Gunungkidul Dapat Rp8 Miliar, Ini Rencana Penggunaannya
Gunungkidul mendapat tambahan Rp8 miliar dari Pemerintah Pusat untuk APBD Perubahan 2026, sementara kebutuhan belanja pegawai masih menjadi perhatian.
Salah seorang anak sedang bermain ponsel di jalan alternatif Semanu-Rongkop di Dusun Mojo, Dadapayu, Semanu, Senin (27/6/2022). Di lokasi ini sering dipergunakan warga Dusun Ngalangombo untuk berkomunikasi karena akses sinyal yang mudah-Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Sejumlah daerah di Gunungkidul masih ada yang kesusahan sinyal telekomunikasi. Keluhan salah satunya disuarakan oleh warga Dusun Ngalangombo, Dadapayu, Semanu, Gunungkidul.
Lokasi dusun ini berada di perbatasan dengan wilayah Kecamatan Rongkop. Dari geografis berada di pedalaman dan lokasinya di dataran rendah yang dikelilingi puluhan bukit yang tergabung dalam gugusan karts Gunung Sewu.
Ketua RT2/RW1, Dusun Ngalangombo, Agus Triyono mengatakan, wilayahnya termasuk susah sinyal. Akibatnya akses telekomunikasi warga menjadi terbatas. “Dari berbagai operator yang ada, hanya satu yang bisa masuk, tapi sinyalnya tidak stabil. Kadang hilang, kadang muncul lagi,” kata Agus, Senin (27/6/2022).
Menurut dia, sinyal telekomunikasi tidak stabil karena kondisi wilayah berada di dataran rendah. Selain itu, wilayah Ngalangombo juga dikelilingi perbukitan dari gugusan karts Gunung Sewu. “Mungkin ini yang memberikan pengaruh sehingga sinyal komunikasi disini sulit. Hampir semua tidak ada, karena hanya ada di beberapa titik saja. Tapi, keberadannya juga tidak stabil,” katanya.
Agus mengungkapkan, mayoritas warga sudah memiliki ponsel sendiri-sendiri. Namun, untuk kelancaran dalam berkomunikasi sering berjalan sekitar lima kilometer ke jalan alternatif penghubung antara Kapanewon Semanu dan Rongkop.
BACA JUGA: Pendaki Gunung Lawu Dilarang Pakai Pakaian Bermotif Mrutu Sewu, Ini Penjelasannya
“Ya kalau tetap di sini [Ngalangombo] untuk komunikasi sulit karena sinyal hampir tidak ada. Jadi, harus ke jalan beraspal karena di sana yang ada sinyalnya, tapi memang jaraknya lumayan jauh,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua RT04/RW01 di Dusun Ngalangombo, Siswadi. Menurut dia, akses komunikasi warga sangat terbatas karena wilayahnya termasuk susah sinyal. “Kalau mau lancar harus ke jalan raya. Jaraknya lumaya sekitar lima kilometer,” katanya.
Siswadi menuturkan, sebenarnya ada satu cara untuk mempermudah telekomunikasi dengan memanfaatkan wifi yang dipasang secara paralel. Meski demikian, warga harus merogoh kocek lebih karena untuk membeli peralatan membutuhkan biaya sekitar Rp700.000. Sedangkan setiap bulannya juga masih membayar pulsa.
“Jadi tidak semua warga punya akses wifi ini. Kalau pengen mudah yak e jalan raya Semanu-Rongkop di Dusun Mojo, Dadapayu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul mendapat tambahan Rp8 miliar dari Pemerintah Pusat untuk APBD Perubahan 2026, sementara kebutuhan belanja pegawai masih menjadi perhatian.
Menkomdigi Meutya Hafid menerbitkan SE Nomor 4/2026. Operator seluler wajib melindungi sisa kuota dan memberi pilihan layanan kepada pelanggan
Banjir bandang Nepal menewaskan 616 orang, 2.301 terluka dan 2.500 masih hilang. Tim penyelamat terus mencari korban di perbatasan China
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Festival Mustika Rasa resmi dibuka di Alun-Alun Selatan Jogja, Sabtu (29/8/2026). Festival kuliner yang melibatkan ratusan UMKM lokal ini membawa pesan tentang