Peninggalan Budaya Adiluhung Harus Dilestarikan

Kegiatan Jejak Tradisi Budaya Daerah yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY pada Selasa (28/9/2021). - Ist
29 September 2021 06:37 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Beberapa budaya daerah perlu dilestarikan karena memiliki nilai yang adiluhung atau tinggi mutunya. Budaya tersebut di antaranya batik, dolanan (mainan) tradisional, jamu dan makanan tradisional getuk.

Hal itu terungkap dalam kegiatan Jejak Tradisi Budaya Daerah yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY pada Selasa (28/9/2021). Kegiatan tersebut menghadirkan empat narasumber yaitu Koordinator Kampung Dolanan Anak Pandes Panggungharjo, Bantul, Sekar Mirah Satriani dan pemilik Batik Mahkota Laweyan Alpha Fabela Priyamono.

Narasumber ketiga adalah penerus Usaha Getuk Gondok Magelang, Sri Rahayu dan keempat adalah Nurcholis dari Kampung Jamu Kiringan, Jetis, Bantul. Kegiatan ini diikuti secara virtual oleh puluhan siswa dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sekar Mirah Satriani mengatakan di pada abad 18 di Pandes ada banyak pengrajin dolanan tradisional. Hampir setiap rumah di wilayah itu membuat dolanan, dari simbah (kakek-nenek) pembuat dolanan tradisional. Mereka tidak bekerja, tetapi menjadi enterpreneur.

"Namun di tahun 1980-an atau 1990-an, banyak dolanan plastik datang dari China. Dampaknya dolanan tradisional semakin hilang karena tak diminati. Jumlah pengrajin berkurang, sampai menjadi 12, lalu delapan dan sekarang tinggal dua yang bisa diliput, karena dolanan tradisional sudah tidak laku," papar Sekar Mirah Satriani.

Baca juga: Lampu PJU Malioboro Dinyalakan, IDI Peringatkan Kasus Covid-19 Melonjak

Pada saat terjadi gempa bumi 2006, wilayah tersebut terkena dampak sehingga banyak rumah ambruk. Anak-anak di kawasan tersebut pun diajak bermain dengan dolanan tradisional sebagai salah satu upaya trauma healing.

Sekar Mirah Satriani menuturkan dolanan tradisional memiliki nilai adiluhung, yaitu wicoro yang artinya berbidara, wirogo atau gerak badan, wirama yaitu berirama. "Jadi seluruh badan bergerak, tidak seperti permainan gadget yang hanya jari dan mata yang bekerja," katanya.

Ia menjelaskan Kampung Dolanan Anak dibentuk untuk merevitalisasi nilai-nilai budaya tersebut. Di tempat ini juga didirikan pojok budaya untuk melestarikan permainan tradisional.

Adapun Alpha Fabela Priyamono memaparkan batik adalah budaya indonesia yang sudah diakui dunia. Batik mengalami pasang surut jadi harus ada upaya untuk melestarikannya.

"Di kampung kami, orang datang ke Laweyan tidak hanya membeli batik tetapi bisa dimunculkan bermacam kegiatan, seperti pariwisata, wisata kreatif, salah satunya belajar batik," tutur dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut.

Batik, lanjutnya, berpengaruh terhadap karakter pencinta batik. Seorang pembatik harus teliti dan berkonsentrasi untuk menghasilkan batik yang berkualitas. Batik menjadi populer dan mamiliki nama besar karena memunculkan kemandirian dan tolong menolong.

"Untuk belajar batik itu perlu proses karena ini ketrampilan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa jika ada satu niat untuk mencintai budaya yang adiluhung, maka ini akan turut mempercepat proses pembelajaran tersebut," tuturnya.

Adapun Nurcholis menuturkan nilai keunikan jamu. Di zaman leluhur tidak ada penelitian tentang jamu. "Hanya mengatakan ngombeo iki, mari [minumlah ini, maka sembuh]. Tidak ada penelitian. Saya ingin melestarikan budaya itu, dengan membuat jamu. Siapapun anak sekolah yang datang boleh minum jamu bahkan belajar membuat jamu di tempat kami," katanya.