Advertisement

Sederet Fakta Seputar Jadah Tempe Mbah Carik, Sempat Terpuruk

Bernadheta Dian Saraswati
Rabu, 12 Januari 2022 - 10:07 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Sederet Fakta Seputar Jadah Tempe Mbah Carik, Sempat Terpuruk Jadah Tempe Mbah Carik - Facebook @Jadah Tempe Mbah Carik

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN-Jadah tempe menjadi salah satu kuliner khas Jogja. Sebuah merek yaitu Jadah Tempe Mbah Carik, sukses menyita perhatian wisatawan, utamanya yang pelesiran ke area Kaliurang, Sleman, untuk membeli makanan itu sebagai buah tangan.

Mbah Sudimah Wiro Sartono atau Mbah Sudimah, adalah pewaris merek tersebut. Dunia perkulineran sungguh berduka karena pada Selasa (11/1/2022) petang kemarin, Mbah Sudimah yang juga bergelar Mbah Carik, menghembuskan nafas terakhirnya di usia 92 tahun.

Banyak kisah perjalanan yang sudah dialami bisnis kuliner keluarga ini. Berikut ini sederet fakta yang berhasil dirangkum Harianjogja.com dari berbagai sumber seputar bisnis Jadah Tempe Mbah Carik:

1. Berdiri 1950an

Jadah Tempe Mbah Carik merupakan kuliner keluarga yang berdiri sejak 1950an. Pendirinya adalah Sastro Dinomo, salah seorang carik di Kaliurang. Sepeninggal Sastro Dinomo, usaha ini diteruskan oleh mbah Sudimah Wiro Sartono yang juga bergelar Mbah Carik. Usaha ini terus berkembang hingga saat ini.

2.Diberi Nama Sultan

Konon, gelar Mbah Carik yang disematkan kepada Sastro Dinomo, diberikan oleh Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Jogja kala itu.

3. Terkenal Berkat Sultan

Jadah tempe awalnya adalah makanan orang desa. Namun makanan dari ketan dan tempe ini menjadi terkenal setelah Sri Sultan HB IX mencicipinya.

Baca juga: Sejarah Jadah Tempe Mbah Carik, Legenda Kuliner Jogja Kegemaran Sultan

Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Sleman, Sri Sultan HB IX sangat menyukainya. Sultan sering mengutus pengawalnya untuk membeli jadah tempe ke Kaliurang.

4. Generasi Keempat

Kuliner melegenda Jadah Tempe Mbah Carik masih menjadi favorit masyarakat hingga kini. Meski termasuk kuliner tradisional, cucu Mbah Carik yang termasuk golongan milenial, tertarik untuk mengembangkan usaha neneknya itu.

Angga Kusuma Arybowo merupakan generasi keempat yang menjalankan bisnis kuliner keluarga ini. Ia lebih menyasar kalangan milenial untuk memasyarakatkan panganan legendaris itu.

Advertisement

5. Sempat Terpuruk saat Pandemi

Pandemi Covid-19 turut membanting usaha Jadah Tempe Mbah Carik. Sejak dulu, panganan gurih manis ini biasa dihidangkan di tempat sehingga Mbah Carik hanya mengandalkan penjualan secara offline yakni konsumen datang ke warung.

Namun ketika ada pandemi Covid-19 dan pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, pengunjung sepi. Omzet penjualan anjlok. Sejumlah karyawan dirumahkan karena tidak ada lagi pemasukan.

6. Beralih ke Online

Angga, cucu Mbah Carik mulai putar otak agar dagangannya kembali laku. Ia kemudian menjalin jejaring dengan creative agency di Jogja. Angga mendaftarkan produk Jadah Tempe Mbah Carik sebagai mitra TUKONI, wadah bagi UMKM yang sedang berjuang menyelamatkan usaha dari pandemi. Misinya hanya ingin menyelamatkan karyawan dan tetap melestarikan panganan tradisional ini.

Advertisement

Dari TUKONI, jadah tempe bisa dijual kembali dengan cara lain, yakni online. Cara ini juga untuk mengobati rasa kangen pelanggan yang tidak bisa ke Jogja karena pandemi. Selain pemasukan menjadi bertambah, jualan melalui online juga menambah pelanggan Jadah Tempe Mbah Carik. Karyawan yang sempat dirumahkan akhirnya dipekerjakan kembali, bahkan merekrut tambahan karyawan lagi.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Indonesia Ternyata Produsen Sarang Burung Walet Terbesar di Dunia

News
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 18:47 WIB

Advertisement

alt

3 Rekomendasi Glamcamp Seru di Jogja

Wisata
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement