Advertisement

TOL JOGJA SOLO: Desain Seksi 2 Direvisi, Apa Kabar Pembebasan Lahan?

Abdul Hamied Razak
Kamis, 16 Juni 2022 - 20:37 WIB
Arief Junianto
TOL JOGJA SOLO: Desain Seksi 2 Direvisi, Apa Kabar Pembebasan Lahan? Ilustrasi spanduk protes ganti rugi jalan tol Solo-Jogja di Karanganom, Klaten. - Solopos/Ponco Suseno

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN--Pembangunan jalan tol Jogja-Solo masih difokuskan pada pembebasan lahan-lahan terdampak, khususnya di seksi 1. Sementara untuk pembebasan lahan seksi 2, prosesnya justru masih terganjal adanya finalisasi perubahan desain.

PPK Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Jogja-Solo wilayah DIY, Dian Hardiyansyah mengatakan pihaknya masih menunggu penyelesaian perubahan desain di seksi 2 yang membentang dari Maguwoharjo (Kapanewon Depok, Sleman) hingga Tirtoadi (Kapanewon Mlati, Sleman). Perubahan desain tersebut terjadi di titik perempatan Monjali yang menurun dan di Maguwoharjo.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

BACA JUGA: Penggantian Pasir Jadi Cara Muliakan Alun-Alun Utara

Dian mengaku belum mengetahui luas lahan yang dibutuhkan untuk seksi 2 setelah perubahan desain dilakukan. "Tetapi kami belum bisa berkomentar soal itu. Bukan ranah kami, karena itu ranah perencanaan. Kami fokus ke pengadaan tanah. Nanti kalau sudah final desainnya, tentu akan kami sampaikan," katanya, Kamis (16/6/2022).

Meski begitu, lanjut Dian, proses pembebasan lahan untuk seksi 2 diupayakan dilaksanakan tahun ini. "Awalnya target kami dibebaskan semuanya tahun ini. Tetapi sebagian dulu sambil menunggu desain final. Seperti yang di tengah-tengah [Monjali] itu, ada revisi desain. Kalau desain final baru tahu kebutuhan lahannya berapa," kata Dian.

Sekadar diketahui, pembangunan jalan tol Jogja Solo untuk seksi 2 ini rencananya akan dibangun secara melayang (elevated) di atas Ring Road.

Pihak Kraton meminta khusus persimpangan Monjali desain jalan tol dibangun at grade agar tidak menabrak sumbu imaginer yang membentang dari Gunung Merapi, Kraton Ngayogyakarta hingga Pantai Selatan.

BACA JUGA: Zulkifli Masuk Kabinet, Pakar: Reshuffle Dominan Mengakomodasi Kepentingan Parpol

Advertisement

Disinggung soal pertemuan koordinasi lanjutan membahas Pembangunan Jalan Tol Ruas Solo–Yogyakarta–YIA antara Kraton dan tim Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR pada akhir pekan lalu, Dian mengatakan jika pertemuan tersebut hanya membicarakan soal keamanan situs dan cagar budaya yang dilewati jalan tol.

"Hanya membicarakan soal situs dan cagar budaya. Kraton meminta untuk dihindari. Dan itu tidak ada masalah untuk Tol Jogja-Solo karena sebelumnya sudah ada kajian-kajian," katanya.

Pertemuan tersebut, lanjut Dian hanya sebagai penegasan dari pihak Kraton agar pembangunan jalan tol tidak menerabas situs dan cagar budaya. Dia menampik adanya persoalan untuk trase Jogja-Solo.

Advertisement

"Untuk seksi 3 dari Jogja ke YIA, kami masih menunggu pengajuan penetapan lokasi, masih dikaji oleh Pemda DIY sambil menunggu selesainya Dokumen Kesesuaian Penataan Ruang dari Kementerian ATR," ujarnya.

Sementara soal Kraton yang enggan menerima dana ganti kerugian Sultan Grond yang terkena pembangunan jalan tol, lanjut Dian, tidak terlalu dibahas dalam pertemuan tersebut. "Karena yang dibahas hanya soal cagar budaya. Soal Kraton tidak mau ganti rugi Sultan Grond tentu masih perlu dirapatkan dulu, bagaimana tinjauan hukumnya oleh tim pengadaan tanah?" kata dia.

Kearifan Lokal

Corporate Communication PT Jogjasolo Marga Makmur Ahmad Izzi mengatakan pertemuan pihak Kraton dengan Ditjend Bina Marga juga diikuti oleh Direktur Utama PT Jogjasolo Marga Makmur (JMM) Adrian Priohutomo dan Direktur Teknik JMM Pristi Wahyono.

Advertisement

Dalam paparannya, dia menegaskan jika pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo sangat memperhatikan kearifan lokal, bangunan bersejarah serta mempertahankan dan melestarikan situs-situs cagar budaya dan purbakala yang ada.

Sebagai informasi, salah satu contoh penyesuaian desain jalan tol yang pernah dilakukan di wilayah Jawa Tengah adalah adanya rekayasa konstruksi jalan tol yang semula at grade menjadi elevated untuk menghindari situs Yoni yang ada di Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten – Jawa Tengah.

"Nantinya hal ini juga yang akan menjadi perhatian JMM sebagai Badan Usaha Jalan Tol dalam kegiatannya di wilayah DIY, terutama kaitannya dengan sumbu-sumbu filosofis dan garis imaginer," kata Adrian.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Libur Akhir Tahun, Pelaku Wisata Magelang Didorong Bersinergi dengan UMKM

News
| Kamis, 08 Desember 2022, 01:27 WIB

Advertisement

alt

Jalan Layang Paling Membingungkan di Dunia, Perlu 10 Menit Keluar Kalau Salah Jalur

Wisata
| Rabu, 07 Desember 2022, 23:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement