Seniman Perlu Berolaborasi di Masa Pandemi

dalam Diskusi daring bertema Karya dan Inovasi Seniman selama Pandemi Covid/19.Diskusi ini merupakan kolaborasi Harian Jogja dengan Satuan Tugas Penanganan Covid/19 Nasional.
08 September 2021 07:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Dalam menghadapi pandemi Covid-19, seniman perlu berinovasi dan juga berkolaborasi. Hal ini disampaikan oleh vokalis band Metalic Ass, Denison Wicaksono dalam diskusi daring bertema Karya dan Inovasi Senima selama Pandemi Covid-19.Diskusi ini merupakan kolaborasi Harian Jogja dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional.

Inovasi bisa berupa pertunjukan atau konten yang dibuat secara daring. Masih belum memungkinkannya pertunjukan secara luring membuat seniman harus memutar otak agar tetap menyalurkan karyanya. Media digital menjadi salah satu ruang yang memungkinkan.

Selain ruang digital, kolaborasi juga bisa memudahkan seniman dalam memproduksi konten digital. Metalic Ass selama pandemi tetap berkarya dengan segala keterbatasannya.

“Ketika kami biasa bergerak dari seni pertunjukan ke dunia rekam, mau tidak mau harus kolaborasi. Untungnya ada beberapa kawan yang bisa membantu. Memanfaatkan jaringan dan temen-teman kami,” kata Denison, Selasa (7/9).

Menurut Denison, pada dasarnya seniman menyukai tantangan. Meskipun dalam menghadapi tantangan, salah satunya tantangan pandemi ini bisa berbeda-beda. Bagi yang sudah terbiasa berkecimpung di dunia indie, maka pengaruhnya tidak terlalu besar. Namun bagi yang menggantungkan seluruh hidupnya di seni, seperti penyanyi di kafe atau panggung, maka akan sangat terdampak.

Meski seniman dari berbagai jenis terdampak, namun ada kecenderungan seniman yang karyanya hanya bisa dinikmati dengan dua indra atau lebih, dampaknya bisa lebih besar.

Menurut seniman dan budayawan Bambang Paningron, seni seperti tari yang hanya bisa dinikmati dengan penglihatan dan pendengaran lebih terdampak daripada musik atau visual art. Musik dan visual art bisa dinikmati hanya dengan satu indra, baik itu pendengaran saja atau penglihatan saja.

“Teman-teman di seni pertunjukan lebih banyak bermasalah [akibat pandemi].  [Dalam membuat] konten juga perlu kreativitas tertentu, agar bagaimana bahasa visual bisa benar-benar dinikmati. Kini banyak muncul kolaborasi antara videografer dan teman-teman seni pertunjukan,” katanya.

Beralih karya di dunia digital juga bukan berarti tanpa tantangan. Keterbatasan dalam melihat monitor dan energi yang tidak sama seperti saat offline, juga menjadi permasalahan yang cukup mendasar. Sehingga perlu ada penyesuaian seiring dengan perkembangan situasi terkini.

Namun perpindahan seni dari yang biasanya offline menjadi online tidak mudah bagi semua seniman, termasuk dari sisi biaya. Salah satu peserta diskusi, Zuchri Saren Satrio berpendapat apabila dana dari kelurahan bisa membantu seniman.