Simulasi Sistem Sugeng Rawuh, Masih Banyak Pengunjung yang Menolak

Petugas sistem Sugeng Rawuh meminta pengunjung masuk ke sistem pembatasan durasi berkunjung di kawasan Malioboro, Minggu (14/11). Harian Jogja - Sirojul Khafid.
15 November 2021 07:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, DANUREJAN --Pemerintah Kota Jogja melalui Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (UPT PKCB) Jogja melakukan simulasi hari pertama sistem Sugeng Rawuh di kawasan Malioboro. Sistem ini merupakan upaya membatasi durasi kunjungan wisatawan di kawasan Malioboro selama dua jam. Apabila telah masuk ke sistem, pengunjung akan mendapat pesan melalui aplikasi WhatsApp untuk mengingatkan waktu kunjungan.

Dalam pantauan, terlihat beberapa petugas Sugeng Rawuh berada di beberapa titik masuk Malioboro. Sekitar pukul 17.42 WIB, sudah ada 319 orang yang masuk sistem ini. Menurut salah satu petugas Sugeng Rawuh di Jalan Suryatmajan, Heriyanto, simulasi berlangsung sampai akhir November 2021. Nantinya akan ada evaluasi.

"Total ada sekitar 40 petugas yang berjaga di kawasan Malioboro. Kami berjaga dan meminta pengunjung masuk sistem Sugeng Rawuh dari pukul 15.00 sampai 22.00 WIB," kata Heriyanto.

Simulasi pendataan sistem Sugeng Rawuh ini juga sebagai upaya mempersiapkan libur Natal dan Tahun Baru. Pada masa simulasi, pengunjung bisa memasuki sistem Sugeng Rawuh dengan dua cara. Pertama scan QR Code kemudian mengisi sendiri nomor ponsel. Kedua mencantumkan nomor di ponsel petugas. Setelah itu ada pesan masuk yang berisi imbauan penerapan prokes 5M dan batas kunjungan di Malioboro selama dua jam. Sehingga pengunjung tidak perlu mengunduh aplikasi Sugeng Rawuh.

Namun dari banyaknya pengunjung, terlihat petugas tidak bisa menjangkau semua orang. "Kalau ramai kaya gini, kami terkendala sedikitnya petugas. Tidak semua bisa kami arahkan masuk ke sistem," kata Hariyanto.

Petugas Sugeng Rawuh lain, Marjuki mengatakan masih banyak pengunjung yang tidak bisa atau mau memasuki sistem. Kadang kendala ponsel yang tiba-tiba lemot, atau memang pengunjung yang tidak mau.

"Dari 100 persen pengunjung yang saya minta masuk sistem, baru sekitar 20 persen yang mau. Banyak yang bilang sedang buru-buru. Tapi kami tidak memaksa, untuk masa simulasi ini. Kami hanya coba mengajak untuk kepentingan bersama," kata Marjuki.

Sejauh simulasi ini, petugas masih membiarkan masyarakat yang yang tidak mau masuk sistem Sugeng Rawuh. "Mungkin setelah simulasi selesai, ada evaluasi lagi terkait ini," kata Marjuki.

Marjuki dan Hariyanto berharap pengunjung Malioboro untuk bisa kooperatif terkait sistem Sugeng Rawuh. Ini untuk kebaikan bersama, agar seluruh warga yang ada di Malioboro, baik pekerja maupun pengunjung sama-sama sehat. Malioboro pada Minggu (14/11) sore terpantau cukup padat. Kedua area pedestrian dipadati pengunjung. Masih terlihat beberapa pengunjung dan pedagang yang tidak memakai masker. Adapula yang memakai masker namun diturunkan didagu.

Salah satu pengunjung, Novita, 27, datang ke Malioboro untuk mengantar teman luar kotanya jalan-jalan. "Biasa aja [enggak menggangu], cepet juga [sistemnya]," kata Novita terkait sistem Sugeng Rawuh.