WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Bupati Bantul, Abdul Halim (tiga kanan), meninjau salah satu kandang penjualan sapi di Segoroyoso, Kapanewon Pleret, Selasa (14/6/2022)-Harian Jogja/Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL-Kapanewon Pleret menjadi zona merah penyakit mulut dan kuku (PMK) setelah sebanyak 512 sapi yang dilaporkan positif PMK. Meski demikian Pemkab Bantul menginstruksikan aktivitas penjagalan tetap berjalan agar perekonomian warga tidak berhenti.
Bupati Bantul, Abdul Halim, menjelaskan Kapanewon Pleret merupakan sentra ternak di Bantul. Sebagai langkah penanganan, Pemkab Bantul sudah mengerahkan seluruh puskeswan dan dokter hewan untuk mengobati ternak yang terkonfirmasi PMK.
"Melakukan treatment, disuntik antibiotik, suntil antipiretik dan suntik vitamin. Dengan demikian upaya kami diharapkan bisa menurunkan intensitas pandemi PMK di Kabupaten Bantul," ujarnya dalam peninjauan ternak positif PMK di Kapanewon Pleret, Selasa (14/6/2022).
Di samping itu ia juga herharap pemerintah pusat segera memfasilitasi vaksin PMK yang saat ini baru dimulai lagi produksinya. Karena untuk seluruh daerah di Indonesia, Kementerian Pertanian baru memprioritaskan vaksin bagi sapi perah agar produksi susu terus berjalan.
Meski menjadi zona merah, ia meminta para penjagal di Pleret agar tetap menjalankan aktivitas penjagalan. "Karena hari ini ekonomi kita sedang pulih, kalau seluruh pemotong berhenti akan mempengaruhi pemulihan ekonomi di level bawah," ungkapnya.
BACA JUGA: Polisi Sebut 30 Sekolah di Indonesia Terafiliasi Khilafatul Muslimin
Ia memastikan daging sapi walaupun terpapar PMK tetap aman dikonsumsi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir karena tidak membahayakan kesehatan manusia. "Tidak menular ķe manusia, dia hanya membahayakan sesama binatang. Kerugian bagi peternak adalah kerugian ekonomi," ungkapnya.
Dokter Hewan Balai Besar Veteriner Wates, Indarto Sudarsono, menjelaskan sapi yang tertular susah makan karena ada luka di mulut. Maka peran peternak sangat penting dengan memberi makanan tambahan seperti kunyit, kecap dan sebagainya yang memberi tambahan protein dan antibiotik.
"Kebersihan lingkungan juga penting sekali teritama kebersihan kandang di bawah. Kalau ada kotoran sapi harus dibersihkan, di sekitar kuku dibersihkan, baru diobati. Kalau masih ada kotoran di sekitar luka, diovati nggak masuk obatnya," ungkapnya.
Untuk dikonsumsi, ia menyarankan agar masyarakat memasak daging minimal 30 menit terlebih dahulu. "Kalau sudah dimasak sudah aman. Disarankan untuk masak 30 menit itu sudah sangat aman," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Pencegahan stunting tidak hanya difokuskan pada anak, karena ibu juga harus mendapat perhatian.
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.