Agustus, 1.256 Jenazah Dimakamkan di DIY dengan Protokol Kesehatan Covid-19

Ilustrasi - Antara/Raisan Al Farisi
09 September 2021 16:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat 70 jenazah pasien yang positif maupun suspek Covid-19 yang dimakamkan dengan protokol kesehatan selama September 2021 ini. Dari 70 jenazah, sembilan meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (Isoman) di rumah. Sisanya 61 meninggal di fasilitas kesehatan atau rumah sakit.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan 70 jenazah yang dimakamkan dengan protokol kesehatan secara harian naik turun, misalnya 1 September ada empat jenazah, kemudian 2 September (5), 3 September (8), 4 September (14), 5 September (3), 6 September (10), 7 September (10), dan 8 September (7).

BACA JUGA: Studi: Polusi Kurangi 2,5 Tahun Usia Hidup Orang Indonesia

Sementara pada Agustus lalu, jumlah jenazah yang dimakamkan secara protokol kesehatan sebanyak 1.256. Dari jumlah tersebut 178 orang meninggal dunia saat isoman di rumah. Sementara sisanya 1.070 meninggal di rumah sakit.

“Namun secara angka harian menurun dari hari ke hari. Puncak tertinggi itu ada di akhir Juli dan awal Agustus,” kata Biwara, Kamis (9/9/2021).

Dia mencontohkan pada 1 Agustus total yang dimakamkan dengan prokes ada 99 jenazah. Sementara pada 31 Agustus ada 10 jenazah. Menurut dia Agustus memang tinggi, namun jika dihitung secara angka harian turun dari hari ke hari, “Trennya sudah menurun. Sangat ada penurunan paling gampang deteksinya ya paling jarang bunyi sirine,” ucap Biwara.

Meski angka kasus Covid-19 menuru,  petugas Posko Penanganan Covid-19 masih tetap berfungsi untuk jaga-jaga ketika ada kenaikan kasus. Posko Penanganan Covid-19 BPBD siaga selama 24 jam yang menerima layanan pemakaman dengan prokes.

BACA JUGA: Rekening ASN Klaten Dibobol, Ini Tanggapan Bank Jateng

Masih adanya pasien yang isoman meninggal dunia, lanjut Biwara, menjadi bahan evaluasi bagi Satgas Penanganan Covid-19 di tingkat desa untuk selalu mengedukasi pasien Covid-19. Petugas harus membujuk pasien yang rumahnya tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat isolasi.

“Langkah pertama adalah tetap membujuk supaya bisa masuk ke tempat isolasi terpusat. Sebenarnya di isolasi terpusat enak kok, ada AC, makan tiga kali sehari, dan ada pemantauan tim medis,” kata Biwara.

Biwara menambahkan saat ini banyak tempat isolasi yang disediakan pemerintah kosong, bahkan tempat Isoter yang menempati asrama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) juga kosong. Meski kosong, petugas tetap berjaga untuk mengantisipasi jika ada pasien Covid-19 yang akan menempati isoter.