RSPS Bantul Soroti Masalah Rujukan BPJS, Ini Kendala Sering Dikeluhkan
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji. /Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, JOGJA- Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menyambut positif rencana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbutristek) yang akan menerapkan aplikasi PeduliLindungi di satuan pendidikan.
“Kita sambut gembira karena PeduliLindungi bisa mendeteksi secara keseluruhan, bukan hanya orang yang sudah divaksin tapi yang melakukan PCR dan antigen masuk di situ bisa memantau seseorang saat misalnya terjadi ada yang positif menjadi sarana tracing,” kata Baskara Aji, di Kompleks Kepatihan, Selasa (28/9/2021).
Namun yang menjadi persoalan, kata baskara Aji, adalah scan barcode yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan apakah siap atau tidak. Sebab sampai saat ini sejumlah instansi pemerintah dan swasta, serta perusahaan yang sudah mengajukan Scan Barcode ke Kementerian Kesehatan masih banyak belum diterbitkan.
Pihaknya memahami kelambatan Kementerian Kesehatan menyediakan aplikasi PeduliLindungi karena pengajuan bukan hanya dari DIY, melainkan skala nasional. Baskara Aji yang juga sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) DIY ini menyatakan sekolah di DIY siap menerapkan aplikasi PeduliLindungi sebagai langkah penyebaran penularan Covid-19.
Baca juga: Dibangun Mulai 2022, Tol Jogja-Bandara YIA Lewati 15 Desa di 6 Kecamatan
Terlebih hampir semua siswa juga sudah memiliki telepon selular yang bisa mengunduh aplikasi PeduliLindungi. Bahkan saat ini terdapat dua macam scan dalam aplikasi tersebut. Ada yang bisa men-scan sendiri oleh pemilik telepon dalam barcode yang sudah disediakan atau barcode dalam telepon selular yang bisa di-scan oleh petugas. “Yang tidak bisa scan sendiri bisa di-scan oleh petugasnya,” ujar Baskara Aji.
Khusus untuk siswa sekolah dasar (SD) yang belum divaksin, Baskara Aji melanjutkan tidak perlu menggunakan aplikasi PeduliLindungi, melainkan bisa langsung dicek suhu tubuh oleh petugas atau satpam sekolah atau Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah.
Kepala SMKN 1 Jogja, Elyas menyatakan siap menerapkan aplikasi PeduliLindungi jika hal tersebut merupakan kebijakan pemerintah dan sudah mendapatkan instruksi dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY.
“Kalau suatu keharusan harus ikut tapi butuh persiapan. Butuh instruksi dari Disdikpora juga petunjuknya. Yang pasti harus siap. Beberapa waktu lalu kepala Disdikpora juga pernah melontarkan untuk uji coba [penggunaan aplikasi PeduliLindungi di sekolah],” kata Elyas.
Namun secara pribadi dia berharap penerapan aplikasi tersebut menunggu sampai siswa selesai vaksin. Saat ini siswa SMKN 1 Jogja yang sudah vaksin baru sekitar 80% lebih. Sementara guru dan karyawan sudah mencapai 100%. Pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas juga sudah dilakukan sejak 20 September lalu dengan kapasitas 50% dari total 621 siswa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berpeluang menjadi ekonomi terbesar keempat dunia dalam 25 tahun mendatang.
Pemda DIY mengantisipasi dampak El Nino dengan memastikan stok pangan, pengelolaan air, dan mitigasi kekeringan di wilayah rawan.
Penyempurnaan Suzuki Xl7 Resmi Meluncur, Makin Tegas Dengan Fitur Bermakna
Changan Indonesia meluncurkan Nevo Q05 di GIIAS 2026 dengan harga mulai Rp309 juta dan telah dirakit secara lokal di Purwakarta.
GIIAS 2026 menghadirkan deretan mobil baru dari Mazda, Toyota, Lexus, Suzuki, hingga Hino dengan teknologi hybrid dan EV.