Target Vaksin Booster Nakes di Kota Jogja Mundur, Ini Penyebabnya

Ilustrasi vaksinasi Covid-19. - Harian Jogja/Desi Suryanto
24 Agustus 2021 11:07 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kesehatan Kota Jogja menyebut pemberian vaksin dosis ketiga (booster) kepada tenaga kesehatan (nakes) di wilayah itu disinyalir bakal mundur dari target yang ditentukan. Musababnya, terdapat sejumlah nakes yang berstatus sebagai penyintas Covid-19 dan mesti menunggu waktu selama tiga bulan agar boleh menerima vaksin booster.

"Target kami sebenarnya Agustus ini selesai ya semua nakes booster-nya, tapi kan ada nakes yang kemarin misalnya kena Covid-19, kan harus menunggu tiga bulan dulu. Jadi kalau belum semua dan targetnya tidak sampai ya karena itu.," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani, Selasa (24/8/2021).

BACA JUGA: 48 Kalurahan di Kulonprogo Terima BKK Danais untuk Covid-19

Emma menerangkan, pihaknya menargetkan sebanyak 12.000 lebih nakes memperoleh vaksin booster. Sementara hingga akhir pekan lalu baru sebanyak 3.000 nakes atau sekira 25 persen yang telah memperoleh vaksin booster. Menurut dia, pemberian vaksin booster kepada nakes juga tidak hanya terbatas kepada dokter, perawat atau petugas yang terlibat langsung terhadap penanganan pasien Covid-19 saja, melainkan vaksin booster juga diberikan bagi petugas lain yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19.

"Kemarin itu yang ikut dan menerima dosis satu dan dua ada sebanyak 12.000 dan ini semuanya diikutsertakan. Jadi nakes disini bukan hanya dokter dan perawat saja ya, tapi semua tenaga yang bertugas disana, misalnya petugas kebersihan, dan lain itu juga ikut," ungkapnya.

Vaksin booster bagi nakes itu telah diberikan sejak pekan kedua Agustus lalu dan masih berjalan sampai saat ini. Emma memastikan stok vaksin booster bagi para nakes tersedia dengan jumlah yang cukup. Pemberian pun dilakukan secara cermat dan bertahap. "Karena vaksinnya itu kan pakai Moderna dan untuk satu vial itu 14 dosis ya sehingga kita harus menghitung dan benar-benar akurat, misalnya minggu ini dan hari ini berapa dan dipastikan benar-benar kelihatan 14 sehingga tidak ada yang terbuang," ujarnya.

Di sisi lain dalam pemberian vaksin booster kepada nakes tersebut pihaknya benar-benar memperhatikan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang ditimbulkan dari vaksin jenis itu. Menurut Emma, bagi nakes yang berusia muda, KIPI maupun efek samping yang dirasakan bakal cukup signifikan.

"Ini yang sudah kita lakukan dan karena KIPI nya ini untuk yang lebih muda agak signifikan ya, misalnya bengkak atau yang lain. Ini kan mesti juga diperhitungkan agar layanan yang ada di faskes itu tidak terganggu," kata Emma.

Oleh karena itu, pihaknya memastikan agar proses screening sebelum vaksin booster diberikan berjalan dengan optimal agar KIPI yang dirasakan tidak terlalu signifikan. "Kalau usianya semakin tinggi itu KIPI nya semakin ringan, karena memang semua vaksin pasti ada efek samping dan reaksi tubuh masing-masing orang pastinya berbeda ya, nah ini yang penting pada waktu ada screening dengan harapan KIPI nya bisa diminimalisir," ujarnya.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi menyebut, beberapa waktu yang lalu pihaknya mendapat distribusi vaksin jenis Moderna sebanyak 8.400 dosis yang dikhususkan bagi para nakes. KIPI terhadap penggunaan vaksin jenis itu juga menjadi perhatian pihaknya, untuk meminimalkan pengaruh yang ditimbulkan kepada nakes maupun program vaksinasi massal.

"Memang harus diperhitungkan dengan matang karena Moderna ini KIPI nya agak lama ya, bisa sehari dua hari, sehingga otomatis akan berpengaruh terhadap kesediaan nakes dan kemampuan memvaksin bisa turun atau berkurang kalau terkena kepada teman-teman. Jadi memang harus dihitung agar dosis ketiga untuk nakes ini tidak akan mengurangi kecepatan vaksinasi yang akan kita lakukan," jelasnya.