Dikukuhkan Guru Besar, Eks Ketua KY Usul Model Penyelesaian HAM Berat
Guru Besar UII Suparman Marzuki menawarkan transformasi berbasis memori untuk penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Siswa SMK memperagakan hasil karya busana dalam pameran Skafourta di Benteng Vredeburg, Jumat (3/6/2022). /Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA--Disdikpora DIY melakukan berbagai upaya untuk mencegah lulusan SMK di DIY menambah angka pengangguran. Semua SMK didorong untuk memberikan ruang kepada siswa agar produknya bisa dikenal publik.
Wakil Kepala Disdikpora DIY Suhirman menjelaskan jawatannya terus mendorong agar SMK menggelar karya seni dan produk siswa melalui pameran. Karena melalui gelaran tersebut sekaligus menjadi ukuran apakah produk buatan siswa diterima publik atau tidak. Jika belum maka akan dilakukan evaluasi untuk perbaikan produk. Karena dengan menampilkan karya di publik maka siswa akan termotivasi untuk bersaing dan memunculkan jiwa wirausaha.
BACA JUGA: Ada 2 Kepala Dinas, Ini Daftar 10 Orang yang Ditangkap KPK Terkait Kasus Suap di Jogja
"Kami mendorong semua SMK memberikan ruang kepada siswanya untuk menggelar produk seperti pameran. Kami ingin tegaskan bahwa jangan sampai lulusan SMK di DIY menyumbang angka pengangguran tetapi justru bisa menambah lapangan kerja baru," katanya di sela-sela meninjau pameran produk SMK di Benteng Vredeburg, Jumat (3/6/2022).
Ia memastikan semua SMK DIY bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri melalui kolaborasi kurikulum. Melalui cara itu para siswa memiliki kompetensi setara dengan dunia usaha. Mereka tidak saja bekerja di suatu perusahaan, namun juga bisa berwirausaha melalui kemampuan yang didapatkan selama di SMK.
"Kami melakukan banyak cara untuk mencegah agar lulusan SMK di DIY ini tidak menyumbang angka pengangguran," ucapnya.
Kepala SMK Negeri 4 Jogja Setyo Budi Sungkowo mengatakan keterserapan lulusan di sekolahnya mencapai angka di atas 60% dari total lulusan setiap tahun. Adapun daftar tunggu atau mencari pekerjaan tersebut rata-rata antara enam bulan hingga satu tahun.
Selain bekerja lulusan SMK banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu banyak pula yang bekerja di sektor informal maupun berwirausaha. "Saat ini sudah mulai banyak yang lulusan kami berwirausaha, ini kami upayakan untuk terus didorong, salah satunya melalui pameran. Kalau produk siswa dibeli mereka akan mendapatkan masukan dari publik," katanya.
Sebelumnya berdasarkan data terakhir pada 2019 hingga 2020 silam, hasil pemetaan lulusan SMK di DIY yang bekerja berada di angka 47% dari total hampir 28.000 lulusan setiap tahun. Sedangkan untuk lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi di angka 14%, berwirausaha sekitar 19% dan lulusan yang belum bekerja sekitar 20%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Guru Besar UII Suparman Marzuki menawarkan transformasi berbasis memori untuk penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.