Advertisement

Duh...Produksi Ikan di Bantul Jauh dari Kebutuhan, Ini Datanya

Ujang Hasanudin
Kamis, 31 Maret 2022 - 20:57 WIB
Bhekti Suryani
Duh...Produksi Ikan di Bantul Jauh dari Kebutuhan, Ini Datanya Ikan lele - Ikanku17.blogspot

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL-Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) menyebut produksi ikan baik ikan tangkap laut maupun ikan hasil budi daya air tawar masih jauh dari kebutuhan konsumsi masyarakat di Bantul.

Sekretaris DKP Bantul, Istriyani mengatakan saat ini konsumsi ikan di Bantul mencapai 31,5 kilogram per kapita per tahun. Dengan asumsi penduduk Bantul sekitar satu juta orang, maka kebutuhan konsumsi ikan di Bantul seharusnya mencapai 31,500 ton dalam setahun. Namun produksi ikan sekarang baru mencapai 13,500 ton per tahun.

“Masih jauh, bahkan belum ada separuhnya dari kebutuhan konsumsi. Ini sebenarnya peluang untuk usaha ikan,” kat Istriyani, seusai acara Pengukuhan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Masa Bakti 2022-2025 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Bantul, Kamis (31/3/2022).

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Karena masih kurangnya produksi ikan dari tingkat konsumsi, kata Istriyani, maka tidak heran pasokan ikan di Bantul sebagian besar didatangkan dari luar Bantul, baik ikan hasil budi daya air tawar maupun ikan laut yang biasanya dinikmati para wisatawan di sekitar pantai.

Berbagai upaya untuk meningkatkan produksi ikan terus dilakukan DKP, di antaranya dengan memperbanyak pembudi daya ikan air tawar, dan menambah kapasitas dan luasan kolam pembudi daya ikan, dan peningkatan tebar benih ikan dengan berbagai teknologi.

Selain itu pihaknya terus berupaya mengubah budaya nelayan di Bantul. Menurut dia, sebagian besar atau hampir semua nelayan di Bantul biasanya berangkat melaut pagi hari dan sore hari pulang dengan menggunakan perahu jukung dengan mesin tempel. Bahkan kapal besar milik Bantul yang ada di Pantai Sadeng Gunungkidul juga digunakan oleh warga luar Bantul, karena warga luar Bantul biasa melaut 7-10 hari.

BACA JUGA: 4 Hal Cuma Ada di Jogja, Tidak Akan Kamu Temukan di Daerah Lain

“Ini yang berat adalah merubah budaya nelayan kita. Budaya nelayan kita meninggalkan keluarga berhari-hari untuk melaut masih berat,” ucap Istriyani.

Konsumsi Rendah

Advertisement

Lebih lanjut Istriyani mengatakan meski produksi ikan di Bantul pada 2021 sebesar 30,53 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut lebih rendah dari angka nasional 55,57 kilogram per kapita per tahun. Tahun ini pihaknya menargetkan tingkat konsumsi ikan naik menjadi 31,5 kilogram per kapita per tahun. Sementara target nasional 59,35 kilogram per kapita per tahun.

Untuk meningkatkan konsumsi ikan, pihaknya membentuk Forikan yang anggotanya 45 personel terdiri dari unsur kedinasan di lingkungan Pemkab Bantl, UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tim Penggerak PKK, penyuluh perikanan, dan pelaku usaha perikanan.

“Forkan dibentuk untuk memperkuat koordinasi, keterpaduan langkah, dan tindakan dari seluruh instansi, dan stakeholder terkait baik tingkat pusat maupun daerah sekaligus berperan sebagai inspirator, kreator, motivator, dan aktivator pada gerakan memasyarakatkan makan ikan. Forikan diharapkan berkontribusi adapeningkatan konsumsi ikan,” kata Istriyani.

Advertisement

Sekretaris Forikan DIY, Asiantini mengatakan sebenarnya tingkat konsumsi ikan dari tahun ke tahun ada peningkatan meski belum maksimal. Pada 2011 lalu tingkat konsumsi ikan di DIY masih di angka 11 kilogram per kapita pertahun, saat ini sudah di angka 32 kilogram per kapita per tahun. Meski demikian masih jauh dari angka nasional.

“Bahkan kita selalu rangkin ke satu dari bawah artinya rangking terakhir dari semua provinsi di Indonesia. Dulu ketika jumlah provinsi masih 33 daerah, kita rangking ke 33. Sekarang ada 34 provinsi kita rangking ke-34 [tingkat konsumsi ikan]. Padahal kita mempunyai laut selatan,” ucap Asiantini.

Menurut Asiantini, masih rendahnya tingkat konsumsi ikan di DIY karena terkait budaya sejak nenek moyang dulu yang jarang makan ikan. Melainkan lebih sering makan dengan tahu tempe, telor, sampai ayam, “Adanya forikan membantu pemerintah membiasakan mengubah kebiasaan dari tak makan ikan jadi makan ikan, gerakan memasyarakat makan ikan,” katanya. Forum tersebut harus bekerjasama dengan berbagai pihak mulai dari produsen ikan, pengolah ikan, pembudi daya ikan, pabrik ikan, dan para ahli gizi.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kantor Tesla di Jerman Kebakaran selama 5 Jam

News
| Jum'at, 30 September 2022, 07:47 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement