Butuh Dokter Pra-Vaksinasi bagi Penyandang Disabilitas

Tangkapan layar talkshow online "Kesetaraan Vaksinasi Covid-19 untuk Penyandang Disabilitas" yang digelar Harian Jogja, Jumat (10/9). - Harian Jogja/Mediani Dyah Natalia
11 September 2021 11:27 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 bagi penyandang disabilitas tidak dapat dipukul rata. Masing-masing membutuhkan perlakuan khusus sesuai dengan jenis disabilitasnya.

Ketua Pusat Informasi dan Kegiatan (PIK) Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) DIY Sri Rejeki Ekasasi (Kiki) mengatakan kaum disabilitas fisik seperti pengguna kursi roda, masih dapat mengikuti vaksinasi dengan masyarakat umum. “Kaum disabilitas fisik ini kan juga bekerja sehingga [vaksinasinya] bisa dicampur dengan yang umum,” kata Kiki dalam talkshow  online “Kesetaraan Vaksinasi Covid-19 untuk Penyandang Disabilitas” yang digelar Harian Jogja, Jumat (10/9).

Berbeda halnya dengan penyandang disabilitas intelektual seperti down syndrome yang biasanya mengalami beberapa kondisi medis. Kiki mencontohkan, anaknya yang bernama Mirza Rahman, merupakan penyandang down syndrome. Dua bulan ini harus menjalani perawatan ginjal. Karena kondisi itu, Mirza terpaksa belum bisa mendapatkan vaksinasi.

Dari pengalamannya itu, Kiki berharap agar pemerintah juga menghadirkan layanan dokter pra-vaksinasi yang bisa memeriksa kesehatan penyandang disabilitas secara rinci. “Pemeriksaan pra-vaksinasi akan membuat orang tua merasa yakin anaknya divaksin,” tutur Kiki.

Baca juga: Indikator PPKM Tidak Hanya Berdasar Laju Penularan Covid-19, Ini Penjelasan Satgas

Di tengah gangguan kesehatan yang dialami, Mirza sebenarnya ingin mendapatkan vaksinasi. Penyandang disabilitas berusia 24 tahun ini mengaku berani untuk disuntik. Selama pandemi, ia menghabiskan waktu di rumah dengan melakukan kegiatan yang disukai seperti melukis, bersepeda, mencuci piring, hingga latihan tari virtual bersama teman-temannya.

Ia juga aktif mencari informasi seputar Covid-19 melalui siaran televisi. Bagi dia, protokol kesehatan adalah hal utama untuk menjauhkan dari paparan Covid-19. Mulai dari rajin mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, hingga menjauhi tempat yang ramai. “No hugs [tidak berpelukan].Tidak salim. Biar buminya cepat membaik,“ kata Mirza yang juga hadir dalam talkshow.  

Sementara itu,Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suhirman mengatakan dari 3.164 siswa di 79 Sekolah Luar Biasa di DIY, ada 1.940 orang yang sudah divaksin Sinopharm hingga saat ini.

Kendala

Ia menjelaskan kendala vasinasi untuk kalangan disabilitas adalah jumlah yang terbatas dan membutuhkan waktu yang panjang. “Kita tidak bisa memvaksin 1.000 [orang di satu tempat] karena memvaksin 300 itu saja di lapangan sudah ada tambahan pendampingnya masing-masing. Dari sisi waktu, menanyai anak disabilitas itu butuh waktu sampai tiga kali lipat sehingga skriningnya tidak secepat vaksinasi umum,” kata dia.

Suhirman mengatakan grafik vaksinasi penyandang disabilitas di DIY menunjukkan tren yang bagus karena dalam satu bulan bisa mencapai 60%. Namun demikian, Pamda masih menemukan orang tua yang tidak setuju jika anaknya divaksin karena alasan keyakinan. “Menghadapi orang tua seperti itu, solusi kita mendatangkan orang yang pengetahuannya di atas orang tua itu untuk diberikan pemahaman tentang pentingnya vaksin,” tutur dia. (Bernadheta Dian Saraswati)