Ketiga Kalinya, Mural di Tembok SD Tukangan Dihapus Petugas

Petugas gabungan mengecat ulang tembok yang sebelumnya berisi mural bernuansa kritik di kawasan Pakualaman, Senin (30/8/2021). - Ist/Dokumentasi
30 Agustus 2021 17:37 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Petugas gabungan kembali menghapus mural bernuansa kritik yang terpampang di sepanjang tembok SD Negeri Tukangan, Pakualaman, Senin (30/8/2021). Penghapusan mural itu sudah yang ketiga kalinya di tembok yang sama.

Sedikitnya ada 10 petugas yang terdiri dari personel Sat Pol PP, TNI, Polri dan petugas dari Kemantren Pakualaman yang ikut serta mengecat kembali tembok itu.

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Tukangan, Sardi mengatakan, mural itu diketahui pihak sekolah pertama kalinya pada Selasa 24 Agustus. Karena pesan yang disampaikan dalam mural dinilai tidak tepat, pihaknya kemudian menghapusnya keesokan harinya.

Baca juga: Vaksin untuk Remaja di Indonesia Belum Merata

Namun kemudian pada Kamis 26 Agustus, pihaknya kembali mendapati tembok telah berisi mural dengan pesan yang diklaimnya tidak mendidik. Padahal, mural itu berada di lingkungan yang sangat dekat dengan sekolah. Akhirnya mural kembali dihapus.

"Dan ini yang ketiga kalinya kami lihat Sabtu 28 Agustus lalu. Padahal kemarin itu bahkan kami sampai malam berjaga, Jumat itu kami pulang jam 22.00 Wib dan itu masih bersih terus pagi harinya tulisan sudah banyak sekali. Jadi kami kira itu dibuat Sabtu dini hari," katanya.

Sardi menyebut, tembok yang memanjang itu dulunya memang kerap dipakai para seniman jalanan atau para pemuda untuk berkreasi. Pihaknya pun memperbolehkan, namun dengan catatan mural yang dibuat wajib memuat pesan yang positif dan mendidik.

Baca juga: Kejati DIY Limpahkan Berkas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Bank Jogja ke Pengadilan

"Dan memang ini sudah lama jadi tempat seniman jalanan berkarya atau menyampaikan pesan, kami memang perbolehkan dengan tujuan agar mereka bisa berekspresi," jelasnya.

Menurut Sardi, alasan utama pihaknya dalam menghapus mural itu adalah pada tulisan maupun muatan mural yang kurang sopan. Ditakutkan, pesan yang disampaikan itu bisa memicu hal negatif atau mempengaruhi orang dengan cara yang salah.

"Misalnya mau mengekspresikan ya silahkan, dan karena ini berdekatan dengan dunia pendidikan hendaknya muralnya bisa sejalan dengan semangat itu. Kalau yang begini dibiarkan kan imbas nya lama tidak baik. Ajakan tentang apa misalnya dan yang baik, monggo. Kalau sekarang ini untung saja belum belajar tatap muka, kalau kelihatan sama anak kan cukup memprihatinkan," ujar dia.

Sardi menyebut bahwa, pihaknya juga telah melaporkan mural itu kepada Polsek setempat serta dinas terkait. Laporan yang dilayangkan bukan pada sisi hukum melainkan lebih kepada pengawasan agar lokasi itu tidak lagi digambari mural dengan nuansa yang negatif menurut pihaknya.

"Laporan ke Polsek Pakualaman dan juga dinas sebagai pemberitahuan saja, biar ada pengawasan dan bisa dibimbing secara persuasif kalau misalnya tahu pelakunya," kata Sardi.