Lahan Bekas Pembuangan Sampah di Jogja Dijadikan Kebun Bersama

Warga Pugeran, Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Jogja merawat kebun di lahan bekas tempat pembuangan sampah belum lama ini. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
09 Oktober 2021 18:57 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah warga membuat kebun bersama di tengah kota mungkin sudah biasa. Namun, apa jadinya jika kebun tersebut berasal dari bekas lahan pembuangan sampah? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Lajeng Padmaratri.

"Saya dulu sempat punya mimpi. Sepertinya enak punya rumah dekat sungai, punya kolam, bisa bercocok-tanam," ucap pria paruh baya dengan topi rimba warna hitam yang ia kenakan untuk melindungi diri dari paparan sinar Matahari.

Pria itu bernama Muhammad Fathoni. Raut matanya berbinar karena pada akhirnya mimpinya itu terwujud.

Keranjang dan gunting sudah di tangan. Ia siap panen terong ungu sore itu. Sehabis panen terong, ia mengambil pelet lele dan menebarnya ke kolam berukuran kurang lebih 6x6 meter.

Walau begitu, kebun terong dan kolam lele itu bukan miliknya. Lahan pertanian itu milik warga Kampung Pugeran RT 6 RW 2, Kelurahan Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja. Ia dan puluhan warga Pugeran mengelolanya dalam Kelompok Tani Ngudi Mulyo.

"Ternyata jawaban Tuhan itu lewat kebun bersama ini. Saya enggak punya lahan di rumah atau dekat sungai, tapi bisa terwujud untuk bercocok tanam dan punya kolam ikan," ujar Fathoni yang merupakan Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo.

Selain Fathoni, sejumlah warga Pugeran sudah tiba di kebun lebih dulu sore itu. Ada yang menyiram tanaman, ada yang memberi makan ikan, ada pula yang tengah bersantai di gubuk.

Sejumlah tanaman ditanam di sana, mulai dari tanaman penghasil karbohidrat, tanaman sayur, buah-buahan, serta tanaman obat keluarga. Di samping itu, kolam ikan itu tak hanya berisi lele, melainkan juga patin, nila, bahkan gurameh.

Menariknya, lahan pertanian itu dibangun di atas bekas lahan pembuangan sampah. Sejak dulu, sepetak lahan di ujung persimpangan jalan itu dibiarkan kosong oleh pemiliknya. Beberapa tahun lalu, warga setempat kemudian menggunakannya sebagai lahan pembuangan sampah atas seizin pemilik.

Sayangnya, banyak warga yang melintas di kampung tersebut turut serta membuang sampah mereka ke lahan tersebut. Lama-kelamaan, warga sekitar terganggu dengan bau dan pemandangan sampah yang tidak sedap. Warga memutuskan menutup dan membersihkannya.

Begitu dibersihkan, rupanya lahan tersebut tampak gersang sekali, apalagi ditambah cuaca Kota Jogja yang panas. Ia bersama warga mulai menanami lahan tersebut dengan berbagai tanaman.

Sejak itu, warga setempat bersepakat mendirikan Kelompok Tani Ngudi Mulyo pada 2019. Berbagai tanaman coba ditanam oleh warga, meski pada dasarnya mereka tak punya pengalaman bercocok tanam.

Sisa Limbah

 

Warga Pugeran menjadikan Taman Ngudi Mulyo sebagai sarana belajar bersama warga. Fathoni beranggapan tidak masalah jika mereka tidak pernah punya pengalaman berkebun, satu sama lain akan tetap mencoba berkebun bersama dan saling menjaga tanaman satu sama lain.

"Pernah kami ingin menanami lahan ini seluruhnya dengan pepaya supaya buahnya bisa diolah ibu-ibu, sayangnya ketika sudah berbuah, tanamannya kering dan mati," ujarnya.

Menurut Fathoni, tanah di kebun itu memang bukan merupakan tanah yang subur lantaran masih ada sisa limbah yang terkubur. Akhirnya mereka menciptakan solusi dengan memasukkan tanaman pada polybag dan membuat sejumlah bedengan.

Setiap hari, Fathoni dan anggota kelompok pun bergiliran datang ke kebun untuk menyiram tanaman-tanaman yang mereka rawat. Teriknya cuaca Kota Jogja membuat tanaman langsung kering jika tidak disiram. "Ke depan kami ingin kembangkan hidroponik karena dirasa lebih cocok di lahan perkotaan seperti ini," ujarnya.

Meski kebun tersebut belum bisa menghasilkan keuntungan materiel bagi anggota, Fathoni terus mengupayakan agar warga setempat bisa menikmati manfaat dari Taman Ngudi Mulyo. Jika ada panen dari kebun, panennya akan dibagikan kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Melalui kebun di tengah kota tersebut, ia ingin anak-anak sekolah di sekitar kebun bisa memanfaatkannya sebagai sarana edukasi. Mereka bisa belajar menanam, menyemai benih, hingga panen sayur dan buah.

Walau demikian, cita-cita itu belum tewujud lantaran pandemi membuat kegiatan sosial dibatasi. Sejauh ini, warga Pugeran pun sebatas merawat kebun mereka agar tetap bisa produktif.