Arsitek Diminta Bawa Isu Perubahan Iklim dalam Mendesain Bangunan

Ilustrasi perubahan iklim. - JIBI
25 Desember 2021 20:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Profesi arsitek memiliki peran penting terhadap penataan pola keruangan suatu kota yang berkelanjutan. Demi kelestarian lingkungan, maka sudah seharusnya arsitek menjadikan isu perubahan iklim sebagai pertimbangan dalam setiap karya desain yang dirancang.

Rektor UII Profesor Fathul Wahid mengatakan di era saat ini seorang arsitek memiliki peran penting terhadap isu perubahan iklim. Setiap karya desain yang dirancang harus ramah lingkungan seiring dengan kesadaran publik terhadap isu lingkungan terus meningkat.

Di sisi lain, arsitek harus patuh dengan kode etik serta berbagai ketentuan organisasi profesi. Hal ini memang kadang berat namun harus dilakukan demi menjaga lingkungan. Fathul menyorot kebiasaan seseorang yang berani berkampanye menjaga lingkungan di publik namun di tempat lain yang tersembunyi justru membuat kerusakan.

BACA JUGA: Ganjar Pranowo: Yahya Cholil Bakal Beri Energi Baru bagi NU

“Kesadaran publik terhadap kelestarian lingkungan meningkat, pemanfaatan bahan lokal perlu menjadi contoh. Perubahan ini bisa memberikan tekanan pada desainer untuk direspons, agar menghasilkan kesadaran kolektif terkait perubahan iklim yang dimitigasi untuk menjamin masa depan manusia. Arsitek yang sadar, akan menjadikan ini sebagai pertimbangan nilai penting yang disuntikkan ketika membuat desain bangunan," kata Fathul dalam Wisuda Profesi & Janji Arsitek yang dipantau melalui Kanal Youtube, Sabtu (25/12/2021).

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Gregorius Budi Yulianto secara daring menyatakan tingginya kebutuhan SDM arsitek. Berdasarkan data 2020 rasio perbandingan arsitek Indonesia di angka 1 : 85.000 atau hanya ada 1 arsitek di setiap 85.000 penduduk. Data ini tertinggal jauh dibandingkan China yang telah mencapai 1:40.000. Sehingga keberadaan prodi profesi Arsitek menjadi penting untuk menghasilkan SDM ke depan.

"Indonesia berada di urutan nomor 5 dan Asean di urutan pertama dengan pasar infrastruktur terbesar. Sehingga para arsitek muda harus dipersiapkan dengan kompetensi setara internasional agar tidak menjadi penonton di negara sendiri," katanya.

Ketua Jurusan Arsitek UII Profesor Noor Idham Cholid menyatakan wisuda profesi itu meluluskan 34 orang dengan IPK rata-rata 3,8. Ia menambahkan selain berkaitan dengan isu lingkungan, arsitek juga menghadapi tantangan dengan berkembangnya dunia konstruksi. "Maka kami mendorong perubahan Kurikulum K13 menuju K20 untuk perbaikan berkelanjutan," ujarnya.