Kulonprogo Serius Atasi Banjir di Wilayah Selatan

Banjir di Dusun Ngipik, Bumirejo, Lendah, Kulonprogo, akibat luapan drainase Wonokasih-Kengkeng dari hujan deras sejak Rabu (4/3/2020) sore hingga Kamis (5/3/2020) pagi. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
01 Desember 2021 08:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONOPROGO—Banjir yang kerap terjadi di wilayah Kulonprogo selatan menjadi sorotan Pemkab Kulonprogo. Upaya peninggian tanggul, pembersihan drainase, dan pengerukan endapan terus dilakukan di sejumlah sungai sungai di wilayah selatan Kulonprogo. Upaya tersebut diklaim mampu mengurangi durasi genangan yang terjadi saat hujan deras tiba.

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan program pengendalian banjir di Pulau Jawa bagian selatan sudah dilakukan sejak zaman Orde Baru. "Termasuk di wilayah Kulonprogo. Drainase menjadi sasaran proyek supaya aliran air bisa cepat dan tidak menimbulkan genangan. Di Kulonprogo, banjirnya genangan bukan air deras. Setiap tahun ada proyek peninggian tanggul, pembersihan drainase, dan pengerukan endapan," kata Sutedjo, Selasa (30/11/2021).

BACA JUGA: Timnya Jalani Laga Hidup Mati di Liga 2, Atta Halilintar Tak Bisa Tidur

Menurut Sutedjo, upaya yang dilakukan belum sepenuhnya mampu mengatasi banjir yang terjadi, khususnya di Kapanewon Temon. Meski demikian, durasi genangan banjir diklaim sudah berkurang jika dibandingkan sebelum dilakukannya pembersihan drainase. "Dulu saat banjir terjadi seminggu atau 10 hari baru surut. Sekarang maksimal dua hari sudah surut. Kami menilai proyek pengendalian banjir Jawa Selatan sudah memberi manfaat meskipun belum mampu menihilkan banjir," kata Sutedjo.

Hujan deras di Kulonprogo imbas dari fenomena La Nina yang diprediksi bakal terjadi hingga akhir tahun membuat masyarakat perlu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, Sutedjo meminta warga yang tinggal di wilayah rawan bencana untuk beradaptasi dengan alam.

Pemkab Kulonprogo menerbitkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi mengatakan bencana tanah longsor yang terjadi di Kapanewon Girimulyo, Samigaluh, dan Kokap menjadi dasar menetapan status tanggap darurat di Bumi Binangun.  Joko mengatakan status tanggap darurat ini berimplikasi terhadap fleksibilitas penggunaan belanja tidak terduga (BTT) tahun anggaran 2021 oleh BPBD Kulonprogo.

Sampai saat ini, potensi bencana hidrometeorologi di Kulonprogo masih tinggi. Oleh karena itu, BPBD memerlukan upaya penanganan yang cepat, khususnya saat terjadi bencana, termasuk dalam mengakses dana BTT. "Dengan status ini, langkah yang harus kami ambil saat terjadi bencana bisa dilakukan secara cepat," kata Joko.