Demi Pengetahuan dan Lingkungan, Dosen UGM Berkali-kali Digigit Ular

Donan saat berada di SM Paliyan, Gunungkidul, beberapa waktu lalu - Ist/Dok Donan Satria Yudha
19 November 2021 20:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Salah satu Dosen UGM, Donan Satria Yudha, diganjar penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Herpetolog UGM ini dianggap berjasa atas identifikasi satwa vertebrata dan upaya konservasi lingkungan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Donan Satria Yudha baru saja melepas tiga jahitan di tangan akibat gigitan ular piton. Bukannya bisa lebih tenang dalam proses penyembuhan, tangan Donan kembali dihiasi gigitan ular berjenis Viper.

Berbeda dengan piton yang tidak berbisa, bisa ular Viper menyebabkan tangannya membengkak sebesar paha kaki. Sialnya, serum antibisa ular berjenis asli Indonesia ini hanya tersedia di Thailand.

Untuk mengobati bengkak, ia harus mengimpor obat seharga Rp8 juta untuk satu ampul serum. Dari proses penyembuhan gigitan ular viper (bandotan pohon), Donan beserta dokter Tri Maharani, lantas membuat serum antibisa ular.

Tri Maharani adalah satu-satunya dokter spesialis toksikologi ular berbisa di Indonesia. Dari banyak jenis ular di Indonesia, baru ada tiga serum antibisa ular yang tersedia.

Dampak dari gigitan ular memang masuk penyakit yang luput diperhatikan di Indonesia. Padahal tingkat kematian akibat gigitan ular di Indonesia selama kurun 2020 hingga awal 2021 mencapai 10%.

Pada 2017, gigitan ular menewaskan 35 orang di Indonesia, meningkat pada 2018 menjadi 47 jiwa, dan pada 2019 kembali bertambah menjadi 54 jiwa.

Padahal, Indonesia memiliki spesies ular sangat besar, mencapai sekitar 350 spesies. Itu semua angka kasar dan tidak akurat betul.

Sebab, Indonesia tidak punya laporan epidemiologi nasional yang tersedia untuk kasus gigitan ular. Data kasus gigitan ular selama ini hanya dari laporan rumah sakit. Itulah sebabnya dalam kurun lima tahun pada 2004-2009 hanya tercatat 42 kasus gigitan ular yang diobati di Indonesia.

Untuk selebihnya, hanya orang yang digigit, teman-temannya, keluarganya, kerabatnya, dan Tuhan yang tahu.

Dua gigitan ular yang menimpa Donan itu terjadi dalam satu pekan. Jangan tanya berapa kali Donan digigit ular di waktu-waktu sebelumnya. Sebagai orang yang berkegiatan di area konservasi satwa vertebrata, bertemu reptilia atau amfibi sudah menjadi kegiatan sehari-harinya.

Walau gigitan ular mungkin bisa membunuh Donan, pria itu sama sekali tak pernah dendam dan balas menyakiti ular.

“Kalau ular berbisa cuma dibunuh, keseimbangan ekosistem bisa berubah, tikus jadi lebih banyak,” kata dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ini, Rabu (17/11/2021).

Sejak menjadi dosen tetap pada 2021, Donan aktif membantu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogja untuk mengidentifikasi satwa liar vertebrata. Ada tiga tempat yang menjadi ruang lingkup yaitu Suaka Margasatwa (SM) Paliyan, SM Sermo, dan Cagar Alam Imogiri.

Pada 2012, BKSDA Jogja belum mempunyai data persebaran amfibi dan reptilia di kawasannya. Badan itu baru punya data jenis serangga dan lainnya. “Sehingga saya yang bikin untuk amfibi dan reptilia, soft file peta, dan titik persebarannya.Begitu pula penyu yang di-update tiap tahun di pantai-pantai selatan di DIY,” kata Donan.

Dalam satu tempat, waktu identifikasi bisa berjalan empat hari sampai satu pekan. Pekerjaan biasanya dilakukan pada malam hari, sebab kebanyakan reptilia dan amfibi binatang nokturnal lebih aktif di malam hari.

Donan mengambil beberapa sampel reptilia atau amfibi. Ia kemudian memotret dan mengidentifikasikan di sekitar wilayah observasi. Lantaran hewan tersebut berada di wilayah konservasi, identifikasi tidak boleh keluar dari area tersebut.

BACA JUGA: KPK Panggil Karyawan Swasta untuk Penyedikan Kasus Azis Syamsuddin

Setelah proses selesai, hewan dikembalikan lagi ke tempat asal. Sejak 2012, sudah ada lebih dari 23 jenis amfibi dan 50 jenis reptilia yang teridentifikasi.

"Ada spesies baru di SM Paliyan, namanya cicak jari lengkung atau cicak batu," kata pria kelahiran Jogja 41 tahun lalu ini.

"Mungkin ada lagi potensi hewan langka di tiga tempat itu, tetapi belum ditemukan. Kami rutin sampling setiap tahunnya."
Selain identifikasi, Donan juga aktif dalam upaya konservasi.

Termasuk terlibat dalam membina anggota komunitas yang aktif dalam konservasi satwa dan lingkungan di DIY. Selain itu, ada pula pembinaan kampung ramah satwa di Moyudan, Sleman.

Di sana, masyarakat mendapat edukasi memelihara satwa bersertifikat dengan baik. Anak-anak juga bisa mengenal satwa-satwa ini sebagai ajang pembelajaran.

Atas jasanya dalam identifikasi satwa liar vertebrata dan aktif melakukan kegiatan di bidang konservasi sejak 2012, pada 15 September 2021 Donan mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Habitat Tergusur

Pembangunan yang masif di DIY, termasuk permukiman warga, sedikit banyak telah mengurangi habibat satwa vertebrata. Maka tidak heran apabila jenis hewan yang dahulu bisa dijumpai, sekarang sudah tidak pernah terlihat.

Tidak hanya permukiman, pembangunan talut dan jalur pedestrian di samping sungai juga berdampak buruk pada habibat satwa. Padahal, meskipun tidak membangun talut, tanah dan akar pohon secara alami sudah cukup mampu menahan erosi.

"Akar dan tumbuhan merupakan sarang biawak, bulus, dan lainnya. Kalau semua ditalut, mereka akan tinggal di mana? Mereka tidak punya habitat lagi. Jadi jangan salahkan apabila hewan-hewan ini banyak yang masuk ke permukiman warga untuk mencari makan," kata Donan.

Dalam kacamata Donan, anggapan umum bahwa ular, biawak, atau lainnya yang masuk permukiman itu mengganggu warga tidaklah tepat. Justru manusia lah yang lebih dahulu mengganggu habitat mereka.

“Kadang judul di media masa menuliskan ular meneror manusia, padahal manusia yang meneror duluan. Kata teror itu aktif, tapi ular enggak punya tendensi meneror manusia, hanya ingin cari makan atau bersembunyi dari hujan saat rumah tinggalnya sudah enggak ada,” kata Donan.

Masyarakat punya peran menjaga habitat satwa, termasuk di lingkungan rumah. Di setiap kampung, bisa disediakan satu lahan yang dibiarkan menjadi habitat hewan. Apabila manusia memerlukan taman, satwa juga demikian. Meski taman satwa tidak perlu rapi apalagi terdapat wahana permainan.

Cukup lahan semak belukar tetapi masih asri, tanpa dicor dipasangi corblok dan sejenisnya. Untuk penghalang agar satwa tidak memasuki permukiman, bisa dibuat sungai atau aliran air.

“Buat pagar berupa sungai, mereka susah menyeberang. Meski ada ular yang bisa menyeberangi sungai, setidaknya [kanal air] menghambat,” kata Donan.

Meski banyak lahan habitat satwa menjadi permukiman, kadar hilangnya habitat satwa di DIY masih bisa ditoleransi, atau belum sampai tahap kritis. Terlebih masih ada beberapa lahan konservasi. Kabar baiknya lagi, semakin banyak orang kini terlibat dalam aktivitas konservasi. Bahkan dari latar belakang yang bukan biologi atau lingkungan. “Banyak tumbuh komunitas pencinta satwa, peduli lingkungan, dan lainnya,” katanya. (Sirojul@harianjogja.com)