan melalui Youtube Harian Jogja. - Youtube
18 Agustus 2021 07:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kebudayaan DIY melibatkan sejumlah komponen masyarakat seperti mahasiswa baik dari DIY maupun luar DIY dalam melakukan upaya penerapan atau pembumian nilai budaya. Salah satu nilai luhur warisan budaya yang perlu dipahami dan diterapkan adalah sumbu filosofi Kota Jogja.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan peran pemuda sangat penting dalam upaya pengajuan sumbu filosofis sebagai warisan budaya dunia. Karena pemuda akan mewarisi berbagai nilai budaya tersebut ke depannya sehingga harus ikut memahami keberadaannya. Bahkan anak muda akan menjadi ujung tombak dalam rangka melestarikan Jogja menuju warisan budaya dunia.

“Tahapan menuju tingkat internasional ini merupakan tahapan bahwa dunia internasional juga respek dengan budaya kita. Kalau tidak dikondisikan, maka ini sebenarnya sia-sia. Prinsipnya bhawa Jogja sebagai daerah istimewa maka dengan cara ini mencoba mempertahankan dan melestarikan keistimewaan," katanya dalam diskusi Yogyakarta Menuju Kota Warisan Budaya Dunia yang disiarkan melalui Youtube Harian Jogja.

Ia mengatakan keistimewaan ini berkaitan dengan tingkah laku, tata nilai. Hal ini kadang menjadi bahasan kurang menarik bagi kalangan anak muda. Tetapi karena mereka lahir dari akar budaya, maka anak muda tetap harus diperkenalkan dengan nilai budaya. Sejumlah tata nilai yang terkandung dalam sumbu filosofi harus menjadi inspirasi bagi anak muda ke depan. Sehingga secara perlahan tata nilai tersebut berproses untuk diterapkan dalam kehidupannya.

“Contohnya, kalau anak muda ini memahami bahwa Jogja ini dibangun berdasarkan tata nilai budaya, maka ketika terjebak macet di sekitar Malioboro mereka akan tetap sabar, tidak marah, karena dia bisa mengingat bagaimana luhurnya nilai yang terkandung di sumbu filosofi termasuk Malioboro itu. Bahwa jalan Margomulyo itu ada maknanya tentang godaan hidup, kita kuat enggak, itu godaan sehingga kalau macet tidak usah marah,” ujarnya.

Dian mengibaratkan berbagai atribut di sepanjang sumbu filosofi seperti sumur yang tidak ada habisnya karena banyak inspirasi untuk digali dan bisa untuk mengembangkan kreativitas. Ia menilai sangat menarik jika kalangan anak muda berani menjadi warisan nilai budaya itu sebagai identitas mereka.

Dian menyatakan dalam rangka menjaga warisan nilai budaya ini tidak bisa hanya diampu oleh Dinas Kebudayaan sendiri. Tetapi butuh sinergi berbagai pihak sebagai kerja kolaborasi. Karena nilai yang akan diangkat sebagai warisan dunia ini bukan hal yang mudah, temanya cukup berat. Pengajuan Jogja sebagai warisan budabisa hidup dan memaknai kehidupan di sumbu filosofi.

“Bicara filosofi generasi itu berat, nah bagaimana kita membumikan sesuatu yang berat menjadi ringan, populer. Terpenting menyangkut pada style generasi muda saat ini,” ucapnya.

Adapun program untuk mengkondisikan hal tersebut, mulai dari sosialisasi, edukasi publikasi yang setiap tahun dievaluasi. Proses itu tentu dilakukan dengan bahasa anak muda. Sasarannya tidak hanya generasi muda namun juga anak-anak karena ke depan menjadi penerus. Namun ia juga meminta masukan dari generasi muda terkait program dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk ikut berperan. Bentuk kegiatannya bsia meluas di berbagai bidang seperti tradisi, warisan budaya.

“Bisa melibatkan mahasiswa yang berasal dari luar daerah, salah satunya yang sudah berjalan, seperti kegiatan Selendang Sutra, ini mengaktifkan mahasiswa luar DIY. Mereka digandeng untuk bisa ikut memahami budaya lokal Jogja,” katanya.

Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia Suyata menambahkan sumbu filosofi merupakan tata ruang kota yang diciptakan dengan penuh makna setiap titiknya. Sumbu filosofi yang di sepanjang ada Kompleks Kepatihan, Pasar Beringharjo hingga panggung Krapyak merupakan simbol wujud bendanya. Adapun wujud tak bedanya yang biasa dikenal dengan sangkan paraning dumadi. Merupakan konsep yang diambil oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dari sisi manusia berproses dari lahir hingga meninggal dunia atau menuju ke Tuhan.

“Harapan kami kaum muda memahami keberadaan sumbu filosofi dengan memahami bahwa ternyata berbagai hal yang ada di sepanjangnya ini ada konsepnya. Kalau sering melihat kreativitas tidak didasari kan tidak punya konsep, ini penting ke depannya,” ungkapnya.

Diajukan ke Unesco

Keistimewaan dari sumbu filosofi ini yang bisa diajukan ke Unesco antara lain dari sisi tradisi, bangunan. Proses sudah dikaji cukup panjang sejak 2014 secara lokal hingga 2017 kemudian diusulkan menjadi warisan dunia. Proses pengusulan sudah dinilai karena telah memenuhi nilai yang luar biasa, terdiri ada empat yang di antaranya karya kreatif, pertukaran tradisi.

“Kemudian masuk ke tentatif list untuk diajukan, harus ada dokumen termasuk manajemen perencanaan. Kemudian baru dinilai oleh Unesco lalu disidangkan di Paris baru ditetapkan. Setelah ditetapkan bukan berhenti tetapi harus menjalankan semua yang ada di dokumen yang diajukan,” ucapnya.

Suyata mengatakan sumbu imajiner merupakan sumbu tidak nyata menghubungkan tiga titik antara Gunung Merapi, Kraton dan Pantai Selatan. Hal ini memiliki makna tinggi sebuah proses dilambangkan adanya pemerintahan, laut dan gunung. Sedangkan sumbu filosofi merupakan kawasan dengan batas tertentu yang masuk dalam urusan cagar budaya. Kawasan ini diapit oleh Sungai Code dan Sungai Winongo, kemudian ada zona inti, zona penyangga.

"Jika sumbu filosofi ini sudah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia maka dampaknya lebih ke internasional, akan menjadi berbagai tujuan, mulai penelitian, wisata. Maka peran kaum muda diharapkan ikut terlibat karena memiliki potensi yang besar," ujarnya.

Kelebihan sumbu filosofi Kota Jogja tidak ditemukan di negara lain melalui tata ruang yang mengandung makna nilai budaya. Keberadaan Tugu yang dahulu berbentuk golong gilig menggambarkan bentuk kerja sama, sistem menyatu. Keberadaannya memiliki daya tarik karena diwujudkan dalam bentuk landmark. Tugu juga merupakan wujud dari perubahan zaman yang menghasilkan karya. Adapun Malioboro dari sisi filosofi merupakan tempat paling tinggi godaannya. Ia menilai saat Belanda memotong jalan mulai dari Margoutomo menuju Malioboro dengan rel kereta api merupakan bagian dari godaan.

“Kepatihan itu godaan dari sisi tahta, pasar beringharjo godaan dari sisi ekonomi, inilah konsep sebenarnya, Kraton ada Masjid, Pasar. Jalan ini menghubungkana danya sebuah godaan. Kalau Pasar Beringharjo itu kita pahami sebagai godaan maka akan bermanfaat bagi diri kita sendiri, bahwa hidup harus seperti ini,” katanya.