Biennale Jogja XVI Equator #6 2021: Membaca Sejarah Oceania demi Identitas Indonesia

Pengunjung sedang menikmati karya dalam gelaran Biennale Jogja XVI Equator 6 2021 di Jogja Nasional Museum, Jogja, Jumat (8/10/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
09 Oktober 2021 09:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 33 karya terpampang dalam Biennale Jogja XVI Equator #6 2021. Biennale Jogja dengan tema Indonesia with Oceania bekerja sama dengan National Culture and Art Foundation untuk menghadirkan bilik Taiwan serta ASEAN Foundation untuk menghadirkan seniman-seniman dari Korea dan ASEAN.

Direktur Yayasan Biennale Jogja Alia Swastika mengatakan gelaran kali ini merupakan penutup dari seri Katulistiwa putaran pertama. Penyelenggaraan yang juga menandai umur Biennale Jogja di usia satu dekade ini ingin memperlihatkan apabila Indonesia dan kawasan Oceania merupakan wilayah yang dekat secara geografis, namun praktik geopolitik membuatnya terasa asing.

“Kami membaca sejarah Oceania untuk mengenali kembali identitas Indonesia yang dibayangkan sebagai melting pot, titik temu dari berbagai etnis, ras, dan kebudayaan,” kata Alia, Jumat (8/10/2021).

“Oceania menjadi ruang kontestasi identitas yang menarik komunitas-komunitas yang tinggal bersama, untuk menyaksikan pergeseran sejarah dan kemudian menuliskan ulang sejarah mereka sendiri dalam pusaran politik lokal, paska kolonial, dan pergaulan global.”

Tema Indonesia dan Oceania sebenarnya sudah terpikir sejak satu dasawarsa yang lalu. Menurut Direktur Biennale Jogja XVI Equator #6 2021, Gintani Nur Apresia Swastika, konteks Oceania merupakan wilayah Kepulauan Indonesia Timur hingga Hawaii. Namun lantaran minimnya pengetahuan tentang Oceania membuat tema ini belum terlaksana kala itu. Alhasil, tema Oceania ‘tersalip’ oleh tema tentang India serta ASEAN.

Baru pada tahun ini, beberapa tim periset mengunjungi tempat seperti Ambon, Jayapura, Maumere, dan Kupang.

“Di Ambon, Maluku, Elia Nurvista [salah satu kurator Biennale Jogja] mencoba mengingat kembali perjumpaan awal kolonialisme di wilayah Kepulauan Indonesia bagian Timur. Dalam rentang ratusan tahun, kolonialisme mewariskan percampuran budaya, modernisasi, agama, hingga serapan Bahasa yang masih dapat dijejak di sepanjang jazirah Kepulauan Maluku hingga saat ini,” kata Gintani.

Penyelenggaraan Biennale Jogja di masa pandemi tahun ini membuat beberapa penyesuaian. Salah satunya terkait mobilitas karya dan seniman antar negara. Terdapat seleksi ketat. Begitupun dari sisi pengunjung, apabila dahulu bisa menarik ratusan bahkan ribuan pengunjung, maka pada gelaran tahun ini terdapat pembatasan.

Salah satu solusi agar pengunjung bisa tetap menikmati Biennale Jogja, penyelenggaraan terdiri secara daring dan luring. Tempat pameran juga tersebar di empat tempat yaitu Jogja Nasional Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Museum dan Tanah Liat, serta Indie Art House. Masyarakat bisa memesan tiket secara online melalui website biennalejogja.org selama penyelenggaraan dari 6 Oktober sampai 14 November 2021.

Salah satu pengunjung, Wawan, 28, merasa tertarik dengan tema yang diangkat. “Bienalle Jogja tahun ini keren, tema yang diangkat juga menarik soal Indonesia Timur dan Oceania. Terutama yang Indonesia Timur ya, banyak karya seni yang menggambarkan bagaimana kondisi teman-teman kita di sana, bagaimana perjuangan mereka, dan lainnya,” kata Wawan. “Harapannya tahun depan tetap berlangsung dan temannya juga bisa lebih dikembangkan lagi.”