Pasar Bantul Sepi, Banyak Dagangan Tak Laku

Pedagang kebutuhan pokok Pasar Bantul menyampaikan turunnya penjualan pada Senin (30/8/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
30 Agustus 2021 17:17 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Situasi pasar tradisional di Bantul masih sepi. Tak jarang hasil penjualan dalam sehari tak mampu menutupi biaya kulakan di hari yang sama.

Salah satu pedagang Pasar Bantul, Ami, pada Senin (30/8/2021) menuturkan penjualan kebutuhan pokok selema PPKM memang menurun drastis. Ketatnya peraturan penyelenggaran hajatan dan menurunnya kulakan dari kalangan pemilik warung makan, membuat penjualan kebutuhan pokok menurun.

"Enggak tahu pada ke mana pembelinya, sepi banget, menurun. Ada hajatan tapi kan enggak seperti biasa [pembeliannya]. Ini sejak tadi enggak ada orang," tambah Ami.

Baca juga: Kejati DIY Limpahkan Berkas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Bank Jogja ke Pengadilan

Penurunan harga terjadi di berbagai komoditas, menyusul situasi penjualan yang lesu. Komoditas cabai menjadi salah satu kebutuhan pangan harian yang merosot jauh.

"Halah orang ini enggak laku semua yo enggak naik mas. Dijual murah aja enggak laku, kok naik," tandasnya.

Di los milik Ami, harga berbagai jenis cabai paling mentok di harga Rp12.000 per kilogram. Dengan harga segitu, konsumen bisa memborong cabai merah, cabai lalapan, sampai cabai rawit yang dikenal mahal sekalipun. Saking lamanya di los pasar, Ami memilah cabai yang sudah berubah warna memerah karena tak kunjung laku.

"Cabai enggak ada harganya, kasihan petani. Dari sananya Rp10.000 per kilogram, paling nanti jualnya Rp12.000 per kilogram," ujarnya.

Baca juga: Perluas Capaian Vaksinasi, Pemkot Operasikan Mobil Vaksin

"Kadang dijual Rp10.000 per kilogram pun enggak laku [bakbuk]. Karena saking banyaknya cabai enggak ada yang beli. Itu cabai lalapan saya enggak laku, cuma satu kilogram masih segini [banyak] kaya masih utuh," tandas Ami.

Komoditas lain yang ikut turun harganya adalah telur ayam. Satu kotak telur ayam seberat 15 kilogram dihargai Rp260.000 per kotak. Padahal biasanya satu kotak telur ayam dibanderol dengan harga Rp 300.000 per kotak, bahkan lebih.

Turunnya penjualan yang diiringi turunnya harga berbagai komoditas, sampai-sampai tak bisa dihitung lagi kerugian yang diperoleh Ami. "Enggak bisa dihitung pendapatannya, bayar dagangan saja tidak bisa. Mau pendapatan gimana. Kulakan sehari Rp3 juta, dapat uang paling Rp1 juta lebih dikit, itu kalau pelanggan masuk semua, kalau enggak ya enggak dapat uang," ungkapnya.

Pedagang Pasar Bantul lainnya, Widi, tak jauh beda alami penurunan penjualan. Meski ada pembeli dari kalangan hajatan, diterapkannya prokes membuat tamu hanya sedikit sehingga bahan pangan yang dibutuhkan pun tak begitu banyak. Terlebih konsumen pedagang bakso maupun usaha kuliner lain pun juga mengurangi dagangannya selama PPKM yang berakibat penurunan order bahan baku.

Komoditas cabai di los milik Widi pun ikut anjlok. Kulakan 10 kilogram cabai per harinya, selalu sisa tak pernah habis dalam sehari. Cabai yang mulai menurun kualitasnya namun masih layak konsumsi akhirnya dijual murah kepada siapa yang mau ketimbang lama kelamaan busuk.

Sebagai pedagang, Widi hanya berharap pandemi segera berakhir. "Pandemi segera berakhir, semua dikasih sehat. Ekonomi pulih seperti kemarin-kemarin lagi. Petani senang, yang beli senang, yang dagang juga senang,"pungkasnya.